Headline

Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.

Angin Politik Goyang Beringin

11/7/2023 21:00
Angin Politik Goyang Beringin
Ilustrasi MI(MI/Seno)

TANDA-TANDA kemenangan di Pemilu 2024 terasa jauh dari Golkar. Partai yang dimotori Menteri Perekonomian Airlangga Hartarto itu terkesan sesak saat bermanuver, sulit untuk bergerak dalam perburuan elektoral. Jauh-jauh hari menggalang kekuatan bersama Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Amanat Nasional (PAN), faktanya koalisi yang mereka bangun malah layu sebelum berkembang. Satu per satu anggotanya meninggalkan gelanggang hanya menyisakan Golkar seorang.

Sedianya Koalisi Indonesia Bersatu yang digagas bersama PAN dan PPP itu diperuntukkan menjadi perahu bagi Airlangga mengarungi Pemilu Presiden (Pilpres) 2024. Sesuai dengan amanat Musyawarah Nasional 2019, ia memang diberi mandat untuk menjadi calon presiden ataupun calon wakil presiden pada kontestasi lima tahunan. Tapi ibarat peribahasa padi ditanam tumbuh ilalang, hasil yang diperoleh tidak sesuai harapan.

Airlangga sebenarnya sudah mengambil ancang-ancang ketika Koalisi Indonesia Bersatu terdeteksi akan rontok di tengah jalan. Ia gencar bertemu dengan sejumlah petinggi partai. Satu per satu ia dekati, mulai dari Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan selanjutnya Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar. Airlangga bahkan ikut dalam acara buka puasa bersama di NasDem Tower pada 25 Maret silam yang dihadiri partai dari poros Koalisi Perubahan untuk Persatuan. Koalisi itu sudah mengusung Anies Baswedan sebagai bakal calon presiden.

Semua langkah telah ditempuh Airlangga demi mencari ruang menjadi bakal calon RI-1 ataupun RI-2. Namun, berbagai upaya menjalin komunikasi politik, melakukan pendekatan, dan membangun chemistry tak kunjung membuahkan hasil. Golkar pun semakin berkejaran dengan waktu. Tahapan pendaftaran calon presiden-calon wakil presiden tinggal tiga bulan lagi, yakni 19 Oktober sampai 25 November mendatang.

Sebagai partai yang sudah makan asam garam, Golkar malah seperti organisasi politik yang masih hijau, miskin pengalaman. Golkar tidak mampu menjelma menjadi gadis cantik yang diidam-idamkan partai lain. Bukankah itu yang seharusnya dirasakan oleh Golkar sebagai pemenang kedua Pemilu 2019 dengan raihan 85 kursi?

Publik malah melihat Golkar seperti remaja tanggung yang canggung dan tidak bisa mendikte ritme permainan. Sangat kontras dengan PDI Perjuangan yang secara usia tidak jauh berbeda tapi begitu ramai dipinang mulai dari PPP, Partai Hanura, hingga Perindo untuk bersama-sama mengusung bakal calon presiden Ganjar Pranowo.

Tanda-tanda kemenangan yang terasa jauh dari partai berlambang pohon beringin itu membuat gerah kalangan internal. Anggota Dewan Pakar Partai Golkar Ridwan Hisjam dalam keterangan yang disampaikan lewat berbagai media menyiratkan opsi pencopotan Airlangga Hartarto dari jabatan ketua umum melalui musyawarah nasional luar biasa (munaslub).

Namun, itu baru sebatas pendapat Ridwan dan bukanlah keputusan resmi Rapat Pleno VIII Dewan Pakar Partai Golkar. Airlangga diminta membentuk poros baru di luar koalisi pencapresan yang sudah ada demi menegakkan wibawa, penyelamatan, dan perjuangan membesarkan Golkar. Dewan Pakar juga meminta Airlangga untuk segera mendeklarasikan diri sebagai calon presiden dan menentukan calon wakil presiden sebelum Agustus 2023 berakhir.

Itu artinya Airlangga hanya punya waktu 52 hari lagi. Melihat elektabilitas Airlangga yang tidak kunjung moncer, keputusan Dewan Pakar patut dianggap sebagai misi mustahil. Tidak salah jika kemudian publik menilai operasi pendongkelan Airlangga sedang berjalan secara halus dan sistematis.

Angin politik rupanya tidak lagi sepoi-sepoi bahkan bisa menjurus menjadi puting beliung yang akan menggoyang partai beringin dengan begitu kerasnya. Jika tidak cepat memutar otak, Golkar memang akan ketinggalan kereta. Kalaupun sulit menjadi bakal capres di luar poros koalisi yang sudah ada, setidak-tidaknya Airlangga lincah bermanuver untuk menjadi bakal cawapres. Pilihannya ada tiga, berlabuh ke Anies Baswedan, Prabowo Subianto, atau Ganjar Pranowo.

Ketika pemilu tinggal hitungan bulan, publik tentu tidak ingin Golkar dilanda perpecahan. Potensi ke arah itu sangatlah terbuka mengingat kader-kader Golkar terkenal militan dan tidak takut berkonfrontasi untuk membela apa yang mereka anggap benar. Pemilu seharusnya menjadi pesta yang membahagiakan rakyat, bukan kontestasi banal sebatas ajang perebutan kekuasaan.



Berita Lainnya
  • Penghematan Tepat Sektor

    25/3/2026 05:00

    BERHEMAT adalah hal mutlak dalam menghadapi krisis global saat ini. Berhemat, khususnya BBM, merupakan adaptasi pertama dan minimal ketika Selat Hormuz belum juga aman.

  • Jalan Abu-Abu Status Tahanan Rumah

    24/3/2026 05:00

    PEMBERANTASAN korupsi di Indonesia kembali diuji. Di tengah persepsi publik bahwa praktik korupsi kian mengakar, langkah penegakan hukum justru dinilai melemah.

  • Privilese di KPK

    23/3/2026 05:00

    Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, atau yang akrab disapa Gus Yaqut, dilaporkan mendapatkan status tahanan rumah.

  • Memancarkan Takwa ke Sesama Manusia

    21/3/2026 05:00

    RAMADAN telah berlalu dan kini seluruh umat Islam di dunia merayakan Hari Raya Idul Fitri.

  • Peradilan Koneksitas untuk Penyiram Air Keras

    20/3/2026 05:00

    PENGUNGKAPAN identitas terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Andrie Yunus menjadi angin segar. 

  • Ujian Pengendalian Diri

    19/3/2026 05:10

    Ramadan dengan puasanya dan Nyepi dengan catur brata penyepiannya adalah dua jalan berbeda yang sama-sama menuju pada penguatan sikap pengendalian diri.

  • Kematangan Toleransi

    18/3/2026 05:00

    DALAM minggu ini, ada dua momentum besar ujian kematangan toleransi bangsa kita, yaitu Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 1447 Hijriah.

  • Korupsi tak Kunjung Henti

    17/3/2026 05:00

    TAK salah kiranya jika Transparency International menempatkan Indonesia di level rendah dalam pemberantasan korupsi sepanjang 2025.

  • Ujian HAM dan Demokrasi untuk Negara

    16/3/2026 05:00

    Peristiwa itu merupakan ancaman serius terhadap demokrasi dan perlindungan hak asasi manusia (HAM) di Indone

  • Antisipasi Tepat, Mudik Selamat

    14/3/2026 05:00

    GELOMBANG mudik Lebaran selalu menjadi ujian besar bagi kapasitas negara dalam mengelola mobilitas manusia berskala besar.

  • Merawat Optimisme Publik lewat Mudik

    13/3/2026 05:00

    BAGAIMANAPUN dampak situasi global saat ini, pemerintah harus bisa memastikan mudik Lebaran berlangsung aman dan lancar.

  • Negara Hadir untuk Menenangkan

    12/3/2026 05:00

    PEMERINTAH sejatinya lahir untuk melindungi, memberi kepastian, dan mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya.

  • Napas Panjang Antisipasi Perang

    11/3/2026 05:00

    Stok BBM untuk 21 hari yang selama ini disebut sebagai standar buffer operasional semestinya tidak dipandang sebagai zona aman.

  • Menajamkan Sistem Pengawasan

    10/3/2026 05:00

    LAILA Fathiah, dengan nama panggung Fadia Arafiq, menjadi kepala daerah kedelapan hasil pilkada serentak pada 2024 lalu yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

  • Menjaga Tunas Bangsa

    09/3/2026 05:00

    NEGARA akhirnya menunjukkan taringnya di jagat digital yang kian sulit dikendalikan.

  • Cegah Panik Amankan Mudik

    07/3/2026 05:00

    TEPAT sepekan lalu, negara superpower Amerika Serikat (AS) bersama sekondannya, Israel, membombardir Iran.