Headline

Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.

Benci Produk Asing

06/3/2021 05:00
Benci Produk Asing
Ilustrasi MI(MI/Duta)

 

 

PRESIDEN Joko Widodo menyerukan untuk lebih mencintai produk dalam negeri dan membenci produk asing. Seruan Presiden itu sangat serius sehingga disampaikan dua hari berturut-turut.

Saat membuka Rapat Koordinasi Nasional Perdagangan, Kamis (4/3), Presiden meminta Kementerian Perdagangan menyiapkan kebijakan dan strategi untuk mengembangkan pasar bagi produk dalam negeri. Salah satunya strategi untuk mendorong masyarakat agar lebih mencintai dan mendukung produk-produk dalam negeri, sekaligus menyerukan untuk membenci produk-produk asing.

Presiden kembali mengeluarkan seruan serupa pada Rapat Kerja Nasional XVII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia pada Jumat (5/3). Kata Presiden, jika lebih banyak masyarakat yang memilih produk dalam negeri ketimbang produk asing, kinerja industri yang sempat lesu akibat pandemi bisa terdongkrak.

Seruan Presiden tepat momentum. Pada saat industri tertatih-tatih akibat pandemi, harus ada gerakan yang masif untuk mencintai produk dalam negeri. Mencintai produk dalam negeri ialah bentuk nyata mencintai Indonesia.

Terus terang, selama ini, seringkali produk dalam negeri kalah bersaing dengan produk impor. Padahal, dari segi kualitas, barang-barang buatan anak bangsa tidak kalah baik. Mencintai produk sendiri harus dijadikan gerakan nasional.

Gerakan mencintai produk dalam negeri itulah yang menjadi roh Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2018 tentang Tim Nasional Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri alias Tim Nasional P3DN.

Salah satu tugas Tim Nasional P3DN ialah melakukan promosi dan sosialisasi mengenai penggunaan produksi dalam negeri, mendorong pendidikan sejak dini mengenai kecintaan, kebanggaan, dan kegemaran menggunakan produksi dalam negeri, serta memberikan akses informasi produksi dalam negeri.

Sayangnya, sepak terjang Tim Nasional P3DN nyaris tak terdengar gaungnya. Ia tertidur lelap dalam gegap gempita aliran masuk barang asing. Mestinya, jika tim itu bekerja efektif, tidak perlu sampai Presiden mengeluarkan seruan yang bisa ditafsirkan macam-macam di era globalisasi saat ini. Yang pasti, Indonesia tidak menganut paham proteksionisme dalam ekonomi.

Di saat produk dari mancanegara bebas mengalir tanpa hambatan tarif, maka sekat rasional yang tidak mudah dituding sebagai pelanggaran tata krama bisnis global. Sekat itu bernama fanatisme untuk mencintai produk dalam negeri.

Barang asing boleh saja mengalir masuk tanpa hambatan. Namun, bila masyarakat Indonesia tidak mau membeli karena lebih mencintai produksi dalam negeri, tidak ada negara mana pun yang mempersalahkan kita dengan dalih apa pun.

Pemerintah mestinya memelopori mencintai produk dalam negeri. Proyek-proyek yang akan dilaksanakan dalam pengadaan barang/jasa mestinya lebih banyak menggunakan bahan dan jasa dari dalam negeri. Konsekuensinya, penilaian penawaran peserta pengadaan barang/jasa tidak hanya dari segi teknis dan harga, tapi juga dari tingkat komponen dalam negeri. Jangan ada lagi proyek pemerintah yang dijalankan dengan bertumpu pada barang impor.

Tidak kalah pentingnya ialah terus-menerus melakukan edukasi untuk mengubah mindset atau pola pikir bahwa produk luar negeri lebih berkualitas. Buang ke laut saja pola konsumsi yang berpatokan pada merek atau brand asing terkenal.

Indonesia ialah bangsa yang besar, dengan 270 juta penduduk dan berdaya beli yang tinggi, itu berpotensi mendongrak perekonomian. Sayang kalau pasar itu dikuasai bangsa lain. Ingat, bangsa yang besar ialah bangsa yang menghargai karyanya.



Berita Lainnya
  • Sanksi Korupsi yang Menjerakan

    06/3/2026 05:00

    PENANGKAPAN Bupati Pekalongan Fadia Arafiq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menegaskan satu hal, bahwa praktik korupsi di daerah bukanlah peristiwa tunggal

  • Rapatkan Barisan Hadapi Guncangan

    05/3/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di tepi pusaran krisis. Ketidakpastian global menjelma menjadi badai yang sulit diprediksi arahnya.

  • Menyiasati Krisis Energi

    04/3/2026 05:00

    PERANG di Timur Tengah telah berlangsung selama lebih dari tiga hari. Dampaknya mulai dirasakan oleh berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.

  • Mobil Mewah bukan Penentu Muruah

    03/3/2026 05:00

    SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.

  • Saatnya Semua Menahan Diri

    02/3/2026 05:00

    SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

  • Menambal Defisit tanpa Bebani Rakyat

    28/2/2026 05:00

    PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.

  • Menata Ulang Efektivitas Demokrasi

    27/2/2026 05:00

    PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.

  • Krisis Ruang Digital Anak

    26/2/2026 05:00

    RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.

  • Ungkap Otak Sindikat Narkoba

    25/2/2026 05:00

    FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.

  • Menagih Imbal Hasil Investasi Pendidikan

    24/2/2026 05:00

    Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.

  • Sigap Membaca Perubahan Amerika

    23/2/2026 05:00

    DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.

  • Hasil Gemilang Negosiasi Dagang

    21/2/2026 05:00

    Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.

  • Memitigasi Penutupan Selat Hormuz

    20/2/2026 05:00

    IRAN menutup sementara Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara adidaya Amerika Serikat.

  • Ramadan Mempersatukan

    19/2/2026 05:00

    SEPERTI pada 2022 dan 2024, juga pada banyak tahun sebelumnya, perbedaan jatuhnya 1 Ramadan kembali terjadi di Indonesia dan sejumlah negara lain.

  • Kendalikan Harga Segera

    18/2/2026 05:00

    KENAIKAN harga bahan pokok menjelang Ramadan kembali terulang. Polanya nyaris seragam dari tahun ke tahun.

  • Imlek dan Ramadan Merajut Tenun Kebangsaan

    17/2/2026 05:00

    SUDAH lebih dari dumedia a dekade, Hari Raya Imlek berdiri tegak sebagai simbol kematangan Republik dalam merawat keberagaman.