Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Arif, Positif, dan Solutif bagi Papua

22/8/2019 05:05

UJARAN kebencian dan rasialisme merupakan tindakan tidak terpuji. Perilaku tersebut tidak saja berpotensi mencederai perasaan dan harga diri seseorang atau sekelompok kaum, tetapi juga merupakan tindak pelanggaran hukum yang serius.

Dalam perspektif hukum pidana, ujaran kebencian dapat dikategorikan sebagai pelanggaran atas ketentuan Pasal 156 Kitab Undang-Undang Hukum Piadana (KUHP), yakni perbuatan-perbuatan yang dianggap menimbulkan rasa kebencian dan permusuhan.

Aspek pelanggaran hukum perilaku rasialisme juga tidak kalah serius. Perbuatan itu, menurut ketentuan Undang-Undang (UU) Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnik, terutama pada Pasal 16, dapat dikenai pidana penjara selama lima tahun.

Ironisnya, kedua perbuatan tersebut diduga telah berlangsung di Surabaya dan Malang, Jawa Timur, terhadap mahasiswa Papua di kedua kota tersebut. Seperti dilaporkan tiga hari terakhir, insiden yang berlangsung Senin (19/8) itu memicu unjuk rasa di Jayapura, Manokwari, dan Sorong yang berakhir ricuh.

Sejumlah fasilitas publik dibakar massa. Aktivitas ekonomi di wilayah-wilayah tersebut dilaporkan sempat lumpuh. Pertokoan dan stasiun pengisian bahan bakar minyak tutup. Kegiatan belajar-mengajar di sekolah dan kantor pemerintah diliburkan.

Setelah insiden di Manokwari dan Sorong tersebut mereda, pada Rabu (21/8) kericuhan dilaporkan merembet ke kawasan Fak-Fak dan Timika.

Kita prihatin dan bahkan teramat prihatin dengan insiden-insiden yang berlangsung dalam beberapa hari terakhir di Malang, Surabaya, Sorong, Manokwari, Fak-Fak, dan Timika.

Meskipun situasi di wilayah-wilayah itu telah dapat diredam dan dikendalikan aparat keamanan sehingga kondisi berangsur pulih, kita tetap menyesalkan dan menyayangkan terjadinya insiden-insiden tersebut.

Adanya insiden-insiden itu jelas telah mengganggu ketenangan dan ketenteraman kita, baik sebagai individu, anggota masyarakat, maupun warga bangsa di mana pun kita berada. Tidak hanya di Malang, Surabaya, Sorong, Manokwari, Fak-Fak, dan Timika, warga bangsa di seluruh wilayah Tanah Air merasakan keprihatinan yang sama atas terjadinya insiden-insiden tersebut.

Karena itu, kita mengapresiasi langkah aparat keamanan yang responsif dalam mengendalikan situasi sehingga keadaan di wilayah-wilayah terdampak tetap kondusif. Kita berharap aparat keamanan dapat terus mengendalikan situasi sehingga insiden tidak merembet ke wilayah lain dan tidak menimbulkan eskalasi yang tidak perlu.

Apresiasi yang sama juga kita sampaikan atas koordinasi yang baik serta sikap positif dari pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Pemprov Papua, dan Pemprov Papua Barat beserta pemuka dan warga masyarakat di ketiga provinsi. Berkat koordinasi dan pendekatan positif seluruh pihak tersebut, situasi pun berangsur pulih.

Sikap positif ini perlu kita jaga dan kita kelola bersama. Artinya, seluruh pihak harus dapat bersikap arif dan menahan diri untuk tidak melakukan tindakan-tindakan yang overakting. Tindakan-tindakan overakting dalam situasi yang kurang kondusif dapat memicu reaksi yang tidak diharapkan.

Atas dugaan terjadinya ujaran kebencian dan rasialisme ataupun kedua-duanya, yakni ujaran kebencian bernuansa rasialisme di Malang dan Surabaya, kita mendorong proses hukum dilakukan tanpa pandang bulu siapa pun pelakunya.

Kita tidak rela jika benar pelanggaran hukum itu dilakukan terhadap saudara-saudara kita mahasiswa Papua di Malang dan Surabaya. Usut tuntas pelakunya dan proses hukum mereka secara tegas. Proses hukum yang sama juga harus dilakukan terhadap mereka yang melakukan tindakan anarkistis di Sorong, Manokwari, Fak-Fak, dan Timika.

Di luar kasus hukum yang muncul di permukaan, pemerintah baik pusat maupun daerah juga perlu lebih serius dalam menyelesaikan persoalan-persoalan terkait dengan Papua yang berada di bawah permukaan. Isu ketimpangan, dugaan pelanggaran hak asasi manusia, dan isu lain yang sudah lama berkembang perlu lebih dicermati dan dicarikan jalan keluar segera. Di era media sosial dan revolusi 4.0, magnitude dan momentum yang berkaitan dengan persoalan-persoalan tersebut dapat berefek ganda.

Publik mencatat pemerintahan Joko Widodo dalam lima tahun terakhir sangat serius dalam menggenjot pembangunan infrastruktur untuk mewujudkan pemerataan di Tanah Papua. Kita percaya lima tahun ke depan program yang sama bakal diteruskan bahkan ditingkatkan pemerintahan Jokowi-Amin.

Karena itu, kita berharap semua pihak menyikapi persoalan mengenai Papua ini dengan positif, arif, sekaligus solutif. Dengan sikap itu, perdamaian, kehormatan dan perlindungan hak asasi manusia, serta keadilan sosial di Bumi Cenderawasih dapat terwujud.



Berita Lainnya
  • Evaluasi Pengiriman Prajurit TNI

    01/4/2026 05:00

    GUGURNYA tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam misi perdamaian di Libanon menjadi pukulan keras bagi Indonesia.

  • Kembalikan Akal Sehat Kasus Amsal Sitepu

    31/3/2026 05:00

    RUANG publik kembali disuguhi dinamika penegakan hukum yang menimbulkan kegelisahan.

  • Saat Tepat untuk Berhemat

    30/3/2026 05:00

    SABTU (28/3) lalu, genap satu bulan prahara di Timur Tengah berlangsung.

  • Mengawal Fajar Baru Perlindungan Anak

    28/3/2026 05:00

    MULAI hari ini, 28 Maret 2026, jagat digital Indonesia memasuki babak baru yang krusial.

  • Memetik Hasil Tata Kelola Mudik

    27/3/2026 05:00

    SETIAP musim mudik Lebaran tiba, pemerintah seolah kembali memasuki arena uji publik yang tak pernah benar-benar usai

  • Langkah Tepat Pembatalan Belajar Daring

    26/3/2026 05:00

    DI tengah langkah penghematan energi sebagai antisipasi terhadap gejolak global, pemerintah memastikan untuk tidak memberlakukan pembelajaran daring bagi para siswa.

  • Penghematan Tepat Sektor

    25/3/2026 05:00

    BERHEMAT adalah hal mutlak dalam menghadapi krisis global saat ini. Berhemat, khususnya BBM, merupakan adaptasi pertama dan minimal ketika Selat Hormuz belum juga aman.

  • Jalan Abu-Abu Status Tahanan Rumah

    24/3/2026 05:00

    PEMBERANTASAN korupsi di Indonesia kembali diuji. Di tengah persepsi publik bahwa praktik korupsi kian mengakar, langkah penegakan hukum justru dinilai melemah.

  • Privilese di KPK

    23/3/2026 05:00

    Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, atau yang akrab disapa Gus Yaqut, dilaporkan mendapatkan status tahanan rumah.

  • Memancarkan Takwa ke Sesama Manusia

    21/3/2026 05:00

    RAMADAN telah berlalu dan kini seluruh umat Islam di dunia merayakan Hari Raya Idul Fitri.

  • Peradilan Koneksitas untuk Penyiram Air Keras

    20/3/2026 05:00

    PENGUNGKAPAN identitas terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Andrie Yunus menjadi angin segar. 

  • Ujian Pengendalian Diri

    19/3/2026 05:10

    Ramadan dengan puasanya dan Nyepi dengan catur brata penyepiannya adalah dua jalan berbeda yang sama-sama menuju pada penguatan sikap pengendalian diri.

  • Kematangan Toleransi

    18/3/2026 05:00

    DALAM minggu ini, ada dua momentum besar ujian kematangan toleransi bangsa kita, yaitu Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 1447 Hijriah.

  • Korupsi tak Kunjung Henti

    17/3/2026 05:00

    TAK salah kiranya jika Transparency International menempatkan Indonesia di level rendah dalam pemberantasan korupsi sepanjang 2025.

  • Ujian HAM dan Demokrasi untuk Negara

    16/3/2026 05:00

    Peristiwa itu merupakan ancaman serius terhadap demokrasi dan perlindungan hak asasi manusia (HAM) di Indone

  • Antisipasi Tepat, Mudik Selamat

    14/3/2026 05:00

    GELOMBANG mudik Lebaran selalu menjadi ujian besar bagi kapasitas negara dalam mengelola mobilitas manusia berskala besar.