Headline

Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.

Berebut Suara Kaum Nahdiyin

08/9/2023 21:00

SABAN pesta demokrasi berlangsung, apakah itu pemilu atau pilkada, Nahdlatul Ulama (NU) bisa menjadi penentu. Jumlah anggota mereka yang luar biasa banyak pun membuat setiap kontestan tak mungkin menyampingkan mereka.

NU ialah organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, bahkan di dunia. Jumlah anggota mereka pada 2021 diperkirakan lebih dari 95 juta jiwa atau meningkat pesat ketimbang 2013 sebesar 40 juta jiwa. Itu baru anggota organisasi. Yang mengaku sebagai warga NU lebih banyak lagi.

Dalam sebuah survei pada 2022, tidak kurang dari 56,9% dari total penduduk Indonesia yang beragama Islam mengaku sebagai nahdiyin, terafiliasi dengan NU. Kalau dipersentasekan dari total populasi muslim di Indonesia yang sekitar 250 juta sampai 260 juta jiwa, berarti yang mengeklaim sebagai warga NU bisa 140 juta lebih.

Dari jumlah tersebut, sekitar 80 juta jiwa disebut-sebut memiliki hak pilih di Pemilu 2024. Ada pula yang memperkirakan sekitar 40 juta jiwa, tetapi jumlah itu tetaplah sangat besar. Jadi, bayangkan betapa luar biasanya warga NU bisa menjadi faktor penentu kontestasi. Mereka begitu dominan dari total pemilih tetap sebanyak 204.807.222 orang.

Politik ialah seni membaca situasi. Tak perlu berpikir njlimet, situasi di NU telah secara gamblang, terang benderang, menyediakan begitu banyak suara sebagai modal untuk memenangi kompetisi. Pada konteks itu pula, wajar, sangat wajar, jika para kontestan, baik partai politik, calon anggota legislatif, maupun pasangan capres-cawapres, memberikan atensi begitu tinggi terhadap nahdiyin.

Fakta terkini ditunjukkan bacapres Anies Baswedan. Anggota Koalisi Perubahan untuk Persatuan, terutama Partai NasDem, jelas dan tegas menyadari betapa menentukannya warga NU. Untuk itu, dengan segala dinamikanya, dipilihlah Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar sebagai bacawapres Anies.

Pilihan itu bukan tanpa risiko. Koalisi bahkan pecah. Partai Demokrat yang sedari awal menyodorkan ketua umum mereka, Agus Harimurti Yudhoyono, memilih hengkang. Satu partai lagi, PKS, tetap berkomitmen mengusung Anies, tapi soal Cak Imin masih menunggu keputusan rapat Majelis Syuro.

Politik mengajarkan politikus untuk berpikir realistis dalam menghadapi kontestasi. Realitasnya, Anies memang lemah di Jawa Timur dan Jawa Tengah, dua provinsi yang menjadi basis warga NU. Faktanya, kalau babak belur di dua provinsi itu, peluang Anies untuk menang terbilang kecil.

Oleh karena itu, kalau kemudian Cak Imin yang akhirnya dipilih sebagai pendamping Anies, semua rumus dalam kompetisi politik terpenuhi. Memilih calon mutlak tepat, pantang asal-asalan, tak boleh tunduk pada desakan dan ancaman. Buat apa berkompetisi jika kecil kemungkinannya untuk menang karena sembarangan mengajukan kontestan?

Cak Imin memang tidak mewakili NU, tetapi mustahil terbantahkan bahwa dia orang NU. Cak Imin pun masih memegang teguh tradisi NU. Dia, misalnya, tak melupakan para leluhur dengan berziarah ke makam Wali Sanga.

PKB yang dipimpin Cak Imin memang tidak mendominasi pemilih dari kalangan NU, tetapi tak mungkin disangkal konstituen mereka mayoritas warga NU. Cak Imin dan PKB bukanlah wong liyan bagi warga NU.

Wajar pula bacapres Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo bersemangat untuk dekat-dekat dengan NU, mengharap restu kiai NU untuk meraup dukungan dari warga NU. Prabowo, misalnya, baru saja disambangi putri tokoh NU Gus Dur, Yenny Wahid. Bisa jadi keduanya akan bekerja sama.

Yenny dan Cak Imin sama-sama NU, tetapi berseteru. Soal siapa yang lebih berpengaruh di kalangan warga NU, biarkan nanti waktu yang berbicara.

Mendulang suara warga NU bukan kesalahan. Ia sah-sah saja, benar adanya demi memenangi kompetisi. Yang paling penting, jika menang nanti jangan lupakan mereka. Jangan jadikan kiai, warga NU, juga seluruh warga bangsa sekadar pendorong mobil mogok. Tenaga mereka dibutuhkan, tetapi ketika mobil bisa jalan, semua ditinggalkan.



Berita Lainnya
  • Penghematan Tepat Sektor

    25/3/2026 05:00

    BERHEMAT adalah hal mutlak dalam menghadapi krisis global saat ini. Berhemat, khususnya BBM, merupakan adaptasi pertama dan minimal ketika Selat Hormuz belum juga aman.

  • Jalan Abu-Abu Status Tahanan Rumah

    24/3/2026 05:00

    PEMBERANTASAN korupsi di Indonesia kembali diuji. Di tengah persepsi publik bahwa praktik korupsi kian mengakar, langkah penegakan hukum justru dinilai melemah.

  • Privilese di KPK

    23/3/2026 05:00

    Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, atau yang akrab disapa Gus Yaqut, dilaporkan mendapatkan status tahanan rumah.

  • Memancarkan Takwa ke Sesama Manusia

    21/3/2026 05:00

    RAMADAN telah berlalu dan kini seluruh umat Islam di dunia merayakan Hari Raya Idul Fitri.

  • Peradilan Koneksitas untuk Penyiram Air Keras

    20/3/2026 05:00

    PENGUNGKAPAN identitas terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Andrie Yunus menjadi angin segar. 

  • Ujian Pengendalian Diri

    19/3/2026 05:10

    Ramadan dengan puasanya dan Nyepi dengan catur brata penyepiannya adalah dua jalan berbeda yang sama-sama menuju pada penguatan sikap pengendalian diri.

  • Kematangan Toleransi

    18/3/2026 05:00

    DALAM minggu ini, ada dua momentum besar ujian kematangan toleransi bangsa kita, yaitu Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 1447 Hijriah.

  • Korupsi tak Kunjung Henti

    17/3/2026 05:00

    TAK salah kiranya jika Transparency International menempatkan Indonesia di level rendah dalam pemberantasan korupsi sepanjang 2025.

  • Ujian HAM dan Demokrasi untuk Negara

    16/3/2026 05:00

    Peristiwa itu merupakan ancaman serius terhadap demokrasi dan perlindungan hak asasi manusia (HAM) di Indone

  • Antisipasi Tepat, Mudik Selamat

    14/3/2026 05:00

    GELOMBANG mudik Lebaran selalu menjadi ujian besar bagi kapasitas negara dalam mengelola mobilitas manusia berskala besar.

  • Merawat Optimisme Publik lewat Mudik

    13/3/2026 05:00

    BAGAIMANAPUN dampak situasi global saat ini, pemerintah harus bisa memastikan mudik Lebaran berlangsung aman dan lancar.

  • Negara Hadir untuk Menenangkan

    12/3/2026 05:00

    PEMERINTAH sejatinya lahir untuk melindungi, memberi kepastian, dan mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya.

  • Napas Panjang Antisipasi Perang

    11/3/2026 05:00

    Stok BBM untuk 21 hari yang selama ini disebut sebagai standar buffer operasional semestinya tidak dipandang sebagai zona aman.

  • Menajamkan Sistem Pengawasan

    10/3/2026 05:00

    LAILA Fathiah, dengan nama panggung Fadia Arafiq, menjadi kepala daerah kedelapan hasil pilkada serentak pada 2024 lalu yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

  • Menjaga Tunas Bangsa

    09/3/2026 05:00

    NEGARA akhirnya menunjukkan taringnya di jagat digital yang kian sulit dikendalikan.

  • Cegah Panik Amankan Mudik

    07/3/2026 05:00

    TEPAT sepekan lalu, negara superpower Amerika Serikat (AS) bersama sekondannya, Israel, membombardir Iran.