Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
KETIKA mendengar kata ‘politik’, yang terbayang di kepala anak muda ialah rebut kekuasaan, korupsi, dan kebohongan. Institusi politik sebagai penyerap dan penyalur aspirasi masyarakat kian menjauh dari imajinasi kaum muda.
Apatisme kaum muda terhadap politik ataupun parpol sebenarnya bukan hal baru. Namun, hasil survei Indikator Politik Indonesia semakin mengonfirmasi kondisi kurang ideal itu.
Survei Indikator yang dirilis Minggu (21/3) menyebutkan bahwa sebanyak 64,7% anak muda yang menjadi responden menilai partai politik atau politisi di Indonesia tidak terlalu baik sama sekali/tidak terlalu baik dalam mewakili aspirasi masyarakat.
Perasaan tidak terwakili adalah kondisi serius. Perasaan itu menunjukkan kekecewaan yang jika berlanjut bisa menjadi apatis, bahkan antipartai politik. Jika dibiarkan, generasi muda bisa menjadi generasi yang apolitis.
Hal itu tentunya sangat fatal sebab tidak akan ada sesuatu pun yang bisa bertahan tanpa regenerasi. Maka, generasi yang apolitis sesungguhnya kiamat bagi parpol itu sendiri.
Tugas partai politik ialah merebut kembali kepercayaan kaum muda. Menjadikan partai politik sebagai rumah yang aman dan nyaman bagi kaum muda.
Kaum muda jangan didekati hanya pada saat kampanye, sekadar mengajak mereka menggunakan hak pilih, atau cuma dijadikan objek politik sebagai penyumbang suara parpol.
Padahal, keberadaan kaum muda dalam politik praktis sangat signifikan. Pada Pemilu 2019 terdapat pemilih usia 21-30 tahun sebanyak lebih dari 42 juta dan pemilih berusia 20 tahun lebih dari 17 juta.
Sayangnya, jumlah besar kaum muda itu masih sekadar menjadi bahan rebutan suara. Setelah pemilu usai, aspirasi anak muda tidak diwujudkan dalam kebijakan partai ataupun di lembaga-lembaga perwakilan.
Jumlah anak muda yang menjadi pengurus partai politik pun bisa dihitung. Mereka tidak bisa masuk lingkaran kekuasaan karena partai politik masih dikuasai para elite. Jenjang karier juga tidak jelas. Perlu ada kerelaan kaum tua di partai politik untuk memberi tempat kepada kaum muda.
Ada juga partai politik dengan strategi menggunakan politisi muda sebagai duta atau brand ambassador partai. Banyak pula parpol yang mengandalkan kader karbitan, umumnya selebritas, karena malas melakukan kaderisasi sejak dini. Cara-cara usang seperti itu sama sekali tidak menarik minat kaum muda yang kian cerdas.
Hasil survei Indikator juga memperlihatkan kecerdasan kaum muda untuk menilai institusi politik. Kecerdasan itu tampak pada tingkat kepercayaan mereka kepada lembaga-lembaga negara.
Lembaga DPR dan parpol berada di dua peringkat terbawah. Kaum muda lebih percaya kepada TNI, Presiden, dan KPK, yang berada di peringkat tiga teratas. Kaum muda sudah mampu menilai, memilih dan memilah lembaga-lembaga negara yang berkinerja mumpuni.
Sudah tiba saatnya partai politik berbenah diri dan benar-benar mendengarkan suara generasi muda. Jangan cuma mendengarkan, tapi mau memperjuangkan aspirasi kaum muda menjadi kebijakan negara.
Terus terang, pada umumnya anak muda membawa nilai-nilai politik yang lebih segar, yakni tentang pemerintahan yang bersih dan bebas dari korupsi. Meski, harus jujur diakui pula, tak sedikit anak muda yang ketika berada di lingkaran kekuasaan justru terjebak pada perilaku korupsi.
Berbagai kajian politik dunia menyebutkan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam politik demi kestabilan dan kedamaian masyarakat itu sendiri. Tanpa keterlibatan mereka, kebijakan yang dihasilkan tak berumur panjang karena tidak mengakomodasi kebutuhan generasi mendatang.
Kemunculan anak-anak muda dalam perpolitikan Indonesia adalah keniscayaan zaman. Karena itu, jangan sampai anak muda tersesat di partai medsos. Mereka perlu diajak membangun partai politik, dan yang paling penting, mereka tidak apolitis.
KABAR cerah datang dari Badan Pusat Statistik (BPS), kemarin.
BALI, kata Presiden Prabowo Subianto, merupakan etalase Indonesia di mata dunia. Etalase itu mestinya bersih, indah, dan sedap dipandang.
SEJAK Olimpiade dihidupkan lagi pada 1859, dunia sudah melihat bahwa menang di pertandingan olahraga antarnegara punya arti amat besar.
KUALITAS demokrasi suatu bangsa selalu berbanding lurus dengan kesehatan partai politik.
DI saat gonjang-ganjing yang terjadi di pasar modal Indonesia belum tertangani secara tuntas, kita kembali disuguhi berita buruk lain di sektor ekonomi.
KEPUTUSAN mengundurkan diri Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman, Jumat (30/1), pantas diapresiasi.
DALAM beberapa hari terakhir, ruang publik kembali diharubirukan oleh dua kasus yang melibatkan aparat penegak hukum.
PEMERINTAHAN di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka mulai menyentuh bola panas, yakni mengutak-atik bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.
BEA cukai dan pajak merupakan tulang punggung penerimaan negara. Dari sanalah roda pemerintahan dan negara mendapatkan bahan bakar untuk bergerak.
Jika dihitung secara sederhana, gaji bupati Rp5,7 juta per bulan selama lima tahun masa jabatan hanya menghasilkan sekitar Rp342 juta.
NEGERI ini agaknya sudah berada pada kondisi normalisasi bencana. Banjir setinggi perut orang dewasa? Normal. Tanah longsor menimbun satu kampung? Normal.
BANJIR lagi-lagi merendam Jakarta dan daerah penyangganya, Bekasi dan Tangerang.
PENCABUTAN izin 28 perusahaan membuka peluang bagi pemulihan lingkungan pascabencana Aceh dan Sumatra.
PELEMAHAN nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dalam beberapa bulan terakhir bukan sekadar fenomena singkat.
Korupsi tersebut adalah gejala dari penyakit sistemik yang belum juga disembuhkan, yakni politik berbiaya tinggi.
PEMBERANTASAN korupsi di Republik ini seolah berjalan di tempat, bahkan cenderung mundur.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved