Headline
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
Kumpulan Berita DPR RI
POLITIK, demokrasi, beserta seluruh instrumen yang membangun mereka semestinya ada dan diselenggarakan dengan tujuan menyatukan. Seburuk-buruknya politik ialah ketika dia justru hadir dengan wajah memecah belah, mengotak-ngotakkan, dan pada saat yang sama menciptakan polarisasi yang masif.
Bukan politik seperti itu yang dicita-citakan para pendiri bangsa ini. Kebebasan yang menyertai sistem demokrasi hendaknya tidak disalahartikan menjadi kebebasan yang kebablasan, kebebasan yang ugal-ugalan. Demokrasi bukan berarti bebas tanpa batas, yang pada akhirnya malah akan merusak simpul-simpul persatuan yang sudah terjalin.
Kontestasi politik sebagai perwujudan demokrasi pun harus menjadi ajang untuk mengeratkan persatuan. Pada poin itulah sesungguhnya nilai minus dari penyelengaraan Pemilu 2019. Harus diakui, Pemilu 2019 telah memunculkan perpecahan di mana-mana. Tidak hanya parpol, bahkan antaranggota keluarga pun bisa bertikai gara-gara perbedaan pendapat atau pilihan.
Tentu ada yang menikmatinya, tetapi jauh lebih banyak orang yang tergilas karena menjadi korban perpecahan dan pembelahan itu. Lantas, apakah kita akan membiarkan saja ketika kenikmatan segelintir orang itu harus mengorbankan anak bangsa yang lain, bahkan mengorbankan persatuan bangsa?
Dalam konteks tersebut, kita sepakat dengan pernyataan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh yang disampaikan dengan gaya sarkasme saat meresmikan Kantor DPW Partai NasDem Aceh, Senin (27/6). "Buat apa pemilu jika bangsa ini terpecah? Lebih baik tidak ada pemilu kalau itu memberikan konsekuensi membuat perpecahan," kata dia.
Pernyataan itu tentu tidak mengandung maksud untuk menolak pemilu. Itu ialah sindiran keras kepada para pelaku demokrasi, terutama elite politik, yang gemar memproduksi narasi-narasi kebencian dan kebohongan hanya demi mendapatkan suara tanpa melihat risiko dan konsekuensinya.
Pernyataan itu sekaligus punya spirit ajakan kepada seluruh pihak, terutama partai politik, untuk mulai menjadikan pemilu sebagai alat menjaga keutuhan bangsa. Kontestasi demokrasi tak seharusnya membuat rakyat terberai dan menihilkan rasa persatuan. Pemilu tidak boleh malah menjadi arena untuk memecah belah bangsa.
Sudah letih Ibu Pertiwi ini melihat anak-anaknya terus berselisih bahkan bertengkar hanya karena perbedaan pilihan dan pandangan politik. Terlalu banyak persoalan yang mesti dihadapi bangsa ini yang tak mungkin bisa terlewati jika tidak ada energi persatuan sebagai titik tumpunya.
Pemilu 2019 cukuplah menjadi refleksi 'kegagalan' kita dalam mengimplementasikan esensi demokrasi. Gara-gara itu, demokrasi menjadi kerap dipersepsikan negatif, dianggap seolah-olah sebagai sistem yang menyebabkan bangsa terbelah.
Karena itu, Pemilu 2024 betul-betul akan menjadi ujian bagi Republik ini. Kita harus membangun kembali monumen keindahan demokrasi melalui sebuah proses dan sistem pemilu yang jauh lebih mencerahkan ketimbangkan sebelumnya.
Apa ukuran mencerahkan itu? Jika kita menginginkan politik dan demokrasi yang mempersatukan, instrumen pemilu semestinya juga kita perjuangkan menjadi sebuah kontestasi yang mempersatukan, menyejukkan, sekaligus menggembirakan.
Dari situ kita bisa berharap akan hadirnya demokrasi yang tidak hanya mampu mendinginkan suasana dan jauh dari niat memecah belah, tetapi juga demokrasi yang mempertahankan spirit persatuan dan kesatuan bangsa.
Kalau tetap tidak bisa, ya, benar kata Surya Paloh, buat apa ada pemilu kalau malah memecah belah bangsa?
RUANG publik kembali disuguhi dinamika penegakan hukum yang menimbulkan kegelisahan.
SABTU (28/3) lalu, genap satu bulan prahara di Timur Tengah berlangsung.
MULAI hari ini, 28 Maret 2026, jagat digital Indonesia memasuki babak baru yang krusial.
SETIAP musim mudik Lebaran tiba, pemerintah seolah kembali memasuki arena uji publik yang tak pernah benar-benar usai
DI tengah langkah penghematan energi sebagai antisipasi terhadap gejolak global, pemerintah memastikan untuk tidak memberlakukan pembelajaran daring bagi para siswa.
BERHEMAT adalah hal mutlak dalam menghadapi krisis global saat ini. Berhemat, khususnya BBM, merupakan adaptasi pertama dan minimal ketika Selat Hormuz belum juga aman.
PEMBERANTASAN korupsi di Indonesia kembali diuji. Di tengah persepsi publik bahwa praktik korupsi kian mengakar, langkah penegakan hukum justru dinilai melemah.
Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, atau yang akrab disapa Gus Yaqut, dilaporkan mendapatkan status tahanan rumah.
RAMADAN telah berlalu dan kini seluruh umat Islam di dunia merayakan Hari Raya Idul Fitri.
PENGUNGKAPAN identitas terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Andrie Yunus menjadi angin segar.
Ramadan dengan puasanya dan Nyepi dengan catur brata penyepiannya adalah dua jalan berbeda yang sama-sama menuju pada penguatan sikap pengendalian diri.
DALAM minggu ini, ada dua momentum besar ujian kematangan toleransi bangsa kita, yaitu Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 1447 Hijriah.
TAK salah kiranya jika Transparency International menempatkan Indonesia di level rendah dalam pemberantasan korupsi sepanjang 2025.
Peristiwa itu merupakan ancaman serius terhadap demokrasi dan perlindungan hak asasi manusia (HAM) di Indone
GELOMBANG mudik Lebaran selalu menjadi ujian besar bagi kapasitas negara dalam mengelola mobilitas manusia berskala besar.
BAGAIMANAPUN dampak situasi global saat ini, pemerintah harus bisa memastikan mudik Lebaran berlangsung aman dan lancar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved