Headline

Pesan Presiden ialah efisiensi dimulai dari level atas.

Menkeu Jamin APBN Kuat Tahan Harga BBM Meski Minyak Dunia Tembus US$100

 Gana Buana
17/3/2026 20:53
Menkeu Jamin APBN Kuat Tahan Harga BBM Meski Minyak Dunia Tembus US$100
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa tegaskan harga BBM tak akan naik hingga akhir 2026.(MI/Ihfa Firdausya)

MENTERI Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pemerintah masih memiliki amunisi fiskal yang kuat untuk menjaga harga Bahan Bakar Minyak (BBM) tidak naik hingga akhir tahun 2026. Jaminan ini muncul di tengah kekhawatiran global menyusul lonjakan harga minyak mentah dunia yang telah menembus angka US$100 per barel.

Purbaya menyatakan, hingga saat ini pemerintah sama sekali belum memiliki rencana atau hitungan untuk menyesuaikan harga BBM. Ia meyakinkan bahwa kondisi kas negara dalam posisi yang aman untuk menanggung beban subsidi pada level harga saat ini.

“Sampai sekarang belum ada hitungan untuk menaikkan harga BBM karena kita punya uang masih cukup untuk level harga BBM yang sekarang,” ujar Purbaya diansir dari Antara, Selasa (17/3).

APBN Sebagai Shock Absorber

Mantan Ketua Dewan Komisioner LPS ini menjelaskan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) harus menjalankan fungsinya sebagai peredam guncangan (shock absorber). Hal ini krusial untuk melindungi daya beli masyarakat dari dampak konflik geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu rantai pasok energi.

“Fungsi anggaran meng-absorb shock dari luar. Sampai sekarang yang absorb adalah APBN pemerintah,” imbuhnya.

Purbaya juga melontarkan pernyataan berani terkait ketahanan fiskal Indonesia. Ia menyebut, selama Presiden menghendaki, harga BBM bisa dipertahankan hingga Desember 2026. Ia bahkan menyentil pihak-pihak yang meragukan kemampuan keuangan negara.

“Kalau segini saja mah, kalau Presiden mau sih sampai akhir tahun juga bisa. Jadi saya punya uang cukup banyak yang masih bisa dipakai. Yang pengamat-pengamat itu, nggak tahu uangnya di mana,” tegas Menkeu.

Pertamina Pantau Harga Minyak Dunia

Meski pemerintah optimis, PT Pertamina (Persero) melaporkan situasi di pasar internasional sedang tidak menentu. Harga minyak dunia telah melonjak melampaui US$100 per barel akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang kian memanas.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, mengungkapkan bahwa kenaikan tersebut dipicu oleh gangguan pasokan dan distribusi energi global. Saat ini, Pertamina fokus melakukan pemantauan ketat terhadap dinamika pasar.

“Pertamina terus memonitor dinamika harga minyak dunia yang saat ini berada di kisaran 100 dolar AS per barel,” kata Baron. Ia menambahkan bahwa pihak otoritas energi nasional terus menjalin komunikasi intensif dengan pemerintah untuk menentukan langkah strategis dalam merespons lonjakan harga tersebut. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya