Headline

Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.

Wakil Menteri Muluskan Transisi

19/7/2024 05:00

PRESIDEN Joko Widodo melantik tiga wakil menteri sekaligus untuk membantu kerja menteri-menteri bidang ekonomi, kemarin. Thomas Djiwandono didapuk jadi Wakil Menteri Keuangan, Sudaryono jadi Wakil Menteri Pertanian, dan Yuliot Tanjung sebagai Wakil Menteri Investasi.

Jika menilik masa pemerintahan Jokowi yang akan berakhir pada 20 Oktober 2024, alias tinggal tiga bulan lagi, kecil kemungkinan tiga pejabat baru itu ditunjuk untuk mengakselerasi kinerja kementerian ekonomi. Terang benderang, mereka lebih diposisikan sebagai pejabat perantara yang akan menjembatani program-program ekonomi pemerintahan berikutnya. Tujuannya tak lain agar transisi pemerintahan dapat berjalan mulus.

Apalagi, Thomas Djiwandono dan Sudaryono adalah dua kader elite Gerindra. Mereka mesti menyiapkan karpet merah bagi program-program ekonomi pemerintahan baru di bawah Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.

Tak ada yang salah dari penunjukan tiga pejabat baru itu.

Presiden menjalankan hak prerogatifnya sudah sesuai dengan aturan yang berlaku. Bahkan, penunjukan calon pejabat pemerintahan berikutnya untuk duduk di pemerintahan saat ini pun dapat menjadi bagian dari sopan santun politik, sebuah fatsun yang kian langka saat ini.

Namun, masyarakat tentunya berharap lebih dari itu. Situasi ekonomi yang masih amat menjepit seperti saat ini bukan sekadar membutuhkan fatsun politik, melainkan lebih ke langkah nyata. Dampak ekonomi dari pandemi covid-19 yang berlangsung tiga tahun lamanya sejak 2020 masih membekas hingga saat ini.

Misalnya masalah pengangguran. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan 7,86 juta orang menganggur pada 2023. Hal itu salah satunya tak lepas dari kinerja investasi yang tak banyak menyerap lapangan kerja. Investasi yang masuk saat ini masih lebih ke padat modal, bukan padat karya.

Tumbangnya satu per satu pabrik di industri padat karya sejak awal tahun, misalnya tekstil dan sepatu, kian menambah jumlah pengangguran yang ada. Tentu itu menjadi pekerjaan berat bagi pemerintah.

Persoalan ketahanan pangan yang masih sangat bergantung pada impor juga jadi persoalan serius yang amat membutuhkan solusi cepat. Impor beras pada triwulan I 2024 saja mencapai 1,44 juta ton. Jumlah itu melonjak lebih dari 1,5 kali lipat atau 182,87% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2023. Hingga akhir tahun, pemerintah telah menugasi Bulog untuk mengimpor 3,6 juta ton beras.

Tingginya angka pengangguran dan ketahanan pangan yang rapuh hanyalah contoh kecil persoalan yang akan dihadapi pemerintahan mendatang. Kepemimpinan Prabowo Subianto juga akan menghadapi ruang fiskal yang sempit, yang salah satunya karena utang jatuh tempo tahun depan yang mencapai Rp800 triliun.

Belum lagi problem kesinambungan program antarrezim pemerintahan yang kerap menjadi isu krusial. Selama ini, kontinuitas program-program antara rezim lama dan baru tidak pernah tuntas. Ada kecenderungan pemerintahan baru menanggalkan dan meninggalkan semua program pemerintah sebelumnya, kendati program itu baik untuk jangka panjang.

Kesinambungan seolah hal yang tabu untuk dilakukan. Seolah-olah dengan membongkar semua peninggalan lama dan menggantinya sama sekali dengan hal baru ialah keniscayaan sebagai bentuk pembuktian.

Keberadaan para wakil menteri yang notabene adalah lingkaran inti pemerintahan baru dapat menjadi jembatan agar transisi pemerintahan berjalan mulus. Kementerian Keuangan dan Kementerian Investasi, misalnya, dua kementerian itu dituntut segera menyiapkan berbagai stimulus dan insentif agar investasi yang masuk dapat bermakna nyata bagi rakyat banyak, bukan hanya bagi segelintir pemilik modal.

Begitu pula dengan program makan bergizi yang jadi gagasan dari pemerintahan baru. Program ini butuh penyiapan anggaran oleh Kementerian Keuangan, termasuk ketersediaan pangannya dari Kementerian Pertanian.

Dengan transisi yang mulus, pemerintahan baru tentunya bisa langsung tancap gas menjalankan negara, bukan mulai lagi dari gigi satu.

Wakil menteri yang baru dilantik mestinya bukan hanya meramaikan kabinet. Mereka harus serius menyiapkan langkah-langkah strategis transisi, walaupun itu bukan pekerjaan mudah.



Berita Lainnya
  • Saatnya Semua Menahan Diri

    02/3/2026 05:00

    SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

  • Menambal Defisit tanpa Bebani Rakyat

    28/2/2026 05:00

    PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.

  • Menata Ulang Efektivitas Demokrasi

    27/2/2026 05:00

    PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.

  • Krisis Ruang Digital Anak

    26/2/2026 05:00

    RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.

  • Ungkap Otak Sindikat Narkoba

    25/2/2026 05:00

    FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.

  • Menagih Imbal Hasil Investasi Pendidikan

    24/2/2026 05:00

    Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.

  • Sigap Membaca Perubahan Amerika

    23/2/2026 05:00

    DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.

  • Hasil Gemilang Negosiasi Dagang

    21/2/2026 05:00

    Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.

  • Memitigasi Penutupan Selat Hormuz

    20/2/2026 05:00

    IRAN menutup sementara Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara adidaya Amerika Serikat.

  • Ramadan Mempersatukan

    19/2/2026 05:00

    SEPERTI pada 2022 dan 2024, juga pada banyak tahun sebelumnya, perbedaan jatuhnya 1 Ramadan kembali terjadi di Indonesia dan sejumlah negara lain.

  • Kendalikan Harga Segera

    18/2/2026 05:00

    KENAIKAN harga bahan pokok menjelang Ramadan kembali terulang. Polanya nyaris seragam dari tahun ke tahun.

  • Imlek dan Ramadan Merajut Tenun Kebangsaan

    17/2/2026 05:00

    SUDAH lebih dari dumedia a dekade, Hari Raya Imlek berdiri tegak sebagai simbol kematangan Republik dalam merawat keberagaman.

  • Meneror Penggarong Uang Negara

    16/2/2026 05:00

    BADAN Pusat Statistik (BPS), awal Februari lalu, baru saja merilis angka pertumbuhan ekonomi yang dapat dicapai Indonesia sepanjang 2025, yakni 5,11% secara tahunan.

  • Percepat Rekonstruksi, Pulihkan Harapan

    14/2/2026 05:00

    DI antara puing-puing yang perlahan berganti struktur permanen, tersimpan doa ribuan warga terdampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

  • Swasembada Energi semata demi Rakyat

    13/2/2026 05:00

    SWASEMBADA pangan dan energi, itu dua janji Prabowo Subianto saat membacakan pidato pelantikannya sebagai presiden pada 2024 lalu.

  • Makin Puas, makin Tancap Gas

    12/2/2026 05:00

    INGGINYA tingkat kepuasan masyarakat merupakan hal yang diidam-idamkan pemimpin.