Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Konflik Papua Jangan Dianggap Sepele

11/7/2023 05:00
Konflik Papua Jangan Dianggap Sepele
Ilustrasi MI(MI/Seno)

DALAM kunjungannya ke tanah Papua pada Rabu (5/7) hingga Jumat (7/7) pekan lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menilai secara umum hampir 99% tidak ada masalah besar di Papua. Selama tiga hari beraktivitas di sana, tak satu pun gangguan yang ditemui Presiden.

Karena itu, ia meminta semua pihak tidak perlu membesar-besarkan masalah kecil yang terjadi di sana. "Karena memang secara umum, 99% itu enggak ada masalah. Jangan masalah kecil dibesar-besarkan. Semua di tempat, di mana pun di Papua kan juga aman-aman saja," begitu kata Jokowi saat akan mengakhiri lawatannya.

Pernyataan Presiden itu bisa jadi lebih ke upaya menentramkan hati warga Papua ketimbang menyodorkan fakta apa adanya. Bisa juga laporan terkini soal Papua belum sampai ke tangan Presiden saat pernyataan itu dikeluarkan. Pasalnya, hingga hari ini pilot maskapai Susi Air, Philip Mehrtens, masih disandera kelompok kriminal bersenjata (KKB). Pilot berkewarganegaraan Selandia Baru itu disandera sejak Februari 2023 dan kini proses pembebasannya malah berlarut-larut.

Baiklah jika penyanderaan itu diklasifikasikan Presiden sebagai masalah sepele yang tak perlu dibesarkan. Namun, bagaimana dengan masalah kekerasan bersenjata yang masih berlangsung hingga kini?

Dalam catatan Imparsial, LSM pemerhati hak asasi manusia, pada rentang tahun 2021–2022 saja, warga sipil, anggota TNI, dan Polri yang tewas sudah di atas 50 orang akibat konflik dengan kelompok kekerasan bersenjata (KKB). Belum lagi tahun-tahun sebelumnya, korban kekerasan dan pelanggaran HAM banyak terjadi di Papua.

Jika jumlah warga tewas dalam dua tahun itu masih belum juga dikategorikan sebagai masalah besar, publik tentu bertanya-tanya, masalah seperti apa yang bisa dikatakan besar oleh Presiden? Karena satu nyawa melayang saja sudah terlalu banyak Pak Presiden. Presiden sudah sekian kali berganti orang, tetapi konflik di sana tetap terpelihara. Konsep penyelesaian, mulai pendekatan keamanan hingga kesejahteraan, tak jua memberi hasil.

Dalam catatan Kementerian Keuangan, dalam kurun waktu 20 tahun sejak 2002, transfer dana pusat ke Papua totalnya mencapai Rp1.092 triliun. Dana itu mencakup dana otonomi khusus (otsus) dan dana tambahan infrastruktur (DTI) yang mencapai Rp138,65 triliun, transfer ke daerah dan dana desa (TKDD) Rp702,3 triliun, dan belanja kementerian/lembaga Rp251,29 triliun.

Namun, guyuran anggaran demikian besar tak juga membuat konflik mereda. Seringnya kunjungan Presiden ke Bumi Cendrawasih pun belum menjadi jaminan persoalan di sana sudah selesai. Dua penyelesaian itu saja sebagai cerminan bahwa persoalan di sana tak bisa dianggap sepele. Ada baiknya pemerintah mulai merancang kembali dari titik nol, duduk bersama dengan para tokoh Papua, untuk menyusun skema penyelesaian tanpa ada rasa saling curiga.

Pembahasan bisa berangkat dari hasil riset Tim Kajian Papua dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang pada 2021 mengungkapkan, sedikitnya ada empat akar konflik di Papua. Akar pertama, masih adanya perbedaan perspektif sejarah dan status politik Papua saat proses integrasi ke NKRI. Kedua, yakni kekerasan dan pelanggaran HAM, utamanya selama pemerintahan Orde Baru berkuasa. Ketiga, kegagalan pembangunan di Papua. Riset LIPI pada tahun 2004 sampai 2008 menemukan, sekalipun pada masa itu sudah berlaku status otonomi khusus, guyuran dana otsus belum mampu meningkatkan kesejahteraan warga Papua.

Berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri, pada 2022 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Papua dan Papua Barat sangat rendah, yakni di level 61,39 dan 65,89, jauh di bawah rata-rata IPM nasional 72,91. IPM itu menjadi alat ukur pemerintah untuk menakar harapan hidup, melek huruf, pendidikan, dan standar hidup sebuah provinsi.

Lalu akar konflik yang terakhir adalah berkaitan dengan diskriminasi. LIPI melaporkan, masih adanya persoalan diskriminasi rasialis yang marak dan terjadi di sana, terutama menyasar orang asli Papua.

Konflik Papua jangan dianggap sepele, dianggap remeh, karena faktanya pemerintah pusat belum bisa menyelesaikan konflik di Bumi Cendrawasih secara berkeadilan dan beradab. Dari 7 presiden Republik Indonesia, hanya Presiden Jokowi yang paling sering mengunjungi Papua, yakni sebanyak 16 kali kunjungan. Namun, kunjungan Jokowi akan memiliki makna jika konflik Papua segera bisa dituntaskan. Rakyat Papua merindukan kedamaian sejati.



Berita Lainnya
  • Menyiasati Krisis Energi

    04/3/2026 05:00

    PERANG di Timur Tengah telah berlangsung selama lebih dari tiga hari. Dampaknya mulai dirasakan oleh berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.

  • Mobil Mewah bukan Penentu Muruah

    03/3/2026 05:00

    SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.

  • Saatnya Semua Menahan Diri

    02/3/2026 05:00

    SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

  • Menambal Defisit tanpa Bebani Rakyat

    28/2/2026 05:00

    PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.

  • Menata Ulang Efektivitas Demokrasi

    27/2/2026 05:00

    PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.

  • Krisis Ruang Digital Anak

    26/2/2026 05:00

    RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.

  • Ungkap Otak Sindikat Narkoba

    25/2/2026 05:00

    FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.

  • Menagih Imbal Hasil Investasi Pendidikan

    24/2/2026 05:00

    Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.

  • Sigap Membaca Perubahan Amerika

    23/2/2026 05:00

    DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.

  • Hasil Gemilang Negosiasi Dagang

    21/2/2026 05:00

    Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.

  • Memitigasi Penutupan Selat Hormuz

    20/2/2026 05:00

    IRAN menutup sementara Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara adidaya Amerika Serikat.

  • Ramadan Mempersatukan

    19/2/2026 05:00

    SEPERTI pada 2022 dan 2024, juga pada banyak tahun sebelumnya, perbedaan jatuhnya 1 Ramadan kembali terjadi di Indonesia dan sejumlah negara lain.

  • Kendalikan Harga Segera

    18/2/2026 05:00

    KENAIKAN harga bahan pokok menjelang Ramadan kembali terulang. Polanya nyaris seragam dari tahun ke tahun.

  • Imlek dan Ramadan Merajut Tenun Kebangsaan

    17/2/2026 05:00

    SUDAH lebih dari dumedia a dekade, Hari Raya Imlek berdiri tegak sebagai simbol kematangan Republik dalam merawat keberagaman.

  • Meneror Penggarong Uang Negara

    16/2/2026 05:00

    BADAN Pusat Statistik (BPS), awal Februari lalu, baru saja merilis angka pertumbuhan ekonomi yang dapat dicapai Indonesia sepanjang 2025, yakni 5,11% secara tahunan.

  • Percepat Rekonstruksi, Pulihkan Harapan

    14/2/2026 05:00

    DI antara puing-puing yang perlahan berganti struktur permanen, tersimpan doa ribuan warga terdampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.