Sabtu 29 Oktober 2022, 20:38 WIB

Di Tengah Ancaman Resesi, Sebaiknya Pilih Aset Trading 'Safe Haven'  

mediaindonesia.com | Ekonomi
Di Tengah Ancaman Resesi, Sebaiknya Pilih Aset Trading

Ist
Reza Aswin, Senior Fundamental Analyst Didimax.

 

BERAWAL dari pandemi covid-19 di tahun 2020 membuat terjadinya penguncian diseluruh negara didunia.

Dampak dari penguncian yang terjadi tentunya adalah perlambatan ekonomi global yang tidak pernah terjadi sebelumnya didunia, dimana permintaan turun dan pertumbuhan ekonomi di banyak negara maju berada di daerah negatif termasuk Amerika Serikat (AS).

"Untuk mengatasi hal tersebut, maka bank sentral diseluruh dunia mulai melakukan intervensi besar besar dengan cara menurunkan suku bunga dan melakukan program stimulus ultra longgar, untuk memulihkan ekonomi di negaranya," kata Reza Aswin, Senior Fundamental Analyst Didimax dalam keterangan, Sabtu (29/10).

Keadaan ini tentunya mempunyai efek terhadap angka inflasi global ditambah lagi adanya perang di Eropa Timur yang melibatkan salah satu negara penghasil minyak dunia terbesar yaitu Rusia.

"Gangguan rantai pasokan, harga minyak dunia yang tinggi serta banyaknya uang beredar menyebabkan ekonomi global mengalami tekanan angka inflasi yang berlebih atau hyper inflation," tambahnya.

"Dalam teori ekonomi di mana saat angka inflasi meningkat maka pertumbuhan ekonomi akan meningkat, tetapi saat ini yang terjadi adalah angka inflasi meningkat tetapi pertumbuhan ekonomi terlihat melambat atau yang dikenal dengan stagflasi," ujar Reza. 

Keberadaan ini tentunya membuat data ekonomi setiap negara maju termasuk Amerika Serikat mengalami pelemahan yang signifikan, dan indikator ekonomi mulai menunjukan akan terjadinya resesi dalam beberapa waktu ke depan.

"Sinyal akan terjadinya resesi global terlihat dari adanya kurva imbal hasil terbalik atau inverted curve yields negara Amerika Serikat dimana imbal hasil obligasi jangka pendek Amerika Serikat lebih tinggi nilainya dibandingkan dengan imbal hasil obligasi jangka panjangnya," papar Reza.

Baca juga: Jangan Terjebak Investasi Abal-Abal, Ini Alternatifnya

Walaupun tidak selalu kurva ini menunjukan terjadinya resesi tetapi banyak pengamat ekonomi mempercayai bahwa kurva imbal hasil terbalik obligasi AS ini akan membawa negara tersebut k edalam resesi setidaknya 14 – 17 bulan ke depan dari awal terjadinya inverted curve yields.

"Setidaknya pertengahan sampai akhir tahun 2023 Amerika Serikat akan mengalami resesi atau perlambatan ekonomi atau pertumbuhan ekonomi negative setidaknya dalam 2 kuartal ke depan," katanya. 

Pertumbuhan ekonomi Indonesia

Sedangkan untuk Indonesia sendiri sampai saat ini masih menunjukan pertumbuhan ekonomi yang cukup baik di mana GDP Indonesia masih berada pada area positif yaitu 3,72% dari – 0,95 pada kuartal kedua.

Data pengangguran menurun dari 6,49% menjadi 5,83% pada bulan lalu serta cadangan devisa Indonesia naik dari $407 juta menjadi $3853 juta dan Penjualan Retail meningkat dari -3,1% menjadi 0,8%.

Data data ini menunjukan bahwa Indonesia sampai saat ini masih mampu bertahan dari keadaan ekonomi global yang mulai melemah.

Untuk ke depannya keadaan ini tentunya akan terpengaruh sangat signifikan apabila ditahun depan terjadi resesi global karena akan sangat mempengaruhi angka eksport dan import Indonesia.

"Sehingga kebijakan moneter dan fiscal Indonesia ke depannya akan sangat menentukan apakah Indonesia akan terseret ke dalam resesi atau justru menjadi negara paling aman bagi para investor didunia, karena pertumbuhan ekonomi yang sangat stabil," ujarnya.

Temukan peluang di tengah resesi
Meski perekonomian global dihantui resesi dan melonjaknya inflasi seiring dengan berlangsungnya perang Rusia dan Ukraina, Trading Forex online Didimax nyatanya masih menjadi pilihan terbaik untuk tetap cuan.

"Ada baiknya pilih aset trading yang bersifat safe haven seperti, logam mulia dan forex. Emas dan perak dikenal memiliki nilai yang lebih aman di tengah kondisi pasar global yang dinamis," jelas Reza.

"Logam mulia dinilai sangat menguntungkan karena tahan terhadap inflasi, memiliki likuiditas tinggi, dan memiliki nilai yang universal," jelasnya.

Sementara dolar AS masih menjadi patokan untuk mengukur valuasi di pasar finansial dan mata uang cadangan di banyak negara. 

"Walaupun kondisi pasar di tengah ketidakpastian, penting bagi trader untuk memiliki portofolio trading yang terdiversifikasi agar meminimalisir risiko tak terduga," jelas Reza.

Di Didimax, terdapat berbagai pilihan aset safe haven yang dapat Anda perdagangkan.

"Sebagai pelopor perdagangan pasar berjangka di Indonesia, Didimax sudah terjamin legalitasnya di bawah pengawasan Bappebti dan Kementerian Perdagangan," tutur Reza. (RO/OL-09)

 

Baca Juga

ANTARA FOTO/Arif Firmansyah

Harga BBM Nonsubsidi Terbaru, Shell dan Vivo Lebih Mahal

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 03 Desember 2022, 18:56 WIB
Awal Desember 2022, sejumlah SPBU, termasuk swasta menaikkan harga jual bahan bakar minyak (BBM) jenis...
Antara/Akbar Nugroho Gumay.

Babak Baru Penyerahan PI 10% Blok Rokan ke Pemda Riau

👤Insi Nantika Jelita 🕔Sabtu 03 Desember 2022, 18:12 WIB
Ditargetkan produksi minyak di Blok Rokan bisa mencapai 170 ribu barel per hari (BOPD) pada akhir...
Antara

Di Tengah Ancaman Resesi Global, Indonesia Jadi Magnet Investasi

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 03 Desember 2022, 17:01 WIB
Mudrajad mendukung arahan Presiden Joko Widodo, yang meminta jajarannya agar tidak mempersulit...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya