Headline

Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.

Politisasi Agama Barang Usang

19/4/2021 05:00
Politisasi Agama Barang Usang
(MI/Duta)

 

 

DEMOKRASI di Indonesia kembali diuji dengan munculnya wacana pembentukan koalisi poros partai Islam. Politik identitas yang jelas-jelas buruk bagi demokrasi lagi-lagi hendak diusung para politisi yang katanya pejuang demokrasi.

Wacana pembentukan poros partai Islam berawal dari pertemuan antara Presiden PKS Ahmad Syaikhu dan Ketua Umum PPP Suharso Monoarfa, pada Rabu (14/4). Dari situlah wacana bergulir dengan segala dinamika hingga saat ini. Partai-partai Islam lain seperti PBB dan PKB menganggapnya baik meski dengan catatan, tetapi ada pula yang mengkritik, bahkan menentang, termasuk PAN.

Sebagai negara demokrasi, Republik ini memang menjamin ciri khas atau identitas partai politik. Undang-undang No 2 Tahun 2011 tentang Parpol mempersilakan partai eksis dengan ideologi tertentu selama tak dilarang, termasuk berideologi agama. Akan tetapi, harus lantang kita suarakan bahwa kepentingan bangsa ialah yang paling utama.

Sejak reformasi, poros partai Islam memang pernah unjuk gigi dengan menjadikan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sebagai presiden. Kisah sukses itulah yang hendak diulang dalam menatap Pilpres 2024 mendatang. Mereka, para penggagas wacana, menginginkan koalisi partai Islam reborn, padahal situasi dan kondisinya sudah sangat berbeda.

Niat hendak menghidupkan kembali koalisi partai berbasis identitas saat ini dan di kemudian hari bertentangan dengan akal sehat. Ia bukan niat yang baik karena sejarah menunjukkan penggunaan simbol-simbol agama justru menyebabkan terjadinya turbulensi politik.

Penggunaan jargon agama sebagai merek jualan juga terbukti membonsai demokrasi. Demokrasi akan bagus, berkualitas, dan substansial jika ia dibangun dan dimatangkan dengan politik rasional. Sebaliknya, demokrasi hanya akan sebatas prosedural dan rutinitas tiada guna jika diramaikan dengan argumen-argumen irasional, termasuk dengan memolitisasi agama.

Kita tentu ingin demokrasi kita dari waktu ke waktu semakin sehat dan bermutu. Karena itu, tak semestinya lagi kita memberikan ruang bagi politik model poros-porosan berbasis identitas.

Tak cuma bagi demokrasi, wacana pembentukan poros partai Islam juga buruk bagi kehidupan bangsa dan negara. Ia dipastikan akan melahirkan antitesis poros lain berbasis nonagama. Kalau itu terjadi, kompetisi demokrasi akan menyuguhkan pertarungan head to head dua kubu yang sengit, panas, dan pasti membelah masyarakat.

Pilkada DKI Jakarta 2017 ialah contoh nyata tatkala agama dijadikan instrumen untuk memenangi rivalitas hingga menyebabkan keretakan kohesivitas sosial. Pilpres 2014 dan 2019 terang benderang memperlihatkan betapa agama yang dijadikan alat untuk menyerang calon di perhelatan itu mengancam integrasi nasional.

Luka bangsa ini akibat politik identitas masih menganga lebar. Sekat-sekat akibat penggunaan agama dalam politik masih amat tebal memisahkan sesama anak bangsa. Tidak gampang memulihkannya, karena itu jangan memperparah lagi.

Poros partai berbasis identitas, termasuk koalisi partai Islam, ialah barang usang. Ia bertentangan dengan politik kekinian yang mengedepankan rasionalitas, bukan berkutat pada sentimen agama sebagai pembusukan akal sehat.

Wacana pembentukan koalisi partai Islam hanya akan menyeret bangsa ini ke masa silam yang kontraproduktif bagi upaya kita menjemput masa depan. Sebagai wacana saja ia tak elok, apalagi jika sampai diwujudkan.



Berita Lainnya
  • Sanksi Korupsi yang Menjerakan

    06/3/2026 05:00

    PENANGKAPAN Bupati Pekalongan Fadia Arafiq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menegaskan satu hal, bahwa praktik korupsi di daerah bukanlah peristiwa tunggal

  • Rapatkan Barisan Hadapi Guncangan

    05/3/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di tepi pusaran krisis. Ketidakpastian global menjelma menjadi badai yang sulit diprediksi arahnya.

  • Menyiasati Krisis Energi

    04/3/2026 05:00

    PERANG di Timur Tengah telah berlangsung selama lebih dari tiga hari. Dampaknya mulai dirasakan oleh berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.

  • Mobil Mewah bukan Penentu Muruah

    03/3/2026 05:00

    SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.

  • Saatnya Semua Menahan Diri

    02/3/2026 05:00

    SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

  • Menambal Defisit tanpa Bebani Rakyat

    28/2/2026 05:00

    PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.

  • Menata Ulang Efektivitas Demokrasi

    27/2/2026 05:00

    PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.

  • Krisis Ruang Digital Anak

    26/2/2026 05:00

    RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.

  • Ungkap Otak Sindikat Narkoba

    25/2/2026 05:00

    FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.

  • Menagih Imbal Hasil Investasi Pendidikan

    24/2/2026 05:00

    Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.

  • Sigap Membaca Perubahan Amerika

    23/2/2026 05:00

    DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.

  • Hasil Gemilang Negosiasi Dagang

    21/2/2026 05:00

    Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.

  • Memitigasi Penutupan Selat Hormuz

    20/2/2026 05:00

    IRAN menutup sementara Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara adidaya Amerika Serikat.

  • Ramadan Mempersatukan

    19/2/2026 05:00

    SEPERTI pada 2022 dan 2024, juga pada banyak tahun sebelumnya, perbedaan jatuhnya 1 Ramadan kembali terjadi di Indonesia dan sejumlah negara lain.

  • Kendalikan Harga Segera

    18/2/2026 05:00

    KENAIKAN harga bahan pokok menjelang Ramadan kembali terulang. Polanya nyaris seragam dari tahun ke tahun.

  • Imlek dan Ramadan Merajut Tenun Kebangsaan

    17/2/2026 05:00

    SUDAH lebih dari dumedia a dekade, Hari Raya Imlek berdiri tegak sebagai simbol kematangan Republik dalam merawat keberagaman.