Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
SITUASI krisis menuntut kecepatan bertindak. Ketika eksekusi kebijakan bergerak lamban, langsung terasa dampaknya. Begitu pula pada belanja pemerintah daerah untuk penanganan covid-19. Masih ada saja pemda yang tidak kunjung mencairkan insentif untuk tenaga kesehatan.
Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) harus berulang kali mengingatkan pemda agar bergerak cepat. Beberapa bahkan sudah mendapatkan teguran keras. Namun, kelambanan masih terus terjadi. Akibatnya, hak-hak para nakes daerah terpasung.
Kebijakan refocusing APBD 2021 telah menggariskan 8% dana alokasi khusus (DAU) dan dana bagi hasil (DBH) 2021 untuk penanganan pandemi covid-19. Dengan demikian, faktor ketersediaan dana seharusnya terjamin. Persoalannya ialah tidak ada kemauan segera mencairkan dana untuk insentif nakes daerah.
Buktinya, kebanyakan pemda langsung mencairkan insentif tersebut begitu mendapat teguran. Namun, ada pula pemda yang kebal teguran. Barangkali mereka merasa insentif itu tidak semendesak belanja untuk aparatur daerah. Karena itulah Mendagri Tito Karnavian kembali melayangkan surat teguran kepada 10 kepala daerah.
Kepala daerah yang ditegur Mendagri ialah Wali Kota Padang, Bupati Nabire, Wali Kota Bandar Lampung, Bupati Madiun, Wali Kota Pontianak, Bupati Penajem Paser Utara, Bupati Gianyar, Wali Kota Langsa, Wali Kota Prabumulih, dan Bupati Paser. Mendagri harus memastikan teguran itu dipatuhi, jangan sampai masuk telinga kanan keluar telinga kiri.
Kelambanan pencairan insentif untuk tenaga kesehatan sesungguhnya merupakan bagian dari masalah klasik tata kelola pemerintahan daerah. Tiap tahun anggaran, penyerapan belanja modal APBD rata-rata bergerak lambat. Belum lagi masalah pengalokasian anggaran yang tidak optimal.
Mendagri Tito Karnavian menyebut banyak pemda kerap menghabiskan anggaran untuk aparaturnya ketimbang program-program yang manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat. Kebiasaan itu berlanjut di masa pandemi.
Perilaku ini turut mencerminkan ketidakmampuan merencanakan pembangunan daerah yang berfokus pada upaya meningkatkan dan memeratakan kesejahteraan masyarakat. Padahal, kemampuan itu wajib dimiliki pemimpin daerah. Terlebih, bila kekurangan gagasan, pemerintah daerah mestinya dapat pula meminta masukan dari talenta-talenta di tengah warga mereka.
Lebih celaka lagi bila kemampuan merencanakan ada, tetapi sengaja tidak dipraktikkan karena rendahnya kepedulian pada warga. Bagi pemimpin seperti ini, yang penting aparatur pemda sejahtera.
Mereka lebih suka menghabiskan anggaran untuk rapat-rapat dinas dengan fasilitas mewah dan uang saku besar ketimbang mempertajam program bantuan sosial. Tidak mengherankan bila timbul pula pos-pos belanja yang sangat tidak peka krisis. Contohnya, pemberian honor pemakaman covid-19 kepada pimpinan daerah di Kabupaten Jember, Jawa Timur.
Tata kelola yang asal aparatur pemda senang seperti itu tidak hanya berdampak secara lokal. Jika banyak pemda melakukan, sudah pasti efeknya sampai skala nasional. Program-program prioritas nasional bakal meleset akibat pengalokasian APBD yang tidak selaras.
Prioritas nasional saat ini ialah pembangunan sumber daya manusia (SDM). Hal itu disokong dengan pengalokasian 20% anggaran untuk sektor pendidikan dan 10% untuk kesehatan. Akan tetapi, ternyata masih banyak pemda yang mengabaikannya.
Borok-borok penyelenggaraan pemda memang paling cepat terungkap di masa krisis semacam pandemi covid-19 saat ini. Kepala daerah yang gagal menghadirkan kesejahteraan untuk rakyat, termasuk nakes, memang tidak layak untuk dipilih kembali.
SETIAP musim mudik Lebaran tiba, pemerintah seolah kembali memasuki arena uji publik yang tak pernah benar-benar usai
DI tengah langkah penghematan energi sebagai antisipasi terhadap gejolak global, pemerintah memastikan untuk tidak memberlakukan pembelajaran daring bagi para siswa.
BERHEMAT adalah hal mutlak dalam menghadapi krisis global saat ini. Berhemat, khususnya BBM, merupakan adaptasi pertama dan minimal ketika Selat Hormuz belum juga aman.
PEMBERANTASAN korupsi di Indonesia kembali diuji. Di tengah persepsi publik bahwa praktik korupsi kian mengakar, langkah penegakan hukum justru dinilai melemah.
Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, atau yang akrab disapa Gus Yaqut, dilaporkan mendapatkan status tahanan rumah.
RAMADAN telah berlalu dan kini seluruh umat Islam di dunia merayakan Hari Raya Idul Fitri.
PENGUNGKAPAN identitas terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Andrie Yunus menjadi angin segar.
Ramadan dengan puasanya dan Nyepi dengan catur brata penyepiannya adalah dua jalan berbeda yang sama-sama menuju pada penguatan sikap pengendalian diri.
DALAM minggu ini, ada dua momentum besar ujian kematangan toleransi bangsa kita, yaitu Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 1447 Hijriah.
TAK salah kiranya jika Transparency International menempatkan Indonesia di level rendah dalam pemberantasan korupsi sepanjang 2025.
Peristiwa itu merupakan ancaman serius terhadap demokrasi dan perlindungan hak asasi manusia (HAM) di Indone
GELOMBANG mudik Lebaran selalu menjadi ujian besar bagi kapasitas negara dalam mengelola mobilitas manusia berskala besar.
BAGAIMANAPUN dampak situasi global saat ini, pemerintah harus bisa memastikan mudik Lebaran berlangsung aman dan lancar.
PEMERINTAH sejatinya lahir untuk melindungi, memberi kepastian, dan mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya.
Stok BBM untuk 21 hari yang selama ini disebut sebagai standar buffer operasional semestinya tidak dipandang sebagai zona aman.
LAILA Fathiah, dengan nama panggung Fadia Arafiq, menjadi kepala daerah kedelapan hasil pilkada serentak pada 2024 lalu yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved