Headline

Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%

Gaji Kecil bukan Pembenar Aksi Korup

27/1/2026 05:00

PERNYATAAN Ketua Umum Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) Bursah Zarnubi dalam Rakernas XVII Apkasi di Batam, Kepulauan Riau, Selasa (20/1), layak membuat publik terperangah. Di hadapan ratusan bupati, Bursah melontarkan generalisasi yang mencederai akal sehat dan etika jabatan publik, seolah-olah semua kepala daerah pasti korup, hanya berbeda nasib, ada yang tertangkap, ada yang belum.

Pernyataan itu muncul sebagai respons atas operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap Bupati Pati Sudewo dan Wali Kota Madiun Maidi. Alih-alih melakukan refleksi dan introspeksi, Ketua Apkasi justru membangun narasi pembenaran. Menurutnya, gaji kepala daerah yang kecil, sekitar Rp5,7 juta per bulan, menjadi pemicu utama praktik korupsi. Selebihnya tinggal soal peruntungan, siapa sial, siapa mujur.

Logika semacam itu bukan hanya keliru, melainkan juga berbahaya. Publik tentu miris, bukan lantaran kecilnya gaji kepala daerah, melainkan karena ada pejabat publik yang dengan enteng menormalkan korupsi. Jika alasan itu dikembalikan kepada rakyat sebagai pemilih dalam pilkada, pertanyaan mendasarnya sederhana, yakni siapa yang memaksa para kepala daerah mencalonkan diri?

Faktanya, mereka maju atas kehendak sendiri, bahkan dengan ambisi besar. Mereka mendaftar, berkampanye, dan bertarung dalam kontestasi politik dengan penuh kesadaran bahwa jabatan kepala daerah bukanlah jalan pintas menuju kemakmuran pribadi. Jika sejak awal mengetahui gajinya kecil, mengapa tetap maju?

Apalagi, data kajian Litbang Kementerian Dalam Negeri menunjukkan biaya politik pilkada sangat fantastis. Untuk menjadi bupati atau wali kota, rata-rata biaya yang dikeluarkan mencapai Rp30 miliar. Bahkan untuk menjadi gubernur bisa menembus Rp100 miliar. Angka yang jelas mustahil dijangkau masyarakat kebanyakan.

Jika dihitung secara sederhana, gaji bupati Rp5,7 juta per bulan selama lima tahun masa jabatan hanya menghasilkan sekitar Rp342 juta. Angka itu bahkan tak mendekati satu persen dari modal politik yang dikeluarkan. Dari sudut pandang dagang, ini jelas merugi. Maka, muncul godaan untuk 'mengembalikan modal' dengan berbagai cara, termasuk yang melanggar hukum.

Namun, kepala daerah bukan pedagang. Jabatan mereka adalah amanah publik yang terikat konstitusi dan sumpah jabatan. Mengelola daerah bukan transaksi bisnis, melainkan pengabdian.

Tak mengherankan jika Kementerian Dalam Negeri mencatat sekitar 500 kepala daerah tersangkut kasus korupsi sejak pilkada langsung digelar pada 2005. Dari fakta itu, kesimpulan sementara mudah ditarik, bahwa akar masalahnya bukan semata gaji yang kecil, melainkan mahalnya biaya politik, ditambah watak rakus yang gagal dikendalikan.

Karena itu, sulit diterima nalar publik ketika seorang pimpinan asosiasi kepala daerah justru membangun konstruksi pemikiran yang menormalisasi korupsi. Cara berpikir semacam itu tak boleh dibiarkan berkembang.

KPK perlu bergerak cepat untuk mendalami pernyataan tersebut sebagai indikasi krisis integritas kepemimpinan. Jika dibiarkan, bukan tak mungkin rumah tahanan akan semakin penuh oleh kepala daerah yang merasa korupsi adalah konsekuensi wajar dari jabatan.

KPK juga perlu memintai keterangan Bursah Zarnubi untuk menggali maksud dan kebenaran ucapannya. Masyarakat jelas tidak sudi dipimpin oleh mereka yang sejak awal menganggap korupsi sebagai keniscayaan.

 



Berita Lainnya
  • Napas Panjang Antisipasi Perang

    11/3/2026 05:00

    Stok BBM untuk 21 hari yang selama ini disebut sebagai standar buffer operasional semestinya tidak dipandang sebagai zona aman.

  • Menajamkan Sistem Pengawasan

    10/3/2026 05:00

    LAILA Fathiah, dengan nama panggung Fadia Arafiq, menjadi kepala daerah kedelapan hasil pilkada serentak pada 2024 lalu yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

  • Menjaga Tunas Bangsa

    09/3/2026 05:00

    NEGARA akhirnya menunjukkan taringnya di jagat digital yang kian sulit dikendalikan.

  • Cegah Panik Amankan Mudik

    07/3/2026 05:00

    TEPAT sepekan lalu, negara superpower Amerika Serikat (AS) bersama sekondannya, Israel, membombardir Iran.

  • Sanksi Korupsi yang Menjerakan

    06/3/2026 05:00

    PENANGKAPAN Bupati Pekalongan Fadia Arafiq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menegaskan satu hal, bahwa praktik korupsi di daerah bukanlah peristiwa tunggal

  • Rapatkan Barisan Hadapi Guncangan

    05/3/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di tepi pusaran krisis. Ketidakpastian global menjelma menjadi badai yang sulit diprediksi arahnya.

  • Menyiasati Krisis Energi

    04/3/2026 05:00

    PERANG di Timur Tengah telah berlangsung selama lebih dari tiga hari. Dampaknya mulai dirasakan oleh berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.

  • Mobil Mewah bukan Penentu Muruah

    03/3/2026 05:00

    SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.

  • Saatnya Semua Menahan Diri

    02/3/2026 05:00

    SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

  • Menambal Defisit tanpa Bebani Rakyat

    28/2/2026 05:00

    PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.

  • Menata Ulang Efektivitas Demokrasi

    27/2/2026 05:00

    PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.

  • Krisis Ruang Digital Anak

    26/2/2026 05:00

    RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.

  • Ungkap Otak Sindikat Narkoba

    25/2/2026 05:00

    FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.

  • Menagih Imbal Hasil Investasi Pendidikan

    24/2/2026 05:00

    Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.

  • Sigap Membaca Perubahan Amerika

    23/2/2026 05:00

    DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.

  • Hasil Gemilang Negosiasi Dagang

    21/2/2026 05:00

    Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.