Headline

Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.

Harga Mahal Kudeta

03/2/2021 05:00
Harga Mahal Kudeta
Ilustrasi MI(MI/Seno)

 

 

KUDETA yang terjadi pada 1 Februari lalu memang bukan hal baru untuk sejarah Myanmar. Negara berjuluk ‘Seribu Pagoda’ itu bahkan sudah mengalami empat kali pengambilalihan kekuasaan oleh militer sejak merdeka pada 1948.

Kudeta pertama dan kedua terjadi di bawah kepemimpinan Jenderal Ne Win, yang masing-masing berlangsung pada 1958-1960 dan 1962-1988. Kudeta ketiga berada di bawah kepemimpinan Jenderal Saw Maung, Than Shwe, dan Khin Nyunt, yang totalnya berlangsung sepanjang 1988-2011.

Berulangnya kudeta tetap bukan alasan untuk pemakluman. Bahkan, dengan adanya tuduhan kecurangan pemilu yang dilakukan pemerintah, kudeta tetaplah kejahatan bagi bangsa sebab harga mahal kudeta harus dipikul rakyat hingga waktu yang panjang.

Di Myanmar, harga itu sudah diperlihatkan dari tingginya populasi yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Pada 2017, jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan mencapai 24,8%. Dalam peringkat GDP (gross domestic product), Myanmar yang sebenarnya kaya akan minyak dan gas bumi teronggok di peringkat 73 pada 2019. GDP per kapita tahun itu pun hanya sekitar US$1.407 (sekitar Rp19 juta).

Kudeta yang kini kembali dilancarkan Tatmadaw, sebutan untuk militer Myanmar, mengancam kebangkitan ekonomi yang diupayakan sejak 2012, ibarat kembali ke titik nol. Alih-alih sebagai tujuan investasi baru di Asia, Myanmar akan kehilangan daya tarik.

Segala catatan itu menegaskan dampak buruk negara terkudeta seperti yang sudah disebutkan berbagai riset dunia. Betul bahwa pada beberapa negara, kudeta mencetuskan pula kebangkitan akan demokrasi. Namun, lebih sering terjadi, kudeta melahirkan rezim autoritarian dan meningkatkan kekerasan oleh negara.

Sebuah studi yang dilakukan tim peneliti dari gabungan tiga universitas di Amerika Serikat pun menepis segala pembelaan dari kudeta. Studi atas berbagai kudeta yang terjadi di dunia sejak 1950 hingga 2014 jelas menunjukkan tidak ada korelasi kudeta dengan demokrasi. Bahkan ketika kudeta dijadikan alasan untuk menumbangkan kediktatoran, kenyataannya kudeta hanya jembatan dari satu diktator ke diktator lain.

Lebih mengerikan, kudeta yang terjadi di era pascaperang dingin maupun di era globalisasi kini tidak lebih beradab. Sekalipun tidak jadi peristiwa berdarah, kudeta selalu mengakibatkan banyak pelanggaran HAM.

Kekejaman sudah ibarat dua sisi mata uang dengan kudeta karena ketika cara konstitusional disingkirkan, ukuran kepatutan menjadi kabur. Sebab itu, memang tepat dikatakan jika kudeta adalah cara primitif dan kejam dalam meraih kekuasaan. Kudeta semestinya haram di level peradaban apa pun.

Namun, seperti juga segala konsep yang ada di dunia ini, cara kudeta hanya akan ditinggalkan jika negara-negara bersatu menentangnya. Dalam konteks kerja sama ASEAN, setinggi apa pun negara-negara anggota menghormati kedaulatan masing-masing, sikap atas kudeta harus ditunjukkan.

Pemerintah Indonesia telah menyatakan keprihatinan mendalam, menyerukan agar semua pihak di Myanmar menahan diri dan berupaya mencapai solusi damai. Lebih jauh, pemerintah Indonesia semestinya juga bisa menggunakan beragam mekanisme yang ada di ASEAN untuk mendorong perundingan yang tetap menjunjung kerahasiaan para negara anggota.

Seperti diungkapkan pakar ASEAN Dinna Wisnu, prinsip tidak mencampuri urusan internal negara bukan pula berarti tidak berbuat apa-apa. Inilah saatnya Indonesia memanfaatkan momentum untuk mengajak ASEAN agar saling mendengar dan bukannya saling menutup telinga sebab semangat itu pula yang telah melahirkan ASEAN pada awalnya.



Berita Lainnya
  • Sanksi Korupsi yang Menjerakan

    06/3/2026 05:00

    PENANGKAPAN Bupati Pekalongan Fadia Arafiq oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menegaskan satu hal, bahwa praktik korupsi di daerah bukanlah peristiwa tunggal

  • Rapatkan Barisan Hadapi Guncangan

    05/3/2026 05:00

    DUNIA kembali berdiri di tepi pusaran krisis. Ketidakpastian global menjelma menjadi badai yang sulit diprediksi arahnya.

  • Menyiasati Krisis Energi

    04/3/2026 05:00

    PERANG di Timur Tengah telah berlangsung selama lebih dari tiga hari. Dampaknya mulai dirasakan oleh berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.

  • Mobil Mewah bukan Penentu Muruah

    03/3/2026 05:00

    SETELAH menjadi polemik, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud akhirnya mengembalikan mobil dinas mewah seharga Rp8,5 miliar ke kas daerah.

  • Saatnya Semua Menahan Diri

    02/3/2026 05:00

    SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.

  • Menambal Defisit tanpa Bebani Rakyat

    28/2/2026 05:00

    PROGRAM Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia adalah oase bagi jutaan rakyat untuk mengakses layanan kesehatan.

  • Menata Ulang Efektivitas Demokrasi

    27/2/2026 05:00

    PEMBAHASAN revisi Undang-Undang Pemilu kembali menghadirkan satu isu strategis, yakni ambang batas parlemen.

  • Krisis Ruang Digital Anak

    26/2/2026 05:00

    RUANG digital yang semula digadang-gadang sebagai wahana belajar dan berkreasi bagi generasi muda kini berubah menjadi medan yang semakin berbahaya bagi anak-anak.

  • Ungkap Otak Sindikat Narkoba

    25/2/2026 05:00

    FANDI Ramadhan adalah potret dari petaka yang disebabkan oleh narkoba.

  • Menagih Imbal Hasil Investasi Pendidikan

    24/2/2026 05:00

    Para awardee ini dibiayai miliaran rupiah untuk mendapatkan kemewahan bersekolah ke luar negeri agar mereka pulang sebagai agen perubahan yang ikut membereskan ketidakidealan tersebut.

  • Sigap Membaca Perubahan Amerika

    23/2/2026 05:00

    DUNIA sedang menyaksikan titik balik luar biasa dalam lanskap perdagangan internasional.

  • Hasil Gemilang Negosiasi Dagang

    21/2/2026 05:00

    Pemerintah perlu memastikan harmonisasi regulasi, mempercepat layanan perizinan, serta memperkuat lembaga pengawas mutu agar tidak terjadi kasus penolakan produk di pelabuhan tujuan.

  • Memitigasi Penutupan Selat Hormuz

    20/2/2026 05:00

    IRAN menutup sementara Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara adidaya Amerika Serikat.

  • Ramadan Mempersatukan

    19/2/2026 05:00

    SEPERTI pada 2022 dan 2024, juga pada banyak tahun sebelumnya, perbedaan jatuhnya 1 Ramadan kembali terjadi di Indonesia dan sejumlah negara lain.

  • Kendalikan Harga Segera

    18/2/2026 05:00

    KENAIKAN harga bahan pokok menjelang Ramadan kembali terulang. Polanya nyaris seragam dari tahun ke tahun.

  • Imlek dan Ramadan Merajut Tenun Kebangsaan

    17/2/2026 05:00

    SUDAH lebih dari dumedia a dekade, Hari Raya Imlek berdiri tegak sebagai simbol kematangan Republik dalam merawat keberagaman.