Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
DAMPAK perubahan iklim kian terasa. Seperti, cuaca yang tak menentu, pergeseran musim yang mengacaukan jadwal tanam para petani, bencana banjir dan kekeringan di negara tropis, serta musim dingin dan panas yang ekstrem di wilayah subtropis.
Jika tak segera ditangani, perubahan iklim akan membawa dampak yang sangat merugikan.
Salah satu upaya mitigasi perubahan iklim ialah menggeser kegiatan ekonomi ke arah yang lebih hijau. Ekonomi hijau, demikian istilahnya, menciptakan sebuah ekonomi berkelanjutan yang menyelaraskan kepentingan ekonomi, sosial, dan lingkungan hidup.
Baca juga : Melalui Produk Investasi, Bank BTPN Dukung Keuangan Berkelanjutan
Transformasi ke ekonomi hijau memerlukan peran serta seluruh pihak. Sebab, upaya mendorong ekonomi hijau masih menemui sejumlah tantangan.
Dalam sebuah kesempatan, Deputi Bidang Ekonomi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan salah satu masalah terbesar dalam mendorong ekonomi hijau adalah pembiayaan.
Berdasarkan data Bappenas, Indonesia membutuhkan sedikitnya Rp67.803 triliun untuk pembiayaan di sektor berkelanjutan sampai 2030.
Baca juga : SR Asia Indonesia Mengampanyekan Net Zero Emission
Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam Roadmap Keuangan Berkelanjutan Tahap II menuliskan bahwa perubahan paradigma business as usual ke arah berkelanjutan telah menjadi kebutuhan masa depan.
Guna mengatasi tantangan dan pemenuhan kebutuhan pembiayaan hijau, diperlukan langkah strategis dari berbagai pihak, termasuk industri perbankan sebagai penggerak perekonomian.
Salah satu pelaku industri keuangan yang telah berkomitmen untuk melakukan pembiayaan berkelanjutan atau green financing, yakni PT Bank BTPN Tbk (BTPN) yang menjadi bagian dari Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC).
Baca juga : Menko Airlangga: Generasi Mendatang Berhak Menikmati Lingkungan Aman dari Bencana
Perusahaan berkomitmen untuk terus mengembangkan pembiayaan berkelanjutan seperti pembiayaan proyek pembangkit listrik ramah lingkungan, perkebunan berkelanjutan, dan kendaraan ramah lingkungan dan proyek lainnya.
“Sebagai wujud komitmen dalam mendorong pembiayaan berkelanjutan, Bank BTPN terus meningkatkan penyaluran pinjaman di tahun ini dan menargetkan penyaluran kredit jangka panjang ke sektor-sektor yang mendukung program keberlanjutan hingga sebesar 17% dari total portofolio," ujar Head of Wholesale & Commercial Banking Bank BTPN, Nathan Christianto, dalam keterangan pers, Selasa (19/7).
"Sektor tersebut seperti segmen mikro, kecil, menengah dan segmen korporasi yang mendukung kegiatan usaha berwawasan lingkungan,” jelas Nathan.
Baca juga : Terbitkan Green Bond Rp 5 Triliun, BRI Tegaskan Sebagai Market Leader ESG Company
Ia menjelaskan, Bank BTPN melaksanakan inisiatif di bidang pembiayaan hijau dengan dilandasi dua hal utama.
Pertama, dalam konteks Bank BTPN sebagai bagian dari Grup SMBC. Grup SMBC berupaya membantu memitigasi dampak perubahan iklim lewat rencana aksi jangka panjang untuk perubahan iklim yang disebut Roadmap Addressing Climate Change.
Kedua, Bank BTPN, sebagai salah satu bank yang diatur dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), mendukung Peraturan OJK No. 51/POJK.03/2017 tentang Penerapan Keuangan Berkelanjutan bagi Lembaga Jasa Keuangan, Emiten, dan Perusahaan Publik.
Baca juga : Ini Strategi KLHK Dapatkan Dana Pembangunan Berkelanjutan
Di samping itu, lanjut Nathan, pembiayaan hijau memiliki potensi yang sangat besar.
Langkah yang Bank BTPN ambil melalui penyaluran pembiayaan hijau, khususnya di segmen korporasi merupakan bagian dari antipasi Bank BTPN sebagai penyedia jasa keuangan melihat tingginya animo investor untuk pembiayaan hijau ke depannya.
Hal ini merujuk pada survei BNP Paribas Global, minat investor terhadap produk berbasis ESG meningkat 20% per 2021 diiringi dengan permintaan produk dan jasa ramah lingkungan yang turut meningkat.
Baca juga : Dorong Ekonomi Hijau, Greentech Entrepreneurs Network Siap Kembangkan Startup Teknologi Hijau
Sejauh ini, atas kinerja Bank BTPN dalam mendorong penyaluran kredit, khususnya dalam pembiayaan hijau, Bank BTPN berhasil meraih penghargaan dalam ajang Mitra BUMN Champion 2022 untuk dua kategori.
Kategori itu yakni, Nomor 1 dalam kategori kreditur swasta mitra BUMN untuk Bank BTPN, dan Nomor 1 dalam kategori kreditur swasta global untuk Sumitomo Mitsui Banking Corporation SG.
Tak hanya melakukan inovasi produk dan jasa yang mendukung keuangan berkelanjutan, Bank BTPN pun mendukung komitmen Indonesia untuk mengendalikan perubahan iklim dengan target mengurangi emisi karbon sebesar 29% di 2030 melalui praktik nyata di sisi operasional perusahaan.
Antara lain, melakukan program penghematan konsumsi BBM dan energi di cabang-cabang Bank BTPN, serta digitalisasi proses operasional dan bisnis yang berpengaruh kepada penurunan penggunaan kertas, juga berdampak signifikan kepada penurunan mobilitas nasabah yang tidak harus pergi ke bank untuk bertransaksi.
“Bank BTPN berharap melalui program jangka panjang ini, Bank BTPN mampu menjadi top-of-mind nasabah dalam keperluan pembiayaan ataupun konsultasi perihal solusi-solusi pembiayaan berkelanjutan,” pungkasn Nathan. (RO/OL-09)
Pertumbuhan tersebut didorong oleh kenaikan giro sebesar 19,13%, tabungan 8,19%, dan deposito 14,28%.
PT Bank Negara Indonesia (BNI) dinilai berada pada posisi yang lebih siap memasuki 2026 dibandingkan bank-bank besar lainnya.
Menurut Pramono, pencatatan saham Bank Jakarta di BEI tidak hanya akan meningkatkan kepercayaan publik, tetapi juga mendorong profesionalisme perusahaan.
MENTERI Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku telah menarik dana pemerintah sebesar Rp75 triliun dari total penempatan Rp276 triliun Saldo Anggaran Lebih (SAL) di sistem perbankan.
MANTAN Kepala PPATK Yunus Husein menilai pemajangan uang tunai hasil rampasan kasus korupsi dan sitaan negara oleh aparat penegak hukum tidak diperlukan dan cenderung tidak efisien.
PERUBAHAN status Bank Syariah Indonesia (BSI) menjadi persero dinilai memperkuat posisi bank tersebut, terutama dari sisi kredibilitas dan persepsi keamanan.
Di sektor pertanian, penerapan pertanian organik dan sistem pertanian yang berkelanjutan menjadi pilihan utama.
Indonesia memiliki peluang besar menjadi pemimpin pasar karbon global berkat hutan tropis terluas ketiga di dunia.
Indonesia menegaskan komitmennya dalam memperkuat tata kelola karbon dan pembiayaan iklim berbasis hutan pada Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP30).
Saat ini, regulator menuntut hasil yang terukur dan berintegritas, termasuk kebutuhan akan dampak iklim yang nyata.
Sektor transportasi menjadi salah satu penyumbang emisi terbesar di tanah air.
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mewakili Presiden Prabowo Subianto dalam KTT APEC 2025 di Korea Selatan. Ia menekankan pentingnya kolaborasi pemerintah dan dunia usaha.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved