Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Pemerintah Pusat Harus Tegas

17/2/2020 05:00

PERATURAN perundang-undangan dibuat bukan untuk pajangan, melainkan untuk dijalankan terutama oleh pejabat publik. Karena itulah, sebelum memangku jabatan, pejabat publik, misalnya kepala daerah, mengucapkan sumpah yang lafalnya antara lain menjalankan segala undang-undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya.

Sumpah itu ternyata hanya pemanis bibir. Undang-undang dan peraturannya justru dijalankan dengan sebengkok-bengkoknya. Pembengkokan undang-undang dan aturannya tampak nyata dalam kasus revitalisasi Monas dan penyelenggaraan Formula E.

Monas hampir tiga dekade ditetapkan sebagai cagar budaya. Ditetapkan berdasarkan Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 475/1993 pada 29 Maret 1993 tentang Penetapan Bangunan Bersejarah sebagai Benda Cagar Budaya. Monas ada di dalamnya.

Sebagai cagar budaya, Monas dilindungi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 dan terakhir diubah dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Perusakan cagar budaya ialah kejahatan, diancam pidana penjara paling lama 20 tahun.

Monas dan sekitarnya, dalam hal pengelolaannya, juga tunduk pada Keputusan Presiden Nomor 25 Tahun 1995 tentang Pembangunan Kawasan Medan Merdeka di Wilayah Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta. Berdasarkan keppres itu, revitalisasi Monas harus mendapatkan persetujuan Komisi Pengarah yang diketuai Menteri Sekretaris Negara dan beranggotakan sejumlah menteri.

Undang-undang dan peraturan soal Monas sudah sangat jelas. Akan tetapi, revitalisasi Monas yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta pada mulanya tanpa meminta persetujuan Komisi Pengarah. Publik pun menyuarakan kecaman terkait dengan kontroversi penebangan ratusan pohon di Monas. Persetujuan keluar setelah sempat dilarang untuk dilanjutkan revitalisasi.

Kini, kontroversi berlanjut terkait dengan penyelenggaraan balap mobil listrik, Formula E, di Monas. Rapat Komisi Pengarah pada 5 Februari 2020 tidak memberikan persetujuan atas gelaran Formula E di kawasan Medan Merdeka. Dua hari kemudian, 7 Februari, terbit surat dari Komisi Pengarah yang menyebutkan memberikan persetujuan atas gelaran balapan di kawasan Medan Merdeka.

Perubahan sikap Komisi Pengarah sungguh mengejutkan publik. Bagaimana mungkin Komisi Pengarah berubah sikap hanya dalam tempo 2 x 24 jam tanpa ada penjelasan rasional kepada publik? Sulit menampik tudingan adanya permufakatan lain di balik persetujuan itu.

Benar bahwa dalam surat persetujuan Komisi Pengarah terdapat syarat yang mesti dipenuhi, antara lain DKI Jakarta harus memenuhi ketentuan UU Cagar Budaya Nomor 11 Tahun 2010 dan harus melibatkan instansi terkait guna menghindari perubahan fungsi, kerusakan lingkungan, dan kerusakan cagar budaya di kawasan Medan Merdeka.

Untuk menindaklanjuti surat Komisi Pengarah itulah, pada 11 Februari 2020 Pemprov DKI bersurat dengan menyebut sudah mendapatkan rekomendasi dari Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) DKI Jakarta yang ditegaskan dalam Surat Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta tanggal 20 Januari 2020 Nomor 93/-1.853.15 tentang Penyelenggaraan Formula E 2020.

Surat Pemprov DKI tertanggal 11 Februari itu justru menguak fakta lain, kalau tidak mau disebut sebagai kebohongan, bahwa TACB DKI Jakarta sama sekali tidak diajak bicara oleh Pemprov DKI mengenai rencana balapan itu dan menyatakan tidak pernah memberikan rekomendasi untuk menggelar balapan di kawasan Medan Merdeka. Pemprov DKI lalu mengoreksi dengan menyebut yang memberikan rekomendasi ialah Tim Sidang Pemugaran (TSP) DKI dan bukan TACB DKI.

Harus tegas dikatakan bahwa revitalisasi dan penyelenggaraan Formula E di Monas sudah salah sejak awal karena tidak mematuhi undang-undang dan peraturannya. Karena itu, Komisi Pengarah harus membatalkan persetujuan revitalisasi dan penyelenggaraan Formula E di Monas.

Pemerintah pusat harus tegas, jangan mencla-mencle. Pembatalan revitalisasi dan penyelenggaraan Formula E di Monas bertujuan membuktikan komitmen bahwa Indonesia masih sebagai negara hukum dan pejabatnya tidak punya akal bulus mengompromikan undang-undang dan aturannya. Pindahkan saja Formula E ke Taman Mini Indonesia Indah atau Ancol, gitu aja kok repot.

 



Berita Lainnya
  • Memetik Hasil Tata Kelola Mudik

    27/3/2026 05:00

    SETIAP musim mudik Lebaran tiba, pemerintah seolah kembali memasuki arena uji publik yang tak pernah benar-benar usai

  • Langkah Tepat Pembatalan Belajar Daring

    26/3/2026 05:00

    DI tengah langkah penghematan energi sebagai antisipasi terhadap gejolak global, pemerintah memastikan untuk tidak memberlakukan pembelajaran daring bagi para siswa.

  • Penghematan Tepat Sektor

    25/3/2026 05:00

    BERHEMAT adalah hal mutlak dalam menghadapi krisis global saat ini. Berhemat, khususnya BBM, merupakan adaptasi pertama dan minimal ketika Selat Hormuz belum juga aman.

  • Jalan Abu-Abu Status Tahanan Rumah

    24/3/2026 05:00

    PEMBERANTASAN korupsi di Indonesia kembali diuji. Di tengah persepsi publik bahwa praktik korupsi kian mengakar, langkah penegakan hukum justru dinilai melemah.

  • Privilese di KPK

    23/3/2026 05:00

    Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, atau yang akrab disapa Gus Yaqut, dilaporkan mendapatkan status tahanan rumah.

  • Memancarkan Takwa ke Sesama Manusia

    21/3/2026 05:00

    RAMADAN telah berlalu dan kini seluruh umat Islam di dunia merayakan Hari Raya Idul Fitri.

  • Peradilan Koneksitas untuk Penyiram Air Keras

    20/3/2026 05:00

    PENGUNGKAPAN identitas terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Andrie Yunus menjadi angin segar. 

  • Ujian Pengendalian Diri

    19/3/2026 05:10

    Ramadan dengan puasanya dan Nyepi dengan catur brata penyepiannya adalah dua jalan berbeda yang sama-sama menuju pada penguatan sikap pengendalian diri.

  • Kematangan Toleransi

    18/3/2026 05:00

    DALAM minggu ini, ada dua momentum besar ujian kematangan toleransi bangsa kita, yaitu Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 1447 Hijriah.

  • Korupsi tak Kunjung Henti

    17/3/2026 05:00

    TAK salah kiranya jika Transparency International menempatkan Indonesia di level rendah dalam pemberantasan korupsi sepanjang 2025.

  • Ujian HAM dan Demokrasi untuk Negara

    16/3/2026 05:00

    Peristiwa itu merupakan ancaman serius terhadap demokrasi dan perlindungan hak asasi manusia (HAM) di Indone

  • Antisipasi Tepat, Mudik Selamat

    14/3/2026 05:00

    GELOMBANG mudik Lebaran selalu menjadi ujian besar bagi kapasitas negara dalam mengelola mobilitas manusia berskala besar.

  • Merawat Optimisme Publik lewat Mudik

    13/3/2026 05:00

    BAGAIMANAPUN dampak situasi global saat ini, pemerintah harus bisa memastikan mudik Lebaran berlangsung aman dan lancar.

  • Negara Hadir untuk Menenangkan

    12/3/2026 05:00

    PEMERINTAH sejatinya lahir untuk melindungi, memberi kepastian, dan mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya.

  • Napas Panjang Antisipasi Perang

    11/3/2026 05:00

    Stok BBM untuk 21 hari yang selama ini disebut sebagai standar buffer operasional semestinya tidak dipandang sebagai zona aman.

  • Menajamkan Sistem Pengawasan

    10/3/2026 05:00

    LAILA Fathiah, dengan nama panggung Fadia Arafiq, menjadi kepala daerah kedelapan hasil pilkada serentak pada 2024 lalu yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).