Headline

Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.

Mengapa Informasi Adalah Mata Uang Paling Berharga dalam Dunia Trading

Basuki Eka Purnama
26/2/2026 15:36
Mengapa Informasi Adalah Mata Uang Paling Berharga dalam Dunia Trading
Ilustrasi(Freepik)

DALAM lanskap pasar keuangan, informasi bukanlah sekadar data, ia adalah kekuatan yang hanya efektif jika digunakan pada waktu yang tepat. 

Meninjau ringkasan kebijakan bank sentral sehari setelah dirilis mungkin berguna untuk strategi jangka menengah, namun bagi trader harian, momen krusial tersebut sudah lewat. 

Elev8, broker global independen, menegaskan bahwa tetap terinformasi berarti tidak hanya mengetahui peristiwa yang terjadi, tetapi juga memahami kapan peristiwa tersebut menjadi paling krusial.

Bagi seorang trader, pengetahuan adalah satu-satunya mata uang yang sesungguhnya di pasar. Tanpa informasi yang tepat waktu, strategi yang paling matang sekalipun dapat gagal, membuat keputusan trading hanya bergantung pada keberuntungan. 

Tanpa akses berita yang memadai, trader ibarat anak kucing buta yang mencoba menavigasi jalan raya yang ramai, sangat terpapar pada risiko yang sebenarnya bisa diantisipasi.

Ada tiga alasan fundamental mengapa pemantauan berita menjadi sangat penting:

1. Pasar Bergerak Berdasarkan Narasi: 

Pasar tidak merespons data secara terpisah, melainkan merespons apa yang diprioritaskan oleh investor. Bukan angka statistik mentah yang menyebabkan volatilitas, melainkan interpretasi atas angka tersebut. 

Contohnya, rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) bisa diabaikan jika ketegangan geopolitik mendominasi narasi, namun bisa memicu pergerakan tajam jika pasar sedang fokus pada inflasi.

2. Pasar Bersifat Prospektif: 

Pasar keuangan cenderung mengabaikan peristiwa yang sudah diharapkan sebelum terjadi. Inilah yang melahirkan pepatah "beli saat rumor, jual saat berita". Harga sering kali naik sebelum pengumuman resmi karena spekulasi, lalu berbalik arah atau stagnan saat berita benar-benar tiba karena efeknya sudah tercermin dalam harga.

3. Waspada Terhadap Angsa Abu-abu: 

Trader harus mengenali angsa abu-abu, yaitu risiko yang sudah menjadi perhatian pasar namun belum sepenuhnya terwujud. 

Mengabaikan tren makroekonomi, seperti kebijakan bank sentral yang sangat dovish, berisiko membuat trader terjebak melawan arus pasar yang besar.

Namun, di tengah banjir informasi, banyak trader pemula merasa kewalahan dan beralih ke finfluencer di media sosial untuk mendapatkan rekomendasi instan. 

Data Penelitian Yayasan FINRA menunjukkan bahwa 26% investor mengandalkan influencer, dengan mayoritas memiliki pengalaman kurang dari dua tahun. Sebaliknya, investor berpengalaman lebih memilih riset dari perusahaan broker yang terpercaya.

Broker seperti Elev8 menjembatani kesenjangan ini dengan menyediakan data real-time sekaligus analisis profesional. 

Pendekatan ini memungkinkan trader untuk memahami dampak nyata dari setiap rilis data dan menyesuaikan strategi mereka, sekaligus membangun literasi keuangan yang lebih matang untuk masa depan. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya