Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
DI tengah penyebaran covid-19 yang semakin menggila, perdebatan perihal resep apa yang paling mujarab untuk mengendalikannya pun mengemuka. Ada tiga cara yang menjadi silang sengketa.
Ketiga cara itu, pertama, tetap setia pada kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mikro. Kedua, pemerintah semestinya menerapkan kembali pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Adapun yang ketiga, ini yang paling ekstrem, sudah saatnya opsi lockdown atau karantina wilayah diambil.
Ketiga opsi itu dilatari dengan pertimbangan sendiri-sendiri. Pengusung opsi PSBB dan lockdown, misalnya, menilai karena korona kian garang menginjak pedal gas, bangsa ini harus sigap menarik rem darurat. Mereka berpandangan, PPKM mikro tak lagi efektif untuk membendung penularan covid-19 yang semakin hari semakin menjadi-jadi.
Ekspansi covid-19 memang kian tak terkendali sebagai dampak dari libur panjang Lebaran. Situasi diperparah dengan masuknya virus varian baru dari mancanegara, yakni alfa, beta, dan delta, yang lebih mudah menular.
Akibatnya, jumlah penderita korona meningkat sangat tajam. Kemarin, kasus positif secara nasional bahkan bertambah 20.574 sehingga total penderita covid-19 saat ini mencapai 2.053.995 orang. Inilah penambahan kasus harian terbanyak sejak covid-19 dinyatakan memapar Indonesia pada Maret 2020 lalu.
Situasi tersebut jelas tak bisa dianggap biasa-biasa saja. Perlu upaya dan kebijakan luar biasa untuk menjawabnya. Namun, bukan berarti kita kemudian malah disibukkan dengan perdebatan soal strategi yang hanya membuang-buang energi dan memecah konsentrasi.
PSBB, atau bahkan lockdown, bisa jadi ampuh untuk menghentikan amuk korona karena dengan strategi itu mobilitas masyarakat benar-benar dikekang. Akan tetapi, risiko yang menyertainya juga tidak kecil. Dengan ‘mematikan’ aktivitas orang, akan mati pula perekonomian dan ujung-ujungnya rakyat jua yang menjadi korban.
Pada konteks itulah, ketetapan Presiden Joko Widodo untuk kukuh mempertahankan PPKM mikro sebagai strategi meredam keganasan korona patut didukung. PPKM mikro memang tidak seketat PSBB atau lockdown, tetapi di dalamnya juga menggariskan poin-poin pembatasan. Kenapa ia tidak efektif meski sudah beberapa bulan diterapkan, jawabannya ialah lemahnya eksekusi di lapangan.
PPKM mikro adalah instrumen untuk menekan mobilitas dan membuat masyarakat mematuhi protokol kesehatan. Faktanya, masih banyak yang abai, ngeyel, bahkan bebal. Faktanya lagi, otoritas terkait cenderung membiarkan pengabaian itu. Banyak pelanggaran, tetapi sedikit yang ditindak. Banyak pembatasan, tetapi tidak sedikit warga masyarakat tetap menikmati kebebasan seakan keadaan masih baik-baik saja.
Ketegasan dan konsistensi dalam menegakkan aturan PPKM mikro oleh pemerintah daerah adalah kunci keberhasilan mengatasi pandemi. Bukan saatnya lagi cuma menebar imbauan, sudah lewat masanya sosialisasi.
Atas nama keselamatan rakyat, inilah waktunya pemerintah menggunakan kekuasaan yang diberikan undang-undang untuk memaksa masyarakat patuh.
PPKM mikro memang tidak seksi bagi mereka yang mengejar popularitas, tetapi ia akan sangat berarti jika diterapkan dengan sepenuh hati.
Mustahil disangkal, perkembangan wabah korona semakin mengerikan. Tanpa keseriusan semua pihak untuk bersama-sama mengatasinya, ia benar-benar akan menjadi petaka besar bagi bangsa.
Fasilitas dan tenaga kesehatan pun dipastikan kian kewalahan. Mengingat beratnya tugas dan tanggung jawab mereka, kita mengingatkan agar insentif bagi tenaga kesehatan tak lagi ditahan-tahan.
Semua pihak mesti sadar bahwa tragedi kemanusiaan akibat korona yang sempat melanda India, kini di depan mata kita. Jangan sampai tragedi itu akhirnya kita alami juga.
SETIAP musim mudik Lebaran tiba, pemerintah seolah kembali memasuki arena uji publik yang tak pernah benar-benar usai
DI tengah langkah penghematan energi sebagai antisipasi terhadap gejolak global, pemerintah memastikan untuk tidak memberlakukan pembelajaran daring bagi para siswa.
BERHEMAT adalah hal mutlak dalam menghadapi krisis global saat ini. Berhemat, khususnya BBM, merupakan adaptasi pertama dan minimal ketika Selat Hormuz belum juga aman.
PEMBERANTASAN korupsi di Indonesia kembali diuji. Di tengah persepsi publik bahwa praktik korupsi kian mengakar, langkah penegakan hukum justru dinilai melemah.
Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, atau yang akrab disapa Gus Yaqut, dilaporkan mendapatkan status tahanan rumah.
RAMADAN telah berlalu dan kini seluruh umat Islam di dunia merayakan Hari Raya Idul Fitri.
PENGUNGKAPAN identitas terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Andrie Yunus menjadi angin segar.
Ramadan dengan puasanya dan Nyepi dengan catur brata penyepiannya adalah dua jalan berbeda yang sama-sama menuju pada penguatan sikap pengendalian diri.
DALAM minggu ini, ada dua momentum besar ujian kematangan toleransi bangsa kita, yaitu Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 1447 Hijriah.
TAK salah kiranya jika Transparency International menempatkan Indonesia di level rendah dalam pemberantasan korupsi sepanjang 2025.
Peristiwa itu merupakan ancaman serius terhadap demokrasi dan perlindungan hak asasi manusia (HAM) di Indone
GELOMBANG mudik Lebaran selalu menjadi ujian besar bagi kapasitas negara dalam mengelola mobilitas manusia berskala besar.
BAGAIMANAPUN dampak situasi global saat ini, pemerintah harus bisa memastikan mudik Lebaran berlangsung aman dan lancar.
PEMERINTAH sejatinya lahir untuk melindungi, memberi kepastian, dan mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya.
Stok BBM untuk 21 hari yang selama ini disebut sebagai standar buffer operasional semestinya tidak dipandang sebagai zona aman.
LAILA Fathiah, dengan nama panggung Fadia Arafiq, menjadi kepala daerah kedelapan hasil pilkada serentak pada 2024 lalu yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved