Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
WAKIL Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara mengungkapkan, negara-negara di dunia tengah berlomba untuk mencari utang untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, khusunya dalam pengadaan vaksin covid-19 saat ini.
Hingga akhir Desember 2020, Indonesia tercatat memiliki utang sebesar Rp6.074,56 triliun.
"Negara berlomba-lomba mengamankan diri dengan cara utang. Semua negara berlomba mengamankan diri dengan harus punya cash. Kalau ada vaksin harus bisa beli vaksin," ujar Suahasil dalam webinar ILUNI UI, Sabtu (30/1).
Dia pun membandingkan defisit Indonesia dengan negara lain yang dianggap lebih baik, seperti dengan India dan Malaysia. APBN 2020 diketahui mengalami defisit Rp 956,3 triliun atau setara dengan 6,1% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Serta ungkap Suahasil, pertumbuhan ekonomi Indonesia menurut IMF terkontraksi 1,9% pada tahun lalu.
Baca juga: Bank Dunia : Kecepatan Vaksinasi Jadi Penentu Pemulihan Ekonomi
"Kita bandingkan dengan India yang defisit minus 13% dan pertumbuhan ekonomi minus 8%. Defisit mereka lebih dalam, hutang lebih banyak terhadap PDB dan growth turun lebih dalam. Negara seperti Jerman, Malaysia juga begitu," jelasnya.
Dia mengungkapkan alasan defisit Indonesia hingga minus 6,1% disebabkam, penerimaan negara yang berkurang selama pandemi. Sementara anggara belanja negara membengkak. Dengan demikia utang pun menjadi naik.
"Pasti utang naik. Sekarang sekitar 28,5% PDB. Mungkin 2021, ke 41% PDB. Tapi kita bandingkan dengan negara lain kalau semua negara ribut soal utang. Keamanan utang kita relatively modest," tutur Suahasil.
Pemerintah sebutnya, berupaya agar angka defisit di tahun ini berada di angka 38% hingga 40% dari PDB. Namun
Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, kebanyakan negara menggunakan instrumen fiskal untuk melindungi rakyat dan perekonomian. Hal itu lah yang membuatdefisit negara semakin melebar.
"Di AS bahkan defisit 18,7%, Prancis mendekati 11%, china kontraksinya 12%, India sampai 13,1% fefisit fiskalnya. Di Malaysia 6,5%, Filipina 8,1%, Singapura 10,8%," ucapnya beberapa waktu lalu. (OL-4)
KEMENTERIAN Keuangan (Kemenkeu) merespons kabar yang menyebut Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono digadang-gadang mengisi posisi Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI).
(KPK) menduga uang kasus suap pajak turut mengalir ke oknum di Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan (Kemenkeu).
Anggota DPR RI menyebut kasus suap korupsi yang melibatkan pegawai Direktorat Jenderal Pajak harus menjadi momentum bagi Kementerian Keuangan melakukan bersih-bersih.
KPK melakukan penelusuran penerimaan uang suap ke pejabat di Ditjen Pajak.
Budi enggan memerinci sosok yang tengah dibidik oleh penyidik. KPK sedang mencari keterlibatan pihak lain yang diduga memiliki peran dalam pengurangan pajak ini.
Rudianto menilai tindakan tegas dari Aparat Penegak Hukum (APH) sangat krusial di tengah upaya Presiden Prabowo Subianto meningkatkan penerimaan negara.
Hingga akhir tahun 2025, penerimaan pajak baru mencapai 87,6% dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025.
Karena coretax berjalan belum sesuai perencanaan awal. Sehingga hal ini justru menyebabkan penerimaan pajak tersendat.
Kebijakan peningkatan belanja pada 2025 sudah berada di jalur yang tepat. Namun, tantangan besar ke depan adalah memastikan efektivitasnya.
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bonus atlet SEA Games Thailand senilai Rp480 miliar bersumber dari APBN, bukan uang pribadi Presiden. Peraih emas terima Rp1 miliar.
DEFISIT fiskal Indonesia pada 2025 tercatat melebar melampaui target pemerintah, seiring percepatan belanja negara di penghujung tahun dan lemahnya kinerja penerimaan.
Suahasil menyebut bahwa realisasi PNBP 2025 yang mencapai Rp534,1 triliun masih lebih rendah jika dibandingkan dengan realisasi PNBP 2024 tang mencapai Rp584,4 triliun.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved