Headline
Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.
Kumpulan Berita DPR RI
Sebuah studi yang baru-baru ini diterbitkan oleh para akademisi di University College London menemukan bahwa duduk di meja yang menghadap ke ruangan dengan sejumlah kecil orang terlihat "menghasilkan peluang yang jauh lebih tinggi untu fokus dan produktivitas yang dirasakan."
Namun, kursi yang menghadap terlalu banyak orang "membuat lingkungan kurang mungkin untuk dianggap mendukung identitas tim, berbagi informasi, bertemu orang lain dengan cara yang terencana, berkonsentrasi pada tugas dan bekerja secara produktif".
Studi tersebut menyurvei 172 pekerja di kantor pusat perusahaan teknologi global di London, dan dilakukan sebelum pandemi. Kerstin Sailer, salah satu penulis studi tersebut, mengatakan kepada CNBC melalui video call bahwa secara psikologis jika seorang pekerja melihat banyak rekan kerja duduk di meja di depan mereka, mereka “tidak ingin mengganggu mereka, jadi ada rasa solidaritas di tempat kerja." Ada juga gangguan visual dan kebisingan yang lebih besar jika posisi meja kerja menghadap orang ramai.
Studi tersebut juga menunjukkan bahwa menjauh dari ruangan justru mengganggu pekerja, karena menghambat kemampuan mereka untuk berkomunikasi dengan orang lain.
Sailer mengatakan ini terkait dengan naluri dasar manusia untuk merasakan kebutuhan memiliki "punggung yang terlindungi."
"Secara psikologis itu terkait dengan perasaan kontrol, perasaan bahwa saya dapat mengontrol ruangan secara visual, daripada ada banyak kejutan di belakang saya,” ujarnya.
Studi kecil juga menunjukkan bahwa kursi dekat jendela lebih disukai dalam hal memungkinkan pekerja memiliki fokus yang lebih besar, jika dibandingkan dengan kursi di dekat dinding. Sekali lagi, Sailer mengatakan ini kemungkinan terkait dengan preferensi manusia yang berurat berakar untuk memiliki paparan lebih banyak siang hari.
Sebuah penelitian di A.S. tahun lalu menemukan bahwa pekerja kantoran yang terpapar cahaya matahari tidur 37 menit lebih banyak di malam hari dan juga lebih baik dalam membuat keputusan.
'Posisi kekuasaan' Linda Chu, pendiri konsultan solusi pengorganisasian profesional Out of Chaos, mengatakan kepada CNBC melalui video call bahwa ada prinsip yang terkait dengan Feng Shui tentang manfaat berada dalam "posisi kuat".
“Anda merasa lebih berkuasa ketika Anda memiliki dukungan yang kuat, jadi dengan tembok di belakang Anda misalnya, yang merupakan sinyal kekuatan, tetapi yang sebenarnya berarti secara intuitif adalah bahwa tidak ada orang di belakang Anda yang dapat datang dan menyelinap ke arah Anda tanpa menyadarinya," Chu menjelaskan.
Serupa dengan itu, Lily Bernheimer, direktur pendiri di konsultan psikologi lingkungan Space Works Consulting, menyarankan agar orang-orang duduk di tempat yang dia sebut "kursi antininja" jika memungkinkan.
Dia menjelaskan bahwa kursi anti ninja adalah kursi dengan punggung menghadap ke dinding, "memberikan rasa perlindungan dan keamanan."
Bernheimer juga mengatakan pekerja harus berusaha untuk mencoba memposisikan diri mereka dengan "tampilan jendela yang baik di luar ruangan, karena ini dapat meningkatkan fungsi mental hingga 25%." (cnbc.com/M-2)
Mengapa emosi bisa berujung kekerasan? Psikolog UGM & UI jelaskan peran Amigdala vs Prefrontal Cortex serta cara mencegah perilaku impulsif.
Jangan keliru! Pahami perbedaan antara emophilia (mudah jatuh cinta) dan love bombing (taktik manipulasi) agar terhindar dari hubungan toksik.
Posisi di tengah membuat seorang anak merasa perlu melakukan upaya ekstra untuk mendapatkan perhatian orangtua yang sering kali terbagi.
Remaja lebih mudah tergoda melakukan hal-hal yang menyenangkan atau sedang tren karena sistem limbik mereka lebih dominan
Ada mekanisme psikologis dan neurologis yang sangat kompleks yang membuat manusia modern begitu terobsesi dengan urusan privasi orang lain, seperti netizen yang terobsesi dengan artis.
PEMAHAMAN mendalam mengenai tahapan perkembangan psikologi anak bukan sekadar wawasan tambahan, melainkan fondasi utama dalam pola asuh modern di tahun 2026.
Selama berpuasa, tubuh tidak menerima asupan makanan dan minuman dalam waktu yang cukup lama. Hal ini bisa menyebabkan bau mulut.
Sekitar 19 persen orang mengalami kenaikan berat badan saat Ramadan akibat pola makan berlebih saat berbuka.
Secara medis, perut kembung disebabkan oleh penumpukan gas di saluran pencernaan.
Di tengah antusiasme menjalankan ibadah puasa, masyarakat diingatkan untuk tetap memperhatikan pola makan, khususnya dalam mengonsumsi asupan manis saat berbuka.
Kebiasaan menyimpan makanan sisa yang sudah matang sempurna untuk kemudian dipanaskan kembali adalah praktik yang kurang baik bagi kesehatan dan kualitas nutrisi.
Masyarakat diingatkan untuk memperhatikan asupan mikronutrien guna menjaga daya tahan tubuh, terutama karena Ramadan tahun ini diprediksi bertepatan dengan musim hujan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved