Headline

Serangan terhadap pasukan perdamaian melanggar hukum internasional.

Indonesia dan Asia Diperkirakan Paling Terdampak Krisis Energi Akibat Perang Iran

Haufan Hasyim Salengke
31/3/2026 20:08
Indonesia dan Asia Diperkirakan Paling Terdampak Krisis Energi Akibat Perang Iran
Harga bahan bakar terbaru ditampilkan di pompa bensin PTT di Provinsi Pathum Thani, Tailan, Selasa (31/3), setelah kenaikan sebesar 1,80 baht per liter untuk solar dan 1,00 baht untuk bensin pada pukul. 5 pagi di hari yang sama.(Pattarapong Chatpatt/Bangkok Post)

ASIA dinilai akan menanggung dampak paling besar dari krisis energi yang dipicu perang Amerika Serikat-Israel terhadap Iran, menyusul gangguan distribusi energi global dan penutupan jalur strategis pengiriman minyak.

Presiden firma analitik maritim global, Kpler, Jean Maynier, mengatakan kawasan Asia menghadapi risiko kekurangan pasokan energi karena ketergantungan tinggi pada impor.

“Kami pikir Asia untuk saat ini akan menjadi pihak yang paling menderita,” ujar Maynier dalam wawancara dengan AFP di Singapura, Selasa (31/3). Ia menilai sejumlah negara di Asia tidak memiliki sumber daya energi domestik yang cukup untuk menutup kekurangan pasokan.

Menurut dia, negara-negara besar seperti Tiongkok, Filipina, dan Indonesia berpotensi mengalami tekanan serius apabila gangguan pasokan berlanjut. Maynier menyebut situasi tersebut sebagai “krisis energi yang nyata”.

Dampak penutupan Selat Hormuz oleh Iran disebut sudah terlihat di sejumlah negara, termasuk Filipina yang telah menetapkan status darurat energi nasional.

Kpler, perusahaan berbasis di Brussel yang didirikan pada 2014 dan dikenal sebagai salah satu lembaga pelacakan kapal dan data komoditas terkemuka dunia, memantau ketat pergerakan kapal di Selat Hormuz sejak serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu.

Data Kpler menunjukkan 17 kapal pengangkut komoditas melintasi Selat Hormuz pada akhir pekan, termasuk 12 kapal pada Sabtu, menjadikannya salah satu hari tersibuk sejak 1 Maret. Namun, secara keseluruhan lalu lintas kapal tercatat menurun tajam.

Hingga pukul 17.00 GMT pada Senin atau 00.00 WIB, hanya 196 kapal komoditas yang melintasi jalur tersebut sepanjang bulan ini. Dari jumlah itu, 120 di antaranya merupakan kapal tanker minyak dan pengangkut gas, dengan mayoritas bergerak ke arah timur keluar dari selat.

Maynier menyatakan pihaknya berharap para pemimpin politik dapat segera menemukan solusi guna mencegah krisis energi yang lebih luas. (Manila Times/B-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Haufan Salengke
Berita Lainnya