Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
AMUKAN covid-19 di Indonesia kian membuat keder. Peningkatan demi peningkatan kasus pasien terkonfirmasi positif terus terjadi dalam deretan angka yang tak lagi bisa dianggap biasa-biasa saja. Sejumlah titik psikologis sudah berkali-kali dilampaui hingga sekarang bertengger di atas angka 50 ribu penambahan kasus per hari.
Bahkan, penambahan pasien terkonfirmasi positif covid-19 sebanyak 54.517 orang yang dirilis Satgas Covid-19, Kamis (15/7), sangat mungkin belumlah mencerminkan situasi terburuk dari pandemi ini di Tanah Air. Ada proyeksi angka harian covid-19 itu masih akan terus bertambah seiring dengan dilipatgandakannya upaya testing dan tracing dari kontak erat covid-19.
Kalau membaca angkanya saja membuat keder, fakta di lapangan tak kalah memiriskan. Rumah sakit membeludak, krisis obat dan oksigen di banyak tempat, tenaga kesehatan pun sudah teramat kewalahan.
Kini, bahkan banyak pula kematian datang dari pasien-pasien isolasi mandiri (isoman) yang terlambat mendapatkan penanganan ketika kondisi mereka drop dan membutuhkan perawatan.
Dengan melihat fakta-fakta itulah semestinya cara kita memaknai lonjakan angka kasus covid-19 agar tak terjebak dengan frasa-frasa yang bombastis tapi nihil rasa.
Angka bukan sekadar simbol numerik yang seolah akan terlihat keren ketika mencapai rekor tertinggi. Di balik angka itu, ada nyawa yang perlu diselamatkan, ada warga negara yang harus dilindungi.
Pun, cara pandang seperti itulah yang seharusnya menjadi latar belakang pemerintah menyiapkan kebijakan maupun skenario, mulai situasi dengan kegawatan ringan hingga yang terburuk. Tidak sekadar memperindah angka di atas kertas statistik atau menghaluskan kata-kata sehingga seakan-akan situasi selalu terkendali.
Data memang tak seharusnya ditutupi karena data yang akuratlah yang menjadi landasan kita menentukan langkah penanganan yang tepat. Jika kebijakan atau skenario berangkat dari data dan analisis yang tak jujur, kita sesungguhnya sedang membuang-buang waktu, sedangkan si virus terus bergerak tak pernah menyia-nyiakan waktu.
Temukan akar masalahnya melalui data lapangan yang kredibel. Dari situlah semua mestinya dimulai dan dievaluasi. Dengan dasar itu, kita bisa berharap kepada pemerintah melakukan tindakan luar biasa untuk pengendalian covid-19. Skenario terburuk yang akan disiapkan pemerintah pun idealnya juga didasari data yang tak sekadar angka, tapi juga kejujuran melihat realita di lapangan.
Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat yang akan diperpanjang barangkali merupakan kebijakan yang sudah mesti dilakukan bila melihat mata rantai penyebaran virus korona yang tak juga melambat.
Akan tetapi, untuk memperpanjang itu pun pelaksanaan PPKM darurat sekarang ini harus dievalusi menyeluruh agar penerapannya dapat lebih efektif.
Itu di hulu penyebaran. Pada saat yang sama, negara juga mesti membereskan satu per satu masalah di hilir. Kita mendukung pemberian obat gratis untuk pasien isoman, terutama di wilayah-wilayah berisiko tinggi, yang kemarin diluncurkan Presiden.
Namun, tak boleh itu hanya berhenti pada seremoni. Harus ada koordinasi kuat dalam implementasinya dan tak kalah penting ialah pengawasan.
Harus diingat pula, persoalan obat hanya satu dari banyak persoalan di sisi hilir. Persoalan di rumah sakit yang amat kompleks, tentang krisis tenaga kesehatan, tentang pasokan oksigen, serta obat-obatan yang kadang-kadang malah dimain-mainkan para penjahat dagang, tentang para pasien isoman yang bertumbangan, dan berderet persoalan lain.
Akumulasi masalah itulah yang membuat kasus covid-19 di negeri ini melonjak tinggi. Tugas berat pemerintah dan kita semua untuk mengikis masalah itu satu demi satu.
SETIAP musim mudik Lebaran tiba, pemerintah seolah kembali memasuki arena uji publik yang tak pernah benar-benar usai
DI tengah langkah penghematan energi sebagai antisipasi terhadap gejolak global, pemerintah memastikan untuk tidak memberlakukan pembelajaran daring bagi para siswa.
BERHEMAT adalah hal mutlak dalam menghadapi krisis global saat ini. Berhemat, khususnya BBM, merupakan adaptasi pertama dan minimal ketika Selat Hormuz belum juga aman.
PEMBERANTASAN korupsi di Indonesia kembali diuji. Di tengah persepsi publik bahwa praktik korupsi kian mengakar, langkah penegakan hukum justru dinilai melemah.
Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, atau yang akrab disapa Gus Yaqut, dilaporkan mendapatkan status tahanan rumah.
RAMADAN telah berlalu dan kini seluruh umat Islam di dunia merayakan Hari Raya Idul Fitri.
PENGUNGKAPAN identitas terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Andrie Yunus menjadi angin segar.
Ramadan dengan puasanya dan Nyepi dengan catur brata penyepiannya adalah dua jalan berbeda yang sama-sama menuju pada penguatan sikap pengendalian diri.
DALAM minggu ini, ada dua momentum besar ujian kematangan toleransi bangsa kita, yaitu Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 1447 Hijriah.
TAK salah kiranya jika Transparency International menempatkan Indonesia di level rendah dalam pemberantasan korupsi sepanjang 2025.
Peristiwa itu merupakan ancaman serius terhadap demokrasi dan perlindungan hak asasi manusia (HAM) di Indone
GELOMBANG mudik Lebaran selalu menjadi ujian besar bagi kapasitas negara dalam mengelola mobilitas manusia berskala besar.
BAGAIMANAPUN dampak situasi global saat ini, pemerintah harus bisa memastikan mudik Lebaran berlangsung aman dan lancar.
PEMERINTAH sejatinya lahir untuk melindungi, memberi kepastian, dan mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya.
Stok BBM untuk 21 hari yang selama ini disebut sebagai standar buffer operasional semestinya tidak dipandang sebagai zona aman.
LAILA Fathiah, dengan nama panggung Fadia Arafiq, menjadi kepala daerah kedelapan hasil pilkada serentak pada 2024 lalu yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved