Headline
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
Kumpulan Berita DPR RI
TOLERANSI memang bukan hal baru bagi bangsa kita. Keramahan yang menjadi karakter sejak zaman nenek moyang pun merupakan wujud dari jiwa toleransi.
Sepanjang perjalanan bangsa ini, kita telah melihat toleransi yang semakin dewasa. Sejumlah gejolak yang terjadi, termasuk politik identitas, tidak memutus persaudaraan.
Awal Ramadan 1444 Hijriah ini pun kita menyaksikan toleransi yang tinggi antarumat beragama di Bali. Tarawih pertama yang jatuh bertepatan dengan Hari Raya Nyepi tidak mengurangi sukacita maupun kekhusyukan beribadah umat Islam maupun umat Hindu.
Muslim di Pulau Dewata tetap bisa bertawarih di masjid dengan sejumlah aturan yang merupakan kesepakatan Majelis Desa Adat (MDA) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bali. Aturan tersebut di antaranya tidak menggunakan kendaraan atau hanya dengan berjalan kaki, tidak menggunakan pengeras suara, dan hanya menggunakan penerangan yang terbatas.
Aturan itu bukan kemenangan satu pihak. Justru, ini merupakan jalan tengah bagi kemenangan bersama. Sebab, di satu sisi keutamaan berjemaah dapat tetap dicapai umat Islam, di sisi lain umat Hindu juga tidak terusik dalam menaati empat pantangan saat Nyepi. Tidak mengherankan jika pelaksanaan Tarawih pertama di Bali berjalan baik, seperti halnya di wilayah-wilayah lain di Nusantara.
Semangat persaudaraan itu pula yang semestinya terus ada sepanjang Ramadan karena di Bulan Suci ini memang bukan hanya untuk meningkatkan kesalehan ritual, tapi juga kesalehan sosial.
Maka, umat Islam pula yang seharusnya menjadi paling depan dalam menjunjung persaudaraan, termasuk bertoleransi. Harus diakui, hingga kini, masih ada saja muslim di Indonesia yang mengartikan status umat mayoritas dengan serbamanja dalam beribadah.
Demi alasan ibadah, muslim di beberapa tempat bisa mudah sewenang-wenang, bahkan sampai melanggar hukum. Jangankan kedamaian lingkungan, penghidupan orang lain pun tak dihiraukan dengan alasan kekhusyukan ibadah.
Di beberapa kasus, ada pula muslim yang membelokkan masalah kriminal ataupun sosial umum ke isu agama. Hal itu sangat berbahaya karena amat mudah menyulut emosi masyarakat dan dapat berakhir sangat tragis.
Ironisnya, kesewenang-wenangan bukan hanya dilakukan tingkat perorangan maupun warga, melainkan juga oleh organisasi. Para pengurus organisasi yang belum satu pikiran dalam memahami toleransi dapat berakhir ke kebijakan yang bertentangan.
Contohnya saja, imbauan penutupan warung makan yang dikeluarkan Majelis Ulama Indonesi (MUI) Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, tahun lalu, yang kemudian diluruskan MUI Pusat menjadi imbauan penggunaan tirai. Berbagai arogansi atas nama umat mayoritas itu tidak boleh terjadi lagi pada Ramadan ini maupun seterusnya di masa mendatang.
Tokoh maupun umat harus menyadari bahwa toleransi justru harus dikuatkan demi menghadapi tantangan zaman yang amat berat sekarang ini. Betul bahwa ada rambu-rambu yang harus dihormati antarumat beragama, tetapi diskusi tetaplah harus diutamakan ketimbang arogansi umat.
Untuk menghasilkan itu, seluruh tokoh muslim, baik pendakwah, cendekiawan, maupun pengusaha haruslah menjadi contoh pejuang persaudaraan di lingkup masing-masing. Ini pun bukan sekadar dalam ceramah dan petuah-petuah, melainkan senyatanya di keseharian.
Sebab itu, adanya diskusi-diskusi yang merangkul kalangan lintas agama sudah semestinya terus didorong. Para pendakwah dan tokoh agama juga diharapkan memperluas jangkauan dakwah mereka di luar tembok-tembok rumah ibadah maupun sekolah.
Tokoh-tokoh agama yang terjun langsung di tengah masyarakat dan di berbagai aktivitaslah yang sesungguhnya dapat menyuntikkan semangat toleransi dengan lebih nyata dan efektif. Dari situ pula, barulah umat Islam akan benar-benar menjadi umat penyebar kedamaian.
RUANG publik kembali disuguhi dinamika penegakan hukum yang menimbulkan kegelisahan.
SABTU (28/3) lalu, genap satu bulan prahara di Timur Tengah berlangsung.
MULAI hari ini, 28 Maret 2026, jagat digital Indonesia memasuki babak baru yang krusial.
SETIAP musim mudik Lebaran tiba, pemerintah seolah kembali memasuki arena uji publik yang tak pernah benar-benar usai
DI tengah langkah penghematan energi sebagai antisipasi terhadap gejolak global, pemerintah memastikan untuk tidak memberlakukan pembelajaran daring bagi para siswa.
BERHEMAT adalah hal mutlak dalam menghadapi krisis global saat ini. Berhemat, khususnya BBM, merupakan adaptasi pertama dan minimal ketika Selat Hormuz belum juga aman.
PEMBERANTASAN korupsi di Indonesia kembali diuji. Di tengah persepsi publik bahwa praktik korupsi kian mengakar, langkah penegakan hukum justru dinilai melemah.
Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, atau yang akrab disapa Gus Yaqut, dilaporkan mendapatkan status tahanan rumah.
RAMADAN telah berlalu dan kini seluruh umat Islam di dunia merayakan Hari Raya Idul Fitri.
PENGUNGKAPAN identitas terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Andrie Yunus menjadi angin segar.
Ramadan dengan puasanya dan Nyepi dengan catur brata penyepiannya adalah dua jalan berbeda yang sama-sama menuju pada penguatan sikap pengendalian diri.
DALAM minggu ini, ada dua momentum besar ujian kematangan toleransi bangsa kita, yaitu Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 1447 Hijriah.
TAK salah kiranya jika Transparency International menempatkan Indonesia di level rendah dalam pemberantasan korupsi sepanjang 2025.
Peristiwa itu merupakan ancaman serius terhadap demokrasi dan perlindungan hak asasi manusia (HAM) di Indone
GELOMBANG mudik Lebaran selalu menjadi ujian besar bagi kapasitas negara dalam mengelola mobilitas manusia berskala besar.
BAGAIMANAPUN dampak situasi global saat ini, pemerintah harus bisa memastikan mudik Lebaran berlangsung aman dan lancar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved