Headline
Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.
Kumpulan Berita DPR RI
DI tengah penyebaran covid-19 yang semakin menggila, perdebatan perihal resep apa yang paling mujarab untuk mengendalikannya pun mengemuka. Ada tiga cara yang menjadi silang sengketa.
Ketiga cara itu, pertama, tetap setia pada kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mikro. Kedua, pemerintah semestinya menerapkan kembali pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Adapun yang ketiga, ini yang paling ekstrem, sudah saatnya opsi lockdown atau karantina wilayah diambil.
Ketiga opsi itu dilatari dengan pertimbangan sendiri-sendiri. Pengusung opsi PSBB dan lockdown, misalnya, menilai karena korona kian garang menginjak pedal gas, bangsa ini harus sigap menarik rem darurat. Mereka berpandangan, PPKM mikro tak lagi efektif untuk membendung penularan covid-19 yang semakin hari semakin menjadi-jadi.
Ekspansi covid-19 memang kian tak terkendali sebagai dampak dari libur panjang Lebaran. Situasi diperparah dengan masuknya virus varian baru dari mancanegara, yakni alfa, beta, dan delta, yang lebih mudah menular.
Akibatnya, jumlah penderita korona meningkat sangat tajam. Kemarin, kasus positif secara nasional bahkan bertambah 20.574 sehingga total penderita covid-19 saat ini mencapai 2.053.995 orang. Inilah penambahan kasus harian terbanyak sejak covid-19 dinyatakan memapar Indonesia pada Maret 2020 lalu.
Situasi tersebut jelas tak bisa dianggap biasa-biasa saja. Perlu upaya dan kebijakan luar biasa untuk menjawabnya. Namun, bukan berarti kita kemudian malah disibukkan dengan perdebatan soal strategi yang hanya membuang-buang energi dan memecah konsentrasi.
PSBB, atau bahkan lockdown, bisa jadi ampuh untuk menghentikan amuk korona karena dengan strategi itu mobilitas masyarakat benar-benar dikekang. Akan tetapi, risiko yang menyertainya juga tidak kecil. Dengan ‘mematikan’ aktivitas orang, akan mati pula perekonomian dan ujung-ujungnya rakyat jua yang menjadi korban.
Pada konteks itulah, ketetapan Presiden Joko Widodo untuk kukuh mempertahankan PPKM mikro sebagai strategi meredam keganasan korona patut didukung. PPKM mikro memang tidak seketat PSBB atau lockdown, tetapi di dalamnya juga menggariskan poin-poin pembatasan. Kenapa ia tidak efektif meski sudah beberapa bulan diterapkan, jawabannya ialah lemahnya eksekusi di lapangan.
PPKM mikro adalah instrumen untuk menekan mobilitas dan membuat masyarakat mematuhi protokol kesehatan. Faktanya, masih banyak yang abai, ngeyel, bahkan bebal. Faktanya lagi, otoritas terkait cenderung membiarkan pengabaian itu. Banyak pelanggaran, tetapi sedikit yang ditindak. Banyak pembatasan, tetapi tidak sedikit warga masyarakat tetap menikmati kebebasan seakan keadaan masih baik-baik saja.
Ketegasan dan konsistensi dalam menegakkan aturan PPKM mikro oleh pemerintah daerah adalah kunci keberhasilan mengatasi pandemi. Bukan saatnya lagi cuma menebar imbauan, sudah lewat masanya sosialisasi.
Atas nama keselamatan rakyat, inilah waktunya pemerintah menggunakan kekuasaan yang diberikan undang-undang untuk memaksa masyarakat patuh.
PPKM mikro memang tidak seksi bagi mereka yang mengejar popularitas, tetapi ia akan sangat berarti jika diterapkan dengan sepenuh hati.
Mustahil disangkal, perkembangan wabah korona semakin mengerikan. Tanpa keseriusan semua pihak untuk bersama-sama mengatasinya, ia benar-benar akan menjadi petaka besar bagi bangsa.
Fasilitas dan tenaga kesehatan pun dipastikan kian kewalahan. Mengingat beratnya tugas dan tanggung jawab mereka, kita mengingatkan agar insentif bagi tenaga kesehatan tak lagi ditahan-tahan.
Semua pihak mesti sadar bahwa tragedi kemanusiaan akibat korona yang sempat melanda India, kini di depan mata kita. Jangan sampai tragedi itu akhirnya kita alami juga.
PENANGKAPAN Bupati Pekalongan Fadia Arafiq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menegaskan satu hal, bahwa praktik korupsi di daerah bukanlah peristiwa tunggal
DUNIA kembali berdiri di tepi pusaran krisis. Ketidakpastian global menjelma menjadi badai yang sulit diprediksi arahnya.
PERANG di Timur Tengah telah berlangsung selama lebih dari tiga hari. Dampaknya mulai dirasakan oleh berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.
SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.
PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.
RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.
FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.
Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.
DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.
Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.
IRAN menutup sementara Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara adidaya Amerika Serikat.
SEPERTI pada 2022 dan 2024, juga pada banyak tahun sebelumnya, perbedaan jatuhnya 1 Ramadan kembali terjadi di Indonesia dan sejumlah negara lain.
KENAIKAN harga bahan pokok menjelang Ramadan kembali terulang. Polanya nyaris seragam dari tahun ke tahun.
SUDAH lebih dari dumedia a dekade, Hari Raya Imlek berdiri tegak sebagai simbol kematangan Republik dalam merawat keberagaman.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved