Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Dukung Mudik Lebih Awal

22/4/2022 05:00
Dukung Mudik Lebih Awal
(MI/Duta)

 

SETELAH dua tahun jeda karena pandemi, Lebaran tahun ini kembali bakal diwarnai dengan 'ritual perjalanan' bernama pulang kampung alias mudik. Bahkan setelah tertahan selama dua tahun, kendati wabah covid-19 masih ada, gelegak masyarakat untuk mudik diprediksi naik berlipat-lipat, melampaui musim-musim Lebaran sebelum pandemi.

Hasil survei Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Perhubungan (Balitbang Kemenhub), beberapa waktu lalu, membuktikan bahwa hal itu bukanlah omong kosong. Jumlah pemudik memang diprediksi melonjak drastis. Survei itu memperkirakan ada 85,5 juta orang akan melakukan perjalanan mudik pada masa Lebaran 2022.

Artinya, mudik kali ini tidak hanya akan melibatkan sepertiga dari penduduk Indonesia, tapi juga naik hampir empat kali lipat dari jumlah pemudik pada Lebaran 2019 lalu yang menurut hitungan Kementerian Perhubungan sebanyak 23 juta orang. Sebuah angka yang fantastis, yang menuntut pemerintah mesti berpikir dan bekerja ekstrakeras untuk menentukan rekayasa dan manajemen mudik yang tepat.

Jalur darat menjadi yang paling favorit menurut survei tersebut dengan menguasai 78% perjalanan mudik. Terdiri atas 47% menggunakan transportasi pribadi (mobil dan sepeda motor) dan 31% moda transportasi umum (bus dan travel). Sisanya menggunakan transportasi kereta 10%, transportasi udara 10%, dan transportasi laut hanya 2%.

Dengan angka itu, penanganan mudik di jalur darat hampir bisa dipastikan menjadi yang paling memusingkan, terutama, tentu saja, di Pulau Jawa karena mobilitas mudik akan lebih banyak berkutat di wilayah tersebut. Di sinilah sejatinya pertaruhan pemerintah sebagai regulator perjalanan mudik. Inilah ujian paling berat terhadap manajemen transportasi dan lalu lintas di Republik kita.

Tak berselang lama setelah pemerintah resmi mengizinkan mudik, sejumlah kementerian terkait bersama kepolisian memang telah menyusun rekayasa serta strategi untuk mengurangi kemacetan di periode-periode padat arus mudik dan arus balik. Di antaranya ialah penerapan sistem satu arah (one way) dan ganjil-genap di tanggal dan jam tertentu di tol sepanjang pantura Jawa.

Namun, sepertinya itu belum cukup membuat pemerintah percaya diri. Jumlah pemudik yang luar biasa banyak memang ibarat kekuatan tersembunyi yang sewaktu-waktu bisa merusak semua rencana dan rekayasa yang telah disiapkan. Apa pun strateginya tidak akan banyak berarti kalau dalam praktiknya pemudik membeludak di waktu yang bersamaan.

Maka, tidak tanggung-tanggung, Presiden Joko Widodo pun sampai harus menyerukan agar para pemudik bisa melakukan perjalanan mudik lebih awal demi menghindari kemacetan parah di puncak arus mudik 28-30 April 2022. "Saya mengajak masyarakat mudik lebih awal dan tentu saja menyesuaikan jadwal libur dari tempat pekerjaan," kata Jokowi.

Tentu ini satu seruan atau imbauan yang penting dan kiranya mesti kita dukung. Namun, persoalannya ada pada frasa 'menyesuaikan jadwal libur dari tempat pekerjaan'. Faktanya, karena pemerintah menetapkan cuti bersama mulai 29 April, hampir semua kantor mengikuti aturan itu dan masih menerapkan jam kerja normal hingga 28 April.

Lalu bagaimana para pegawai negeri sipil (PNS) ataupun karyawan swasta dapat melaksanakan imbauan presiden untuk mudik lebih awal jika tempat dia bekerja tidak mengizinkan? Begitu pun dengan anak sekolah karena tidak sedikit sekolah yang baru meliburkan siswanya pada 29 April. Hal-hal semacam ini terkesan remeh, tapi sesungguhnya itu menunjukkan ketidaksinkronan antara aturan dan imbauan pemerintah.

Jalan keluarnya barangkali pemerintah melakukan pengembangan atas imbauan tentang mudik awal itu dengan menerbitkan surat keputusan bersama sejumlah menteri, misalnya, agar semua kantor pemerintah maupun swasta dan sekolah mengizinkan karyawan dan siswa dapat bekerja dan belajar dari luar kantor/sekolah.

Mumpung masih ada waktu. Sebab. kalau tidak, percuma mengimbau jangan mudik pada 28-30 April, sementara orangtua dan anak masih harus ke kantor dan sekolah pada hari-hari itu.



Berita Lainnya
  • Langkah Tepat Pembatalan Belajar Daring

    26/3/2026 05:00

    DI tengah langkah penghematan energi sebagai antisipasi terhadap gejolak global, pemerintah memastikan untuk tidak memberlakukan pembelajaran daring bagi para siswa.

  • Penghematan Tepat Sektor

    25/3/2026 05:00

    BERHEMAT adalah hal mutlak dalam menghadapi krisis global saat ini. Berhemat, khususnya BBM, merupakan adaptasi pertama dan minimal ketika Selat Hormuz belum juga aman.

  • Jalan Abu-Abu Status Tahanan Rumah

    24/3/2026 05:00

    PEMBERANTASAN korupsi di Indonesia kembali diuji. Di tengah persepsi publik bahwa praktik korupsi kian mengakar, langkah penegakan hukum justru dinilai melemah.

  • Privilese di KPK

    23/3/2026 05:00

    Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, atau yang akrab disapa Gus Yaqut, dilaporkan mendapatkan status tahanan rumah.

  • Memancarkan Takwa ke Sesama Manusia

    21/3/2026 05:00

    RAMADAN telah berlalu dan kini seluruh umat Islam di dunia merayakan Hari Raya Idul Fitri.

  • Peradilan Koneksitas untuk Penyiram Air Keras

    20/3/2026 05:00

    PENGUNGKAPAN identitas terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Andrie Yunus menjadi angin segar. 

  • Ujian Pengendalian Diri

    19/3/2026 05:10

    Ramadan dengan puasanya dan Nyepi dengan catur brata penyepiannya adalah dua jalan berbeda yang sama-sama menuju pada penguatan sikap pengendalian diri.

  • Kematangan Toleransi

    18/3/2026 05:00

    DALAM minggu ini, ada dua momentum besar ujian kematangan toleransi bangsa kita, yaitu Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 1447 Hijriah.

  • Korupsi tak Kunjung Henti

    17/3/2026 05:00

    TAK salah kiranya jika Transparency International menempatkan Indonesia di level rendah dalam pemberantasan korupsi sepanjang 2025.

  • Ujian HAM dan Demokrasi untuk Negara

    16/3/2026 05:00

    Peristiwa itu merupakan ancaman serius terhadap demokrasi dan perlindungan hak asasi manusia (HAM) di Indone

  • Antisipasi Tepat, Mudik Selamat

    14/3/2026 05:00

    GELOMBANG mudik Lebaran selalu menjadi ujian besar bagi kapasitas negara dalam mengelola mobilitas manusia berskala besar.

  • Merawat Optimisme Publik lewat Mudik

    13/3/2026 05:00

    BAGAIMANAPUN dampak situasi global saat ini, pemerintah harus bisa memastikan mudik Lebaran berlangsung aman dan lancar.

  • Negara Hadir untuk Menenangkan

    12/3/2026 05:00

    PEMERINTAH sejatinya lahir untuk melindungi, memberi kepastian, dan mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya.

  • Napas Panjang Antisipasi Perang

    11/3/2026 05:00

    Stok BBM untuk 21 hari yang selama ini disebut sebagai standar buffer operasional semestinya tidak dipandang sebagai zona aman.

  • Menajamkan Sistem Pengawasan

    10/3/2026 05:00

    LAILA Fathiah, dengan nama panggung Fadia Arafiq, menjadi kepala daerah kedelapan hasil pilkada serentak pada 2024 lalu yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

  • Menjaga Tunas Bangsa

    09/3/2026 05:00

    NEGARA akhirnya menunjukkan taringnya di jagat digital yang kian sulit dikendalikan.