Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
SESUAI dengan namanya, Mahkamah Agung, ia ialah personifikasi dari sebuah lembaga yang agung. Keagungan itu semestinya tecermin pada semua hal yang ada di dalamnya. Tidak hanya dari kebijakan atau keputusan yang dihasilkan lembaga itu, tetapi juga tindak-tanduk dari orang-orang yang menghasilkan keputusan tersebut.
Dalam praktiknya itu memang tidak mudah. Tidak segampang yang diucapkan.
Sudah berkali-kali Mahkamah Agung (MA) justru mengingkari keagungan mereka. Lembaga yang juga kerap dianalogikan sebagai benteng terakhir para pencari keadilan itu ternyata tidak sekukuh yang kita harapkan. Keagungan lembaga itu teramat mudah tergadai oleh korupsi dan suap.
Kasus dugaan korupsi, suap, dan bahkan tindak pidana pencucian uang (TPPU) bertubi-tubi menjerat MA. Pelakunya bukan orang lain, melainkan orang-orang mereka sendiri, pejabat mereka sendiri. Mereka sangat paham bagaimana hukum harus ditegakkan, terutama untuk kejahatan luar biasa seperti korupsi, tetapi malah tanpa malu-malu mengkhianatinya.
Penetapan tersangka terhadap Sekretaris MA Hasbi Hasan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas kasus dugaan suap penanganan perkara lagi-lagi memberi bukti komitmen MA terhadap pemberantasan korupsi layak dipertanyakan. Mengapa? Karena Hasbi bukan contoh satu-satunya.
Kasus itu hanyalah rentetan dari banyak kasus dugaan suap dan korupsi lain yang melibatkan orang-orang penting di MA. Sebelum Hasbi, dua hakim agung MA, Sudrajad Dimyati dan Gazalba Saleh, sudah lebih dulu menjadi pesakitan di KPK. Sudrajad malah sudah dijatuhi hukuman pidana 13 tahun penjara dalam kasus dugaan suap penanganan perkara kasasi pailit KSP Intidana.
Sebelum itu, 'senior' Hasbi di posisi Sekretaris MA, yaitu Nurhadi, bahkan lebih serakah. Ia ditetapkan sebagai tersangka kasus suap, gratifikasi, dan TPPU, juga dalam kaitan dengan penanganan perkara. Nurhadi bahkan sempat berkelit dari jeratan hukum melalui jaringan yang dia punya baik di politik maupun kepolisian. Cerita akhirnya pun indah bagi Nurhadi karena ia hanya mendapat hukuman ringan 6 tahun penjara.
Berkali-kali kasus menerpa MA, berkali-kali itu pula kita selalu mendesak sang benteng keadilan itu memperkuat tembok dan fondasi mereka agar tak tembus lilitan jahat rasuah. Setiap kali memberitakan kasus korupsi di lingkungan MA, saat itu pula kita selalu mengingatkan agar lembaga itu mereformasi diri, bahkan bila perlu merevolusi diri.
Namun, janji reformasi di tubuh MA rupanya selalu menjadi omong kosong belaka. Dari rentetan kasus yang terjadi di lembaga tersebut, kita bisa katakan komitmen MA dalam pemberantasan korupsi senyatanya hampir nihil. Mendekati nol. Tidak terlihat upaya mereka baik untuk mengungkit integritas lembaga maupun orang-orang di dalamnya meski kini sedang berada dalam titik terendah.
Lantas, bagaimana publik bisa berharap pada sang benteng keadilan kalau mereka tidak punya kehendak untuk berubah? Saat ini harus diakui, MA sedang krisis keteladanan dari para pemimpinnya. Bayangkan saja, hakim agung korupsi, sekretaris lembaga pun korupsi, lalu keteladanan macam apa yang mereka tunjukkan?
Karena itu, tidak ada cara lain, MA harus segera melakukan perubahan mendasar dalam beberapa aspek demi menjauhkan lembaga itu dari korupsi sekaligus mengembalikan muruah yang tercoreng. Tata kelola lembaga, terutama yang berkait dengan iktikad untuk mencegah sekaligus memberangus korupsi harus diperbaiki.
Pola pembinaan, pengawasan, hingga manajemen harus direformasi dengan serius, bukan ala kadarnya. Tanpa keseriusan, jangan pula kita kaget di waktu mendatang, kasus-kasus yang melibatkan pejabat MA akan terus bermunculan.
DI tengah langkah penghematan energi sebagai antisipasi terhadap gejolak global, pemerintah memastikan untuk tidak memberlakukan pembelajaran daring bagi para siswa.
BERHEMAT adalah hal mutlak dalam menghadapi krisis global saat ini. Berhemat, khususnya BBM, merupakan adaptasi pertama dan minimal ketika Selat Hormuz belum juga aman.
PEMBERANTASAN korupsi di Indonesia kembali diuji. Di tengah persepsi publik bahwa praktik korupsi kian mengakar, langkah penegakan hukum justru dinilai melemah.
Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, atau yang akrab disapa Gus Yaqut, dilaporkan mendapatkan status tahanan rumah.
RAMADAN telah berlalu dan kini seluruh umat Islam di dunia merayakan Hari Raya Idul Fitri.
PENGUNGKAPAN identitas terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Andrie Yunus menjadi angin segar.
Ramadan dengan puasanya dan Nyepi dengan catur brata penyepiannya adalah dua jalan berbeda yang sama-sama menuju pada penguatan sikap pengendalian diri.
DALAM minggu ini, ada dua momentum besar ujian kematangan toleransi bangsa kita, yaitu Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 1447 Hijriah.
TAK salah kiranya jika Transparency International menempatkan Indonesia di level rendah dalam pemberantasan korupsi sepanjang 2025.
Peristiwa itu merupakan ancaman serius terhadap demokrasi dan perlindungan hak asasi manusia (HAM) di Indone
GELOMBANG mudik Lebaran selalu menjadi ujian besar bagi kapasitas negara dalam mengelola mobilitas manusia berskala besar.
BAGAIMANAPUN dampak situasi global saat ini, pemerintah harus bisa memastikan mudik Lebaran berlangsung aman dan lancar.
PEMERINTAH sejatinya lahir untuk melindungi, memberi kepastian, dan mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya.
Stok BBM untuk 21 hari yang selama ini disebut sebagai standar buffer operasional semestinya tidak dipandang sebagai zona aman.
LAILA Fathiah, dengan nama panggung Fadia Arafiq, menjadi kepala daerah kedelapan hasil pilkada serentak pada 2024 lalu yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
NEGARA akhirnya menunjukkan taringnya di jagat digital yang kian sulit dikendalikan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved