Jumat 20 Desember 2019, 05:05 WIB

Mengantisipasi Pemakzulan Trump

Administrator | Editorial

ADA yang patut dicermati dalam percaturan politik global saat ini, khususnya di Amerika Serikat. Nasib Presiden Amerika Serikat Donald Trump berada di ujung tanduk. Upaya pemakzulannya sudah setengah jalan setelah DPR setempat meloloskan rencana pemecatan Trump itu pada Rabu (18/12) malam.

Keputusan akhir berada di tangan sidang Senat AS yang bakal digelar bulan depan. Trump dituding menyalahgunakan kekuasaan demi memuluskan karier politiknya untuk kembali memimpin AS kedua kalinya. Ia menekan pemerintah Ukraina agar menyelidiki Joe Biden, calon rivalnya di Pilpres AS 2020.

Trump juga dinilai menghalangi upaya penyelidikan Kongres mengenai hal itu dengan melarang para pembantunya di Gedung Putih untuk bersaksi. Kedua pasal tuduhan itu tidak main-main. Penyalahgunaan kekuasaan merupakan pelanggaran serius di mana pun di dunia. Apalagi, yang melakukan ialah kepala negara ataupun kepala pemerintahan.

Trump masih bisa terselamatkan dengan kekuatan Republik, partai pendukungnya, yang mendominasi Senat AS. Kendati begitu, kemungkinan untuk Senat memutuskan pemakzulan terhadap Trump masih terbuka. Bila tidak, Trump tak akan deg-degan hingga merasa perlu melakukan kampanye di kantong-kantong pendukungnya.

Ketidakpastian politik di AS cukup menimbulkan kecemasan. Setidaknya bagi investor asing. Pascakeputusan DPR AS untuk memakzulkan Trump, dana asing senilai Rp158 miliar mengalir ke luar Indonesia dalam bentuk penjualan bersih saham. Bila hal itu berlanjut, kestabilan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terancam.

Dinamika politik AS juga bisa menimbulkan ketidakstabilan perdagangan. Selama ini Indonesia memetik surplus dari perdagangan dengan Amerika Serikat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang Januari-November 2019, surplus neraca dagang Indonesia di sektor nonmigas mencapai US$8,5 miliar.

Surplus tahun ini lebih besar ketimbang periode yang sama tahun lalu. Sepanjang Januari-November 2018, Indonesia mencatatkan surplus US$7,8 miliar dalam perdagangan sektor nonmigas dengan Amerika Serikat.

Kenaikan surplus itu ikut membuat defisit neraca perdagangan Indonesia periode Januari-November tahun ini menipis menjadi US$3,11 miliar. Pada periode yang sama tahun lalu, angka defisit mencapai US$7,63 miliar.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan keyakinannya bahwa pemakzulan Trump tidak berdampak pada perekonomian Indonesia. Pelaku pasar dianggap sudah memperhitungkan risiko dinamika politik di Amerika Serikat.

Keyakinan tersebut kita harapkan bukan sekadar tebak-tebak buah manggis. Menkeu pun mengakui stabilitas politik dan kepastian kebijakan AS sebagai perekonomian terbesar di dunia memiliki pengaruh terhadap perekonomian global, tidak terkecuali Indonesia.

Karena itu, seyogianya optimisme tetap disertai langkah-langkah antisipasi skenario terburuk. Meningkatkan kewaspadaan tidak sama dengan ketakutan berlebihan. Waspada lazimnya didukung dengan antisipasi.

Dalam situasi apa pun, persiapan yang lebih baik akan meminimalkan potensi kepanikan dan kegagalan dalam merespons krisis. Lengah akibat meremehkan ancaman bisa berakibat fatal. Perekonomian nasional taruhannya.

Pemakzulan Trump juga menjadi pelajaran penting bagi para pemimpin di dunia. Pemimpin hendaknya tetap menjaga lisan dan laku, paling utama tidak menyalahgunakan wewenang apalagi melanggar hukum.

Baca Juga

MI/Seno

PSBB Butuh Keteladanan

👤Administrator 🕔Selasa 07 April 2020, 05:05 WIB
REGULASI dibuat untuk segera dijalankan, bukan untuk...
Duta

Menanti Penerapan PSBB

👤Administrator 🕔Senin 06 April 2020, 05:45 WIB
Seluruh komponen bangsa, segenap warga negara, hendaknya bergotong royong berperang melawan covid-19 sang musuh bersama yang tidak...
MI/Duta

Mudik Membawa Maut

👤Administrator 🕔Senin 06 April 2020, 05:00 WIB
PENANGGULANGAN covid-19 jangan hanya mengandalkan usaha yang dilakukan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya