Sabtu 16 April 2022, 07:20 WIB

Jatuh Bangun Perempuan Seniman Zaman Meiji

Pro/M-2 | Weekend
Jatuh Bangun Perempuan Seniman Zaman Meiji

Dok. Penerbit Mei
Cover buku Gincu Sang Mumi.

 

KETIDAKSETARAAN gender dalam karier dan budaya patriarki memang menjadi hal yang marak ditemui di negara-negara Asia selama berabad-abad lamanya, termasuk di Jepang.

Sulitnya seorang perempuan untuk bisa berdiri atas kakinya sendiri dan menelurkan karya yang bebas di Jepang setidaknya dialami oleh Tamura Toshiko. Toshiko merupakan salah satu perempuan penulis profesional pertama Jepang. Karya-karyanya banyak dipublikasikan oleh penerbit maupun surat kabar Jepang di era 1868-1912 atau di akhir zaman Meiji.

Salah satu bukunya yang legendaris ialah Miira no Kuchibeni, yang dalam terbitan versi bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai Gincu Sang Mumi. Buku tersebut pertama kali dirilis oleh Toshiko pada 1914.

Secara singkat, Gincu Sang Mumi merupakan semi-autobiografi yang disajikan dalam bentuk prosa. Buku ini berisi kisah tokoh Minoru, seorang perempuan yang terobsesi dengan seni. Baginya, seni adalah sesuatu yang sangat pribadi. Ia mengejar seni dengan idealisme begitu tinggi.

Namun, Minoru harus menjalani hidup yang tidak mudah. Salah satunya karena penolakan dan pandangan sinis lingkungan sekitarnya terhadap kecintaan Minoru pada seni, termasuk oleh suaminya sendiri, Yoshio. Yoshio merasa sang istri sudah menyalahi kodratnya sebagai perempuan untuk menjadi istri yang penurut dan ibu yang hanya boleh mengurusi rumah tangga.

Minoru harus berjuang menjalani kehidupannya sebagai seorang seniman di tengah kondisi tersebut. Jatuh bangun ia lalui untuk bisa tetap bertahan hidup dengan cara yang dikehendakinya meski berbagai penolakan didapatkan.

Di tengah situasi patriarkis pada masa itu, Minoru terus mempertahankan idealismenya. Ia juga terus menelurkan karya meski minim apresiasi dari lingkungannya dan dunia seni yang didominasi laki-laki.

Gincu Sang Mumi' karya Tamura Toshiko tidak hanya menjadi sebuah karya semi autobiografi pengarangnya. Buku ini juga merekam kondisi sosial yang menampilkan keresahan dan pergulatan perempuan pada lingkungan seni dan sastra Jepang pada 1918-an. Begitu juga kedudukan perempuan di antara norma-norma patriarki pada saat itu.

Karya Toshiko ini menggambarkan bagaimana seni yang merupakan gairah pribadi seorang perempuan menjadi sesuatu yang asing ketika ditempatkan di dunia yang serba mengutamakan uang dan serba lelaki.

Dalam sebuah diskusi virtual, Sabtu (9/4), peneliti kajian gender, sastra, dan budaya populer Jepang dan Indonesia, Universitas Indonesia, Rouli Esther Pasaribu, mengatakan, membicarakan Tamura Toshiko tidak dapat kita lepaskan dari dinamika masyarakat pada masa ia hidup dan menuliskan karya-karyanya, yakni zaman Meiji akhir-Taisho-Showa sebelum perang. Zaman Meiji akhir sampai Taisho awal adalah masa berkembangnya ryoosai kenbo. Ryoosai kenbo merupakan sebutan untuk istri yang baik dan ibu bijaksana yang menjadi norma perempuan ideal Jepang.

Di sisi lain, mulai 1910-an, wacana atarashii onna atau perempuan baru mulai menjadi perbincangan dan dipopulerkan oleh berbagai media Jepang. Atarashii onna mengacu pada perempuan yang memilih hidup dengan caranya sendiri dan menolak diikat oleh norma ryoosai kenbo. Toshiko merupakan sosok perempuan yang dikenal menjalankan norma atarashii onna.

“Pada saat itu ia menerima banyak kritikan, tapi juga tidak sedikit perempuan di Jepang yang melihatnya sebagai sosok penting yang menjadi terobosan baru bagi perempuan di Jepang pada saat itu,” ujar Rouli.

Karya-karya awal Tamura Toshiko, termasuk Gincu Sang Mumi yang diterbitkan penerbit Mai, mengangkat isu perempuan di dunia seni. Sebuah ruang yang merefleksikan posisi sosial dan kekuasaan di strata masyarakat Jepang pada era tersebut.

Praktik kekuasaan di dalam dunia seni juga terlihat pada dunia sastra di Jepang. Pada masa itu pengarang perempuan dikelompokkan dalam satu kelompok tersendiri yang disebut joryuu sakka. Karya-karya perempuan dinilai dari perspektif laki-laki yang berperan sebagai kritikus sastra bagi karya-karya yang dihasilkan perempuan. Hal itu menunjukkan bahwa dalam dunia sastra, otoritas dipegang oleh laki-laki.

“Tamura Toshiko mempertanyakan seberapa jauh otoritas laki-laki dalam proses kreatif pengarang perempuan, mengungkap berbagai kendala yang dihadapi perempuan ketika ia mencoba bertahan di dunia sastra, mengkritisi perspektif laki-laki dalam menilai pengarang perempuan,” ujarnya.

Penerjemah Gincu Sang Mumi, Asri Pratiwi, mengatakan buku ini memiliki peran penting sebagai rekaman perjalanan hidup perempuan di Jepang sejak sekitar satu abad yang lalu. Karya Toshiko dapat menjadi pembanding akan ekosistem seni yang ada saat itu dengan saat ini.

Sayangnya, karya-karya Toshiko dikatakan Asri, tidak begitu banyak diperbincangkan. Tak hanya di luar negeri, tetapi juga di Jepang sendiri.

“Karyanya jarang dibahas dan sulit ditemukan dalam bahasa Inggris. Karyanya terbilang langka dan tidak dicetak ulang. Karya-karya Toshiko juga sudah tak lagi banyak diperbincangkan, khususnya setelah ia tiada,” ujar Asri.

Karena itu, kehadiran Gincu Sang Mumi dianggap penting untuk melestarikan suara Toshiko yang memperjuangkan kesetaraan gender dan kemajuan perempuan sejak lebih dari seabad yang lalu. Karyanya bermakna penting bagi perjuangan kaum perempuan, tak hanya bagi perempuan Jepang, tapi juga perempuan secara universal.

Meski ditulis sejak lebih dari 100 tahun yang lalu, karya-karya Toshiko masih sangat relevan untuk menjadi acuan dan merefleksikan kehidupan perempuan hingga saat ini. Kehadiran Gincu Sang Mumi juga dapat menjadi referensi baru yang tak kalah menarik dan penting bagi para pencinta sastra.

Bagi pencinta karya sastra Jepang, buku ini dapat menjadi koleksi baru karya penulis Jepang klasik yang sebenarnya tak itu-itu saja. Bukan hanya lelaki populer seperti Natsume Soseki atau Yasunari Kawabata, Jepang juga memiliki perempuan penulis dengan karya penting yang tak kalah legendaris dan layak masuk daftar buku yang harus dibaca. (Pro/M-2)

 

Judul : Gincu Sang Mumi

Penulis : Tamura Toshiko

Penerbit : Penerbit Mei

Tahun : April 2022

ISBN : 978-623-7351-93-1

Baca Juga

Dok. ZYNGA

Tiktok Uji Coba Fitur Bermain Gim

👤M-2 🕔Sabtu 21 Mei 2022, 07:20 WIB
TIKTOK tengah menguji coba fitur terbaru mereka terkait dengan...
AFP/GETTY IMAGES NORTH AMERICA/JUSTIN SULLIVAN

Perjalanan Dua Dekade Ipod

👤Putri Rosmalia 🕔Sabtu 21 Mei 2022, 07:15 WIB
Gawai ini menjadi terobosan untuk alat pemutar musik dengan ruang penyimpanan besar serta baterai yang tahan lama pada era...
Charly TRIBALLEAU / AFP

Taiko, Tradisi Gendang Jepang yang masih Bergema di Era Kiwari

👤Adiyanto 🕔Jumat 20 Mei 2022, 10:32 WIB
Kunci dari evolusi itu adalah seorag drummer jazz Daihachi Oguchi, yang memindahkan festival taiko ke panggung pertunjukan pada 1950-an dan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya