Headline

Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.

Trump Mengemis Bantuan Negara Lain Amankan Selat Hormuz, Jepang tak Mau Gegabah

Haufan Hasyim Salenge
15/3/2026 14:51
Trump Mengemis Bantuan Negara Lain Amankan Selat Hormuz, Jepang tak Mau Gegabah
Sebuah kapal angkatan laut terlihat berlayar di Selat Hormuz, jalur perairan penting yang dilalui sebagian besar minyak dan gas dunia pada 1 Maret 2026.(AFP/Sahar Al Attar)

PEMERINTAH Jepang menyatakan sikap kehati-hatian tingkat tinggi terkait permintaan Amerika Serikat (AS) untuk mengirimkan kapal perang guna mengamankan jalur pengiriman minyak di Timur Tengah. Langkah ini diambil di tengah penutupan Selat Hormuz yang memicu lonjakan harga minyak dunia setelah pecahnya perang antara AS-Israel melawan Iran.

Kepala kebijakan Partai Demokrat Liberal (LDP) yang berkuasa, Takayuki Kobayashi, menegaskan bahwa batasan untuk mengirim Pasukan Bela Diri (SDF) ke wilayah konflik tersebut tetap "sangat tinggi" berdasarkan hukum yang berlaku di Jepang. Meskipun secara legal peluang tersebut tidak tertutup sepenuhnya, situasi konflik yang terus berlangsung menuntut pertimbangan yang sangat cermat.

"Secara hukum kami tidak mengesampingkan kemungkinan tersebut, namun mengingat situasi konflik saat ini, ini adalah sesuatu yang harus dipertimbangkan dengan sangat hati-hati," ujar Kobayashi dalam debat politik di stasiun televisi nasional NHK, Minggu (15/3).

Jepang merupakan importir minyak terbesar kelima di dunia, di mana 95% pasokannya berasal dari Timur Tengah. Sekitar 70 persen dari jumlah tersebut biasanya melewati Selat Hormuz, yang kini praktis tertutup akibat eskalasi militer. Kondisi ini menempatkan ekonomi terbesar keempat dunia tersebut dalam posisi dilematis antara kebutuhan energi dan konstitusi pasifis 1947 yang membatasi keterlibatan militer di luar negeri.

Perdana Menteri Sanae Takaichi dijadwalkan akan mengunjungi Washington pekan ini untuk bertemu dengan Presiden Donald Trump. Pertemuan tersebut diharapkan dapat memperjelas niat AS terkait seruan bala bantuan pengawalan kapal tanker, sekaligus membahas potensi kekosongan keamanan di Asia Timur akibat pergeseran pasukan AS dari pangkalan di Jepang dan Korea Selatan menuju Teluk.

Hingga saat ini, Takaichi menegaskan bahwa "belum ada yang diputuskan" terkait pengiriman kapal perang tersebut, sembari terus memantau dinamika keamanan global yang kian tidak menentu. (CNA/B-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Haufan Salengke
Berita Lainnya