Headline
Pemerintah merevisi berbagai aturan untuk mempermudah investasi.
Hingga April 2024, total kewajiban pemerintah tercatat mencapai Rp10.269 triliun.
Bank Indonesia (BI) menginformasikan transaksi penjualan instrumen Term Deposit Valuta Asing Devisa Hasil Ekspor (TD Valas DHE) menunjukkan hasil menggembirakan. Berdasarkan data yang dihimpun sejak 1 Maret 2023 atau saat pertama kali aturan tersebut diberlakukan, total transaksi yang tercatat sudah mencapai US$173 juta.
"Sampai 17 Maret, total transaksi mencapai US$173 juta. Ada enam bank devisa yang sudah berpartisipasi dan sembilan eksportir termasuk dari sektor pertambangan dan perkebunan," ujar Direktur Departemen Pengelolaan Moneter BI Ramdan Denny Prakoso, di Yogyakarta, Sabtu (18/3).
Ia mengatakan penawaran suku bunga dalam instrumen TD Valas DHE sudah kompetitif. Hingga 14 Maret 2023, untuk penempatan lebih dari US$1 juta hingga kurang dari US$5 juta degnan tenor satu bulan diberikan bunga 4,68%. Adapun, tenor tiga bulan diberikan bunga 4,91%, dan tenor enam bulan 5,04%.
Baca juga: BI luncurkan Bentuk Fisik Kartu Kredit Pemerintah April 2023
Kemudian, penempatan di kisaran US$5 juta-US$10 juta diberikan bunga 4,73% untuk tenor satu bulan, 4,96% untuk tenor tiga bulan, dan 5,09% untuk tenor enam bulan. Lalu, penempatan lebih dari US$10 juta diberikan bunga 4,70% untuk tenor satu bulan, 5,01% untuk tenor tiga bulan, dan 5,14% untuk tenor enam bulan.
"Ini memang bentuknya masih sukarela, kemauan dari pihak eksportir. Namun, ke depan, BI cukup optimistis dengan selesainya masa konsolidasi dari perbankan dan eksportir, nilai transaksi deposito valas DHE akan semakin meningkat dan jumlah bank yang berpartisipasi bertambah," tandasnya. (Z-11)
Baca juga: BI Belum Ada Rencana Ubah Tarif BI Fast
Langkah tersebut bertujuan mendongkrak cadangan devisa negara. Kementerian/lembaga terkait masih melakukan pembahasan secara detil, agar aturan bisa dijalankan secara maksimal.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, hal itu akan dilakukan untuk menindaklanjuti arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Bank Indonesia telah mengeluarkan instrumen operasi valuta asing terbaru, yakni Pass On. Tujuannya, agar devisa hasil ekspor bisa bertahan lama di perbankan Indonesia.
Pinjaman dari bank luar negeri menjadi salah satu jawaban untuk menjalankan usaha karena biayanya jauh lebih murah dibandingkan bank di dalam negeri.
"Instrumen dolar di dalam negeri itu kurang menarik. Kalau kita menyimpan dolar atau deposito di bank di Indonesia, itu tidak lebih dari 1% (bunga) setahun," ujar Benny
Dalam 1/2019 tentang Devisa Hasil Ekspor dari Kegiatan Pengusahaan, Pengelolaan, dan/atau Pengolahan Sumber Daya Alam pemerintah telah memberikan insentif pajak.
Mengingat, sektor pariwisata terdampak pandemi covid-19 cukup dalam. Bahkan, ada prediksi kunjungan wisatawan internasional belum pulih hingga 2024.
Kelapa sawit merupakan komoditas yang memberikan devisa bagi negara dan memberikan dorongan besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Pelayanan kesehatan Indonesia masih membutuhkan Panduan Praktik Klinis (PPK) karena itu merupakan panduan prosedur standar dalam pelayanan dan perawatan kepada pasien
Indonesia kehilangan devisa hingga Rp170 triliun per tahun karena banyaknya masyarakat yang berobat ke luar negeri. Industri kesehatan dalam negeri semakin dituntut untuk berinovasi.
JAWA Timur memiliki 102 Desa Devisa dan menjadi yang terbanyak di Indonesia, menurut keterangan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa.
Realisasi penggunaan produk dalam negeri pada pengadaan barang dan jasa di lingkungan Pemprov Jabar pada 2022 mencapai 49,73%.
Copyright @ 2025 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved