Headline
Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.
Kumpulan Berita DPR RI
KEPALA Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol berupaya meredam kekhawatiran akan terjadinya krisis minyak global di tengah berkecamuknya konflik di Timur Tengah imbas penutupan Selat Hormuz.
Ia menegaskan bahwa saat ini "terdapat banyak minyak di pasar" meskipun ketegangan terus meningkat.
Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, yang disertai serangan balasan Teheran di kawasan Teluk, telah memicu lonjakan harga minyak mentah.
Kondisi itu menimbulkan kekhawatiran akan adanya lonjakan inflasi baru yang dapat memukul perekonomian global secara signifikan.
Birol mengakui bahwa gangguan logistik akibat perang tersebut menciptakan tantangan bagi banyak negara. Namun, ia meyakinkan bahwa ketersediaan minyak di pasar global masih lebih dari mencukupi.
Terkait kemungkinan IEA melepaskan cadangan darurat, Birol menyatakan bahwa semua opsi ada di atas meja. Kendati demikian, ia menekankan bahwa pada tahap ini belum ada rencana untuk melakukan aksi kolektif mengenai hal tersebut.
"Ada banyak minyak, kita tidak mengalami kekurangan minyak. Ada surplus besar di pasar," ujar Birol dikutip dari AFP.
Ia menambahkan bahwa situasi saat ini lebih merupakan hambatan teknis pengiriman. "Kami sedang menghadapi gangguan sementara, sebuah gangguan logistik," tambahnya.
Meskipun Iran belum secara resmi menutup Selat Hormuz, jalur krusial bagi seperlima pasokan minyak mentah dunia dan sejumlah besar gas, aktivitas pelayaran di jalur air tersebut dilaporkan hampir terhenti total.
Awal pekan ini, Presiden AS Donald Trump telah berjanji untuk melindungi kapal-kapal yang melintas, namun harga minyak tetap bertahan di level tinggi. Harga minyak mentah tercatat telah melonjak sekitar seperlima sejak 27 Februari, sehari sebelum serangan dimulai.
IEA dibentuk untuk mengoordinasikan respons terhadap gangguan pasokan besar setelah krisis minyak tahun 1973. Melalui pernyataan ini, Birol berharap pasar tetap tenang menghadapi volatilitas harga yang terjadi belakangan ini. (H-4)
DPR menyatakan dukungannya terhadap langkah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam melakukan mitigasi terhadap potensi gangguan pasokan minyak.
Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah berencana meningkatkan kapasitas penyimpanan bahan bakar minyak (BBM) nasional dari sekitar 25-26 hari menjadi 90 hari atau setara tiga bulan.
Ketua Umum Apindo Shinta Widjaja Kamdani menyebut risiko serangan AS ke Iran tidak hanya berasal dari sentimen pasar tetapi juga dari potensi gangguan jalur energi dan perdagangan global.
PRAKTISI minyak dan gas (migas) Hadi Ismoyo menilai konflik AS-Venezuela tidak akan mengubah jalur perdagangan minyak dunia maupun mendorong kenaikan harga minyak global.
Analisis invasi AS ke Venezuela: Trump tangkap Maduro demi kendali minyak dan wilayah strategis. Kebangkitan Doktrin Monroe picu ketegangan global dan protes domestik.
Ketegangan AS-Kuba memuncak. Presiden Miguel Díaz-Canel menolak keras tuntutan Donald Trump untuk bernegosiasi dan menegaskan kedaulatan Kuba.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved