Headline
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
KINI dokter bisa menyarankan seseorang menjaga asupan makanan mereka guna menghindari penyakit jantung di masa depan. Saran tersebut bukan basa-basi, tapi berdasarkan tes darah yang khusus memprediksi kesehatan seseorang 40 tahun ke depan.
Penelitian dari Sloan Kettering Cancer Center mengungkapkan sendimen dalam darah kita menjadi tanda peradangan yang berpotensi penyakit jantung 40 tahun kemudian. Mereka yang memiliki sendimen tebal saat muda berisiko tiga kali lebih tinggi menderita penyakit jantung dibandingkan tidak.
Tes itu mengukur berapa cepat sel darah merah atau eritrosit, berada di bawah tabung reaksi. Tingkat yang lebih cepat dari normal menunjukkan peradangan.
Penelitian ini dilakukan kepada 106.120 militer Swedia pada periode 1952 dan 1956 (kala itu berusia 18-20 tahun). Mereka terus diawasi dan diperiksa hingga 1 Januari 2010. Mereka menemukan angka kematian meningkat 36% di antara mereka yang memiliki laju endapan darah (LED) tinggi. Ditemukan kematian dari kanker dan jantung yang masing-masing meningkat 78%-54%.
"Hasil menunjukkan perlunya pemahaman peran peradangan pada kehidupan dini sub klinis dalam kaitannya dengan hasil kesehatan di kemudian hari," ujar ahli epidemiologi di Memorial Sloan Kettering Cancer Center, New York, Dr Elizabeth Kantor sebagaimana disitat Daily Mail.
"Peradangan terlibat dalam berbagai penyakit, termasuk kanker dan penyakit kardiovaskular (CVD). Meskipun meningkat dalam peran paparan masa kanak-kanak dan remaja dalam penyakit kehidupan kemudian, sedikit yang diketahui tentang implikasi jangka panjang dari peradangan dini."
Kadar LED rendah ber ada di bawah 10 milimeter per jam, sedang (10 hingga 15 mm / jam), dan tinggi (lebih dari 15 mm / jam).
"Ambang batas dari LED sedang ke tinggi sesuai dengan cutoff klinis untuk LED normal di antara remaja dan pria dalam kelompok usia ini," ujar Kantor.
Selama penelitian ditemukan 4.835 kematian, termasuk 1.105 akibat dan 874 CVD. Selain itu juga ada 280 kematian akibat alkohol dan narkotika, 1.502 karena bunuh diri dan kecelakaan.
Mekanisme penyebab pasti peradangan masih belum jelas, namun peradangan telah dikaitkan dalam kanker dan pengerasna pembuluh darah alias aterosklerosis. (M-3)
Penyumbatan jantung atau Penyakit Jantung Koroner (PJK) terjadi akibat penumpukan plak (lemak, kolesterol, dan kalsium) pada arteri koroner.
Meskipun populer dan estetik, bubble tea menyimpan risiko kesehatan serius seperti paparan timbal, gangguan pencernaan, hingga masalah kesehatan mental. Simak faktanya!
Kabar baik! MK putuskan penyakit kronis kini bisa masuk kategori disabilitas. Simak syarat asesmen medis dan prinsip pilihan sukarela dalam Putusan MK No. 130/2025.
Minyak sawit sering dianggap berbahaya. Simak fakta ilmiah tentang komposisi lemak, risiko kanker, obesitas, dan kesehatan jantung yang jarang diketahui publik.
Tidur cukup bukan sekadar istirahat. Ini 7 manfaat tidur berkualitas bagi kesehatan tubuh dan mental.
Dirjen Kesehatan Lanjutan Kemenkes Azhar Jaya menyebut Indonesia kekurangan 92 ribu dokter dan meluncurkan program pendidikan spesialis hospital based.
Batuk pada kasus PJB memiliki mekanisme yang berbeda dengan batuk akibat virus atau bakteri pada umumnya.
Dengan dukungan sensor pemantau aliran darah dan denyut jantung, jam tangan pintar dapat merekam aktivitas jantung secara berkelanjutan selama digunakan oleh pemiliknya.
Serangan jantung umumnya disebabkan oleh masalah mekanik pada pembuluh darah, sementara kematian jantung mendadak lebih berkaitan dengan sistem kelistrikan organ tersebut.
Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan penyakit jantung adalah keterlambatan diagnosis.
Kebocoran aliran darah pada jantung dapat memicu tekanan tinggi pada paru yang berujung pada kondisi fatal yang disebut Sindrom Eisenmenger.
Berbagai penyakit tidak menular seperti jantung, stroke, kanker, hingga gagal ginjal kini semakin banyak ditemukan pada kelompok usia produktif.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved