Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
Sebuah studi terbaru dari Universitas New York, Amerika Serikat (AS) mengungkapkan bahwa bermain puzzle digital dapat meningkatkan memori atau ingatan warga lanjut usia. Peningkatan memori ini tak main-main, sebanding dengan anak muda berusia 20-an tahun
Studi yang telah dipublikasikan di jurnal Heliyon menyebutkan bahwa peningkatan memori orang berusia 60 tahun ke atas hanya terjadi pada mereka yang bermain puzzle digital. Sedangkan lansia yang bermain gim strategi tidak menunjukkan peningkatan memori atau konsentrasi yang sama.
Peneliti dari Departemen Ilmu Komputer University of York, Joe Cutting, mengatakan, umumnya orang mempunyai kemampuan yang baik untuk mengabaikan gangguan yang tidak relevan. Seseorang juga dapat menghafal nama jalan meskipun ada gangguan di sekitarnya. Namun, kemampuan itu menurun seiring bertambahnya usia.
Untuk mengetahui hasilnya lebih lanjut, studi ini menyertakan lebih dari 200 respponden mengingat gambar saat perhatiannya teralihkan.
“Permainan puzzle untuk lansia memiliki kemampuan yang mengejutkan untuk mendukung kemampuan memori dan tingkat konsentrasi yang sama dengan pemuda berusia 20 tahun yang tidak bermain puzzle,” ujarnya dilansir dari Scitechdaily pada Rabu (27/9).
Diketahui bahwa seiring bertambahnya usia, kemampuan mental manusia cenderung menurun, terutama kemampuan mengingat sejumlah hal dalam satu waktu yang dikenal dengan istilah working memory. Memori kerja diperkirakan mencapai puncaknya antara usia 20 dan 30 tahun sebelumerlahan menurun seiring bertambahnya usia.
Namun, penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa cara kita menyimpan informasi di otak berubah seiring bertambahnya usia, sehingga tim peneliti mengamati apakah dampak dari jenis rangsangan mental tertentu, seperti bermain game serta memiliki efek yang berubah tergantung pada usia.
Para peneliti mengungkapkan bahwa jika hanya memainkan gim strategi, lansia cenderung melupakan unsur-unsur yang melekat pada memori saat mereka terganggu oleh sejumlah hal. Sementara anak muda cenderung kurang berhasil memusatkan perhatian jika mereka hanya bermain puzzle.
Peneliti dari Departemen Psikologi University of York, Fiona McNab, menjelaskan banyak penelitian berfokus pada permainan aksi karena menganggap bereaksi dengan cepat, melacak target, dan sebagainya membantu perhatian dan ingatan. Namun, analisis pihaknya menunjukkan bahwa elemen tindakan tidak menawarkan manfaat yang signifikan bagi generasi muda.
“Tampaknya elemen strategi dalam permainan seperti perencanaan dan pemecahan masalah yang menstimulasi daya ingat dan perhatian yang lebih baik pada generasi muda. Namun, kami tidak melihat efek yang sama pada orang dewasa yang lebih tua. Diperlukan lebih banyak penelitian untuk memahami mengapa hal ini terjadi,” ungkapnya.
McNab lebih lanjut mengatakan bahwa pihaknya belum bisa mengesampingkan faktor gim strategi yang dimainkan oleh lansia tidak sesulit gim yang dimainkan anak muda. Tingkat tantangan atau kesulitan mungkin menjadi faktor penting dalam peningkatan daya ingat.
Peneliti dari Departemen Ilmu Komputer Universitas York, Dr Joe Cutting, mengatakan bahwa secara umum orang memiliki kemampuan yang baik untuk mengabaikan gangguan yang tidak relevan, sesuatu yang disebut 'pengkodean gangguan'.
“Namun, orang yang lebih tua lebih cenderung melupakan elemen-elemen yang tersimpan dalam memori dan terganggu jika mereka hanya memainkan permainan strategi. Sementara orang-orang muda kurang berhasil dalam memusatkan perhatian jika mereka hanya bermain permainan puzzle,” jelasnya.
Para peneliti mengatakan penelitian di masa depan harus lebih fokus menelusuri terakhir sebab dan dampak dari adanya perbedaan antara jenis permainan tergantung dari usia orang yang memainkannya pada dan apakah ini terkait dengan bagaimana otak menyimpan informasi seiring bertambahnya usia.(M-3)
Studi terbaru mengungkap teknik "meta-cognitive doubt". Meragukan pikiran negatif ternyata lebih efektif untuk kembali berkomitmen pada tujuan jangka panjang.
Korps Relawan Bencana di bawah Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi), melaksanakan rangkaian Psychosocial Support Program bagi anak-anak yang terdampak gempa bumi di Kabupaten Poso.
Dialah Saparinah Sadli, perempuan berusia 99 tahun yang menjadi saksi hidup perjalanan panjang ilmu psikologi dan gerakan perempuan di Indonesia.
Talentlytica bersama Unit Usaha Akademik Unpad akan menggelar Workshop Pauli Reimagined pada 4 Oktober mendatang di Bandung, Jawa Barat
Penggunaan pacar AI di platform seperti Character.AI makin populer, tetapi pakar memperingatkan risikonya.
Cinta bukan hanya soal perasaan, tapi juga ilmiah. Pelajari efek hormon ini saat jatuh cinta dan patah hati.
Penelitian terbaru mengungkap ekspresi wajah primata dan manusia adalah tindakan terencana, bukan sekadar respons emosional otomatis.
Sebuah penelitian terbaru yang dimuat dalam jurnal ilmiah dan dilansir oleh laman PsyPost mengungkap bahwa misi luar angkasa tidak hanya berdampak pada otot dan tulang manusia
Kolin merupakan nutrisi esensial yang berperan langsung dalam pengaturan suasana hati, daya pikir, dan emosi.
Pernahkah kamu melihat wajah pada rumput, batu, bangunan, atau mungkin benda-benda terdekat di sekitar?
Peneliti berhasil mengembangkan protein sensor untuk melacak sinyal glutamat di otak secara real-time. Penemuan ini membuka tabir cara otak belajar dan memproses memori.
peneliti di Swedia dan Republik Ceko pada 2023 menemukan faktor pemicu risiko demensia bahkan sebelum lahir
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved