Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Beban Berat Kereta Cepat

30/6/2023 21:00
Beban Berat Kereta Cepat
Ilustrasi MI(MI/Duta)

DI balik kesuksesan uji coba kereta cepat Jakarta-Bandung (KCJB), pekan lalu, ganjalan persoalan terkait dengan pembengkakan biaya (cost overrun) proyek kereta cepat ambisius itu sejatinya masih belum terselesaikan.

Beberapa waktu lalu, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) bahkan memberikan rekomendasi kepada Menteri Keuangan Sri Mulyani perihal pembengkakan biaya tersebut. Dalam laporan hasil pemeriksaan atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat 2022, BPK mengungkapkan skema penyelesaian komponen cost overrun proyek KCJB di luar hasil kesepakatan Indonesia-Tiongkok belum ditetapkan.

Pembengkakan biaya itu kalau dirupiahkan mencapai Rp18 triliun. Awalnya, anggaran pembangunan KCJB direncanakan sekitar Rp113 triliun, tapi kemudian anggaran itu meroket menjadi Rp131 triliun. Kenaikan anggaran sudah disepakati pemerintah Indonesia dan Tiongkok, tetapi skema penyelesaiannya sampai hari ini belum jelas.

BPK dalam laporannya menyatakan khawatir pendanaan cost overrun proyek KCJB dari porsi pinjaman berpotensi membebani keuangan PT KAI (persero). Apalagi hingga saat ini belum terlihat strategi pemenuhan pendanaan cost overrun baik yang akan dilakukan pemerintah maupun KAI, termasuk bagaimana mitigasi risikonya.

Pemerintah boleh saja jemawa dengan rampungnya proyek kereta cepat pertama di Asia Tenggara itu. Tidak masalah pula pemerintah sudah mengantongi rencana matang KCJB bakal mulai dioperasikan pada 18 Agustus 2023. Publik bahkan sudah menutup mata dengan janji palsu pemerintah yang di awal perencanaan proyek kereta cepat tersebut menggaransi tidak ada sepeser pun uang dari APBN akan dipakai, tapi nyatanya dipakai.

Namun, penerimaan publik itu mestinya jangan justru membuat pemerintah menyalahartikan bahwa kemudian mereka bisa seenaknya melanjutkan ambisi itu dengan meninggalkan berbagai residu persoalan. Ingat, dengan pembengkakan biaya hingga belasan triliun rupiah itu, risiko ekonomi terbesar jelas akan ditanggung pemerintah Indonesia, bukan Tiongkok.

Karena itu, kita perlu ingatkan pemerintah untuk lebih serius menyelesaikan persoalan pendanaan cost overrun itu agar tidak menjadi beban menumpuk di kemudian hari. Selain serius, pemerintah juga harus ngotot, seperti ngototnya mereka dahulu, ketika mulai menjalankan pembangunan proyek itu meskipun kritik, kontrol, atau peringatan bertubi-tubi disuarakan publik.

Saat itu mereka mungkin masih bisa mengabaikan suara publik, tapi sekarang tidak. Suara publik harus didengar karena jangan sampai masalah pendanaan ini dibiarkan berlarut dan akhirnya justru membebani perekonomian negara. Bukankah tujuan awal pembangunan KCJB itu untuk menggerakkan ekonomi, bukan sebaliknya, malah menciptakan beban ekonomi?

Proyek fisik KCJB barangkali sebentar lagi paripurna dan secara tampilan akan terlihat keren dan mentereng. Akan tetapi, kalau di dalamnya masih meninggalkan persoalan yang mungkin akan membuat negara babak belur, apa masih layak dibanggakan? Alih-alih menjawab temuan auditor negara, pemerintah malah mewacanakan proyek kereta cepat Jakarta-Surabaya.

Prinsip bagaimana nanti dalam membangun proyek mercusuar harus dibuah jauh, sejauh-jauhnya.



Berita Lainnya
  • Menyiasati Krisis Energi

    04/3/2026 05:00

    PERANG di Timur Tengah telah berlangsung selama lebih dari tiga hari. Dampaknya mulai dirasakan oleh berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.

  • Mobil Mewah bukan Penentu Muruah

    03/3/2026 05:00

    SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.

  • Saatnya Semua Menahan Diri

    02/3/2026 05:00

    SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

  • Menambal Defisit tanpa Bebani Rakyat

    28/2/2026 05:00

    PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.

  • Menata Ulang Efektivitas Demokrasi

    27/2/2026 05:00

    PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.

  • Krisis Ruang Digital Anak

    26/2/2026 05:00

    RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.

  • Ungkap Otak Sindikat Narkoba

    25/2/2026 05:00

    FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.

  • Menagih Imbal Hasil Investasi Pendidikan

    24/2/2026 05:00

    Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.

  • Sigap Membaca Perubahan Amerika

    23/2/2026 05:00

    DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.

  • Hasil Gemilang Negosiasi Dagang

    21/2/2026 05:00

    Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.

  • Memitigasi Penutupan Selat Hormuz

    20/2/2026 05:00

    IRAN menutup sementara Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara adidaya Amerika Serikat.

  • Ramadan Mempersatukan

    19/2/2026 05:00

    SEPERTI pada 2022 dan 2024, juga pada banyak tahun sebelumnya, perbedaan jatuhnya 1 Ramadan kembali terjadi di Indonesia dan sejumlah negara lain.

  • Kendalikan Harga Segera

    18/2/2026 05:00

    KENAIKAN harga bahan pokok menjelang Ramadan kembali terulang. Polanya nyaris seragam dari tahun ke tahun.

  • Imlek dan Ramadan Merajut Tenun Kebangsaan

    17/2/2026 05:00

    SUDAH lebih dari dumedia a dekade, Hari Raya Imlek berdiri tegak sebagai simbol kematangan Republik dalam merawat keberagaman.

  • Meneror Penggarong Uang Negara

    16/2/2026 05:00

    BADAN Pusat Statistik (BPS), awal Februari lalu, baru saja merilis angka pertumbuhan ekonomi yang dapat dicapai Indonesia sepanjang 2025, yakni 5,11% secara tahunan.

  • Percepat Rekonstruksi, Pulihkan Harapan

    14/2/2026 05:00

    DI antara puing-puing yang perlahan berganti struktur permanen, tersimpan doa ribuan warga terdampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.