Headline
Membicarakan seputar Ramadan sampai dinamika geopolitik.
Kumpulan Berita DPR RI
SETELAH dua tahun jeda karena pandemi, Lebaran tahun ini kembali bakal diwarnai dengan 'ritual perjalanan' bernama pulang kampung alias mudik. Bahkan setelah tertahan selama dua tahun, kendati wabah covid-19 masih ada, gelegak masyarakat untuk mudik diprediksi naik berlipat-lipat, melampaui musim-musim Lebaran sebelum pandemi.
Hasil survei Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Perhubungan (Balitbang Kemenhub), beberapa waktu lalu, membuktikan bahwa hal itu bukanlah omong kosong. Jumlah pemudik memang diprediksi melonjak drastis. Survei itu memperkirakan ada 85,5 juta orang akan melakukan perjalanan mudik pada masa Lebaran 2022.
Artinya, mudik kali ini tidak hanya akan melibatkan sepertiga dari penduduk Indonesia, tapi juga naik hampir empat kali lipat dari jumlah pemudik pada Lebaran 2019 lalu yang menurut hitungan Kementerian Perhubungan sebanyak 23 juta orang. Sebuah angka yang fantastis, yang menuntut pemerintah mesti berpikir dan bekerja ekstrakeras untuk menentukan rekayasa dan manajemen mudik yang tepat.
Jalur darat menjadi yang paling favorit menurut survei tersebut dengan menguasai 78% perjalanan mudik. Terdiri atas 47% menggunakan transportasi pribadi (mobil dan sepeda motor) dan 31% moda transportasi umum (bus dan travel). Sisanya menggunakan transportasi kereta 10%, transportasi udara 10%, dan transportasi laut hanya 2%.
Dengan angka itu, penanganan mudik di jalur darat hampir bisa dipastikan menjadi yang paling memusingkan, terutama, tentu saja, di Pulau Jawa karena mobilitas mudik akan lebih banyak berkutat di wilayah tersebut. Di sinilah sejatinya pertaruhan pemerintah sebagai regulator perjalanan mudik. Inilah ujian paling berat terhadap manajemen transportasi dan lalu lintas di Republik kita.
Tak berselang lama setelah pemerintah resmi mengizinkan mudik, sejumlah kementerian terkait bersama kepolisian memang telah menyusun rekayasa serta strategi untuk mengurangi kemacetan di periode-periode padat arus mudik dan arus balik. Di antaranya ialah penerapan sistem satu arah (one way) dan ganjil-genap di tanggal dan jam tertentu di tol sepanjang pantura Jawa.
Namun, sepertinya itu belum cukup membuat pemerintah percaya diri. Jumlah pemudik yang luar biasa banyak memang ibarat kekuatan tersembunyi yang sewaktu-waktu bisa merusak semua rencana dan rekayasa yang telah disiapkan. Apa pun strateginya tidak akan banyak berarti kalau dalam praktiknya pemudik membeludak di waktu yang bersamaan.
Maka, tidak tanggung-tanggung, Presiden Joko Widodo pun sampai harus menyerukan agar para pemudik bisa melakukan perjalanan mudik lebih awal demi menghindari kemacetan parah di puncak arus mudik 28-30 April 2022. "Saya mengajak masyarakat mudik lebih awal dan tentu saja menyesuaikan jadwal libur dari tempat pekerjaan," kata Jokowi.
Tentu ini satu seruan atau imbauan yang penting dan kiranya mesti kita dukung. Namun, persoalannya ada pada frasa 'menyesuaikan jadwal libur dari tempat pekerjaan'. Faktanya, karena pemerintah menetapkan cuti bersama mulai 29 April, hampir semua kantor mengikuti aturan itu dan masih menerapkan jam kerja normal hingga 28 April.
Lalu bagaimana para pegawai negeri sipil (PNS) ataupun karyawan swasta dapat melaksanakan imbauan presiden untuk mudik lebih awal jika tempat dia bekerja tidak mengizinkan? Begitu pun dengan anak sekolah karena tidak sedikit sekolah yang baru meliburkan siswanya pada 29 April. Hal-hal semacam ini terkesan remeh, tapi sesungguhnya itu menunjukkan ketidaksinkronan antara aturan dan imbauan pemerintah.
Jalan keluarnya barangkali pemerintah melakukan pengembangan atas imbauan tentang mudik awal itu dengan menerbitkan surat keputusan bersama sejumlah menteri, misalnya, agar semua kantor pemerintah maupun swasta dan sekolah mengizinkan karyawan dan siswa dapat bekerja dan belajar dari luar kantor/sekolah.
Mumpung masih ada waktu. Sebab. kalau tidak, percuma mengimbau jangan mudik pada 28-30 April, sementara orangtua dan anak masih harus ke kantor dan sekolah pada hari-hari itu.
DUNIA kembali berdiri di tepi pusaran krisis. Ketidakpastian global menjelma menjadi badai yang sulit diprediksi arahnya.
PERANG di Timur Tengah telah berlangsung selama lebih dari tiga hari. Dampaknya mulai dirasakan oleh berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.
SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.
PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.
RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.
FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.
Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.
DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.
Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.
IRAN menutup sementara Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara adidaya Amerika Serikat.
SEPERTI pada 2022 dan 2024, juga pada banyak tahun sebelumnya, perbedaan jatuhnya 1 Ramadan kembali terjadi di Indonesia dan sejumlah negara lain.
KENAIKAN harga bahan pokok menjelang Ramadan kembali terulang. Polanya nyaris seragam dari tahun ke tahun.
SUDAH lebih dari dumedia a dekade, Hari Raya Imlek berdiri tegak sebagai simbol kematangan Republik dalam merawat keberagaman.
BADAN Pusat Statistik (BPS), awal Februari lalu, baru saja merilis angka pertumbuhan ekonomi yang dapat dicapai Indonesia sepanjang 2025, yakni 5,11% secara tahunan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved