Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
REPUBLIK ini memang sudah dua dekade lebih di alam demokrasi. Namun, harus kita akui, demokrasi kita belum menunjukkan keandalannya sebagai penuntun jalan yang paripurna dalam berbangsa dan bernegara.
Kita patut bersyukur, setelah lebih dari 30 tahun hidup di zaman otoritarian Orde Baru, kebebasan akhirnya bisa dirasakan. Angin reformasi yang berembus kencang pada 1998 mampu menyapu segala pembatasan dan tekanan.
Itulah berkah yang bisa dinikmati generasi saat ini. Berkah yang tercurah meski harus ditebus dengan darah sejumlah pahlawan reformasi. Sayangnya, sebagai penikmat, kita melupakan tanggung jawab untuk merawat demokrasi.
Demokrasi kita biarkan berjalan tanpa arah yang pasti. Demokrasi kita biarkan tersandera oleh mereka yang hanya mendewakan kebebasan diri sendiri tanpa peduli dengan kebebasan orang lain. Demokrasi pun menjadi liar, bahkan cenderung buas yang mencuatkan rasa waswas.
Sebagai masterpiece gerakan reformasi, demokrasi justru semakin kuat melangkah ke jalan yang sesat. Demokrasi, pelan tapi pasti, menjelma sebagai instrumen untuk membatasi kebebasan orang lain.
Pada konteks itulah kita memahami kerisauan para tokoh bangsa akan masa depan demokrasi di Republik ini. Kerisauan itu sudah lama ada dan terkini disuarakan oleh Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh, kemarin, dalam pidato kebangsaan pada rangkaian perayaan HUT ke-50 Center for Strategic and International Studies (CSIS).
Dalam pidato Pandangan dan Proyeksi Ketua Umum Partai Politik Menjelang Seabad Indonesia Merdeka Tahun 2045 itu, Surya mengaku menikmati sistem demokrasi yang sudah berjalan. Namun, Surya juga merasa waswas, cemas, ketika sistem demokrasi tak terjaga.
Menurut Surya, demokrasi saat ini masuk kategori superliberal. Atas nama demokrasi, sebagian masyarakat masih menganggap hak-hak mereka tidak boleh dikurangi sedikit pun, termasuk oleh pemerintah.
Surya tak mengada-ada. Faktanya, atas nama demokrasi, sebagian rakyat suka bertindak semena-mena. Atas nama demokrasi, sebagian masyarakat mengabaikan etika dan tata krama yang sejak dulu menjadi karakter bangsa. Atas nama demokrasi pula, mereka seenaknya menghina pihak lain, termasuk pemimpin negara.
Demokrasi salah arah bahkan tak mereda ketika negeri ini butuh kebersamaan untuk melawan wabah korona. Dengan dalih mengkritik, sebagian masyarakat selalu mencerca setiap kebijakan pemerintah. Dengan alasan pengawasan, mereka tak segan melayangkan tuduhan dan fitnah kepada penyelenggara negara. Basis data seakan tak lagi penting, yang penting hanyalah kebebasan bersuara.
Jelas, demokrasi semacam itu tidaklah sehat. Jelas, demokrasi sejenis itu tidaklah tepat untuk terus kita terapkan. Kita memang butuh kebebasan, tetapi kebebasan yang bertanggung jawab, kebebasan yang seimbang antara hak dan kewajiban.
Sebagai produk unggulan Orde Reformasi, demokrasi harus kita selamatkan agar tak kian salah jalan. Pada konteks itulah peran elite sangat kita butuhkan. Jadilah teladan bagi rakyat dengan menjadi demokrat sejati, bukan demokrat abal-abal yang seolah-olah menjunjung tinggi demokrasi tetapi sesungguhnya bertabiat tirani.
Edukasi yang merata mengenai makna kebebasan dalam demokrasi pun mesti terus dilakukan, bahkan harus digencarkan. Di sinilah kontribusi partai politik amat dinanti.
Sebagai agen pendidikan politik, partai politik harus berada paling depan untuk meluruskan arah demokrasi seusai karakter bangsa itu. Namun, partai politik baru bisa melakukan itu jika mereka benar-benar punya idealisme dan tak lagi mabuk pragmatisme.
SETIAP musim mudik Lebaran tiba, pemerintah seolah kembali memasuki arena uji publik yang tak pernah benar-benar usai
DI tengah langkah penghematan energi sebagai antisipasi terhadap gejolak global, pemerintah memastikan untuk tidak memberlakukan pembelajaran daring bagi para siswa.
BERHEMAT adalah hal mutlak dalam menghadapi krisis global saat ini. Berhemat, khususnya BBM, merupakan adaptasi pertama dan minimal ketika Selat Hormuz belum juga aman.
PEMBERANTASAN korupsi di Indonesia kembali diuji. Di tengah persepsi publik bahwa praktik korupsi kian mengakar, langkah penegakan hukum justru dinilai melemah.
Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, atau yang akrab disapa Gus Yaqut, dilaporkan mendapatkan status tahanan rumah.
RAMADAN telah berlalu dan kini seluruh umat Islam di dunia merayakan Hari Raya Idul Fitri.
PENGUNGKAPAN identitas terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Andrie Yunus menjadi angin segar.
Ramadan dengan puasanya dan Nyepi dengan catur brata penyepiannya adalah dua jalan berbeda yang sama-sama menuju pada penguatan sikap pengendalian diri.
DALAM minggu ini, ada dua momentum besar ujian kematangan toleransi bangsa kita, yaitu Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 1447 Hijriah.
TAK salah kiranya jika Transparency International menempatkan Indonesia di level rendah dalam pemberantasan korupsi sepanjang 2025.
Peristiwa itu merupakan ancaman serius terhadap demokrasi dan perlindungan hak asasi manusia (HAM) di Indone
GELOMBANG mudik Lebaran selalu menjadi ujian besar bagi kapasitas negara dalam mengelola mobilitas manusia berskala besar.
BAGAIMANAPUN dampak situasi global saat ini, pemerintah harus bisa memastikan mudik Lebaran berlangsung aman dan lancar.
PEMERINTAH sejatinya lahir untuk melindungi, memberi kepastian, dan mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya.
Stok BBM untuk 21 hari yang selama ini disebut sebagai standar buffer operasional semestinya tidak dipandang sebagai zona aman.
LAILA Fathiah, dengan nama panggung Fadia Arafiq, menjadi kepala daerah kedelapan hasil pilkada serentak pada 2024 lalu yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved