Headline

Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.

Pasokan Minyak Dunia Melimpah di Tengah Eskalasi Konflik Timur Tengah

Khoerun Nadif Rahmat
06/3/2026 18:18
Pasokan Minyak Dunia Melimpah di Tengah Eskalasi Konflik Timur Tengah
Kapal di Selat Hormuz(AFP)

KEPALA Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol berupaya meredam kekhawatiran akan terjadinya krisis minyak global di tengah berkecamuknya konflik di Timur Tengah imbas penutupan Selat Hormuz.

Ia menegaskan bahwa saat ini "terdapat banyak minyak di pasar" meskipun ketegangan terus meningkat.

Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, yang disertai serangan balasan Teheran di kawasan Teluk, telah memicu lonjakan harga minyak mentah.

Kondisi itu menimbulkan kekhawatiran akan adanya lonjakan inflasi baru yang dapat memukul perekonomian global secara signifikan.

Birol mengakui bahwa gangguan logistik akibat perang tersebut menciptakan tantangan bagi banyak negara. Namun, ia meyakinkan bahwa ketersediaan minyak di pasar global masih lebih dari mencukupi.

Terkait kemungkinan IEA melepaskan cadangan darurat, Birol menyatakan bahwa semua opsi ada di atas meja. Kendati demikian, ia menekankan bahwa pada tahap ini belum ada rencana untuk melakukan aksi kolektif mengenai hal tersebut.

"Ada banyak minyak, kita tidak mengalami kekurangan minyak. Ada surplus besar di pasar," ujar Birol dikutip dari AFP.

Ia menambahkan bahwa situasi saat ini lebih merupakan hambatan teknis pengiriman. "Kami sedang menghadapi gangguan sementara, sebuah gangguan logistik," tambahnya.

Meskipun Iran belum secara resmi menutup Selat Hormuz, jalur krusial bagi seperlima pasokan minyak mentah dunia dan sejumlah besar gas, aktivitas pelayaran di jalur air tersebut dilaporkan hampir terhenti total.

Awal pekan ini, Presiden AS Donald Trump telah berjanji untuk melindungi kapal-kapal yang melintas, namun harga minyak tetap bertahan di level tinggi. Harga minyak mentah tercatat telah melonjak sekitar seperlima sejak 27 Februari, sehari sebelum serangan dimulai.

IEA dibentuk untuk mengoordinasikan respons terhadap gangguan pasokan besar setelah krisis minyak tahun 1973. Melalui pernyataan ini, Birol berharap pasar tetap tenang menghadapi volatilitas harga yang terjadi belakangan ini. (H-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya