Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
ALIH-ALIH mereda, amuk virus korona terus saja menggila. Tidak ada yang tahu kapan virus mematikan itu akan menyudahi keganasannya, tetapi lama tidaknya ia merajalela tergantung pula pada sikap kita. Menghentikan kekonyolan ialah keniscayaan untuk mengalahkannya.
Kenapa covid-19 begitu superior di negeri ini? Kenapa virus korona senang berlama-lama menjajah Indonesia? Salah satunya ialah karena kekonyolan sebagian anak bangsa.
Awal kekonyolan itu ialah sikap menganggap remeh sebagian pejabat ketika belum ditemukan adanya orang di Indonesia yang terpapar korona. Mereka begitu percaya diri, bahkan terkesan sombong, bahwa covid-19 tidak mungkin merambah Indonesia di kala negara-negara lain sudah babak belur dibuatnya.
Hilang kekonyolan yang satu muncul kekonyolan yang lain. Padahal, serangan korona secara jelas terpampang di depan mata. Ibarat patah tumbuh hilang berganti, kekonyolan terus dipamerkan hingga kini.
Kekonyolan yang berakibat sangat mengerikan ialah pelanggaran besar-besaran terhadap larangan mudik Lebaran 2021. Sudah jelas mudik diharamkan, tetapi jutaan orang tak peduli dan mengabaikannya.
Egoisme mereka lebih kuat ketimbang kepedulian untuk bersama-sama membendung penyebaran covid-19. Akibatnya, tentu saja fatal. Virus korona menyebar ke mana-mana, kasus positif pun melonjak berkali-kali lipat.
Ditambah lagi dengan masuknya sejumlah varian baru dari mancanegara, terutama India, yang penularannya juga beberapa kali lipat lebih mudah, lengkap sudah embrio bagi terciptanya malapetaka.
Saat ini, petaka itu sedang kita alami. Bukan hanya mereka yang konyol, yang tidak konyol juga ikut merasakan. Rumah sakit dan fasilitas kesehatan mendekati kolaps.
Drama memilukan para penderita yang tak bisa penanganan terus menjadi suguhan. Kematian pun semakin akrab, tidak cuma di rumah sakit, tetapi juga di rumah-rumah tatkala mereka yang terpapar menjalani isolasi mandiri.
Mau bukti apalagi untuk menunjukkan bahwa bangsa ini sedang tidak baik-baik saja? Mau dalih apa lagi untuk tidak mematuhi kebijakan pemerintah dalam mengatasi wabah?
Lepas dari kekurangan yang ada, pemerintah sudah dan terus berupaya keras untuk membendung gelombang korona. Mulai 3 Juli hingga 20 Juli 2021, kebijakan pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat diterapkan. Tujuannya jelas dan tegas, yakni membatasi mobilitas masyarakat untuk membatasi ruang gerak covid-19.
Pemerintah juga terus menambah sarana dan prasarana penanganan bagi penderita korona. Rumah sakit darurat tambahan disiapkan. Demikian pula tempat isolasi terpusat seperti di Rusun Pasar Rumput, Manggarai, Jakarta Selatan, Rusun Nagrak, Cilincing, Jakarta Utara, dan Wisma Haji Pondok Gede.
Namun, upaya-upaya tersebut tak akan banyak berarti jika hulunya tak teratasi. Karena itu, kita terus mengingatkan pentingnya kolaborasi antarsemua pihak.
Di satu sisi, seluruh masyarakat wajib patuh dan disiplin. Di sisi lain, pemerintah multak tegas dan konsisten mengeksekusi setiap kebijakan untuk membendung covid-19.
Jangan ada lagi kekonyolan-kekonyolan, apa pun bentuknya. Pemerintah tak boleh lagi menoleransi kekonyolan-kekonyolan yang terjadi. Entah itu pembangkangan oleh perusahaan atau pelanggaran oleh warga masyarakat umum terhadap ketentuan PPKM darurat.
Para pejabat tak sepatutnya pula mempertontonkan kekonyolan, seperti yang baru saja dilakukan seorang pejabat partai politik yang meminta pemerintah membuat rumah sakit khusus pejabat. Di tengah situasi yang amat menyakitkan saat ini, kekonyolan itu hanya menambah rasa sakit hati rakyat.
Bangsa ini sedang dalam situasi gawat. Ia butuh penyikapan yang serius, bukan yang konyol-konyol.
SETIAP musim mudik Lebaran tiba, pemerintah seolah kembali memasuki arena uji publik yang tak pernah benar-benar usai
DI tengah langkah penghematan energi sebagai antisipasi terhadap gejolak global, pemerintah memastikan untuk tidak memberlakukan pembelajaran daring bagi para siswa.
BERHEMAT adalah hal mutlak dalam menghadapi krisis global saat ini. Berhemat, khususnya BBM, merupakan adaptasi pertama dan minimal ketika Selat Hormuz belum juga aman.
PEMBERANTASAN korupsi di Indonesia kembali diuji. Di tengah persepsi publik bahwa praktik korupsi kian mengakar, langkah penegakan hukum justru dinilai melemah.
Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, atau yang akrab disapa Gus Yaqut, dilaporkan mendapatkan status tahanan rumah.
RAMADAN telah berlalu dan kini seluruh umat Islam di dunia merayakan Hari Raya Idul Fitri.
PENGUNGKAPAN identitas terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Andrie Yunus menjadi angin segar.
Ramadan dengan puasanya dan Nyepi dengan catur brata penyepiannya adalah dua jalan berbeda yang sama-sama menuju pada penguatan sikap pengendalian diri.
DALAM minggu ini, ada dua momentum besar ujian kematangan toleransi bangsa kita, yaitu Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 1447 Hijriah.
TAK salah kiranya jika Transparency International menempatkan Indonesia di level rendah dalam pemberantasan korupsi sepanjang 2025.
Peristiwa itu merupakan ancaman serius terhadap demokrasi dan perlindungan hak asasi manusia (HAM) di Indone
GELOMBANG mudik Lebaran selalu menjadi ujian besar bagi kapasitas negara dalam mengelola mobilitas manusia berskala besar.
BAGAIMANAPUN dampak situasi global saat ini, pemerintah harus bisa memastikan mudik Lebaran berlangsung aman dan lancar.
PEMERINTAH sejatinya lahir untuk melindungi, memberi kepastian, dan mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya.
Stok BBM untuk 21 hari yang selama ini disebut sebagai standar buffer operasional semestinya tidak dipandang sebagai zona aman.
LAILA Fathiah, dengan nama panggung Fadia Arafiq, menjadi kepala daerah kedelapan hasil pilkada serentak pada 2024 lalu yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved