Headline
Prabowo kembali gelar rapat terbatas bahas dampak perang di wilayah Timur Tengah.
Prabowo kembali gelar rapat terbatas bahas dampak perang di wilayah Timur Tengah.
Kumpulan Berita DPR RI
Planet Merkurius telah lama menjadi "tanda tanya" bagi para astronom karena keberadaannya yang dianggap menentang teori pembentukan planet. Berdasarkan laporan BBC Future dan The News, para ilmuwan menyebut Merkurius sebagai anomali kosmik yang "seharusnya tidak ada" di posisinya saat ini.
Hal ini disebabkan oleh komposisi planet yang sangat tidak biasa dan lokasinya yang terlalu dekat dengan Matahari. Bintang raksasa itu secara teori dianggap terlalu ekstrem bagi planet sekecil itu untuk terbentuk.
Nicola Tosi, seorang ilmuwan planet dari Pusat Kedirgantaraan Jerman (DLR), menyatakan bahwa pembentukan Merkurius adalah "masalah besar" dalam sains planet. Mengutip The News, para astronom bingung bagaimana planet sekecil itu bisa memiliki inti besi raksasa yang mencakup sekitar 85% dari total radiusnya.
Sebagai perbandingan, inti Bumi hanya mencakup sebagian kecil dari volumenya. Sementara Merkurius, hanya sebuah bola besi raksasa yang dibungkus oleh lapisan batuan tipis.
Mengutip BBC Future Prnyataan Sean Raymond, pakar dinamika planet dari Universitas Bordeaux, menunjukkan bahwa kemungkinan ada metode pembentukan yang belum dipahami sepenuhnya. Karakteristik itu memicu spekulasi bahwa Merkurius mungkin terbentuk di tempat lain di Tata Surya sebelum akhirnya berpindah ke posisinya yang sekarang. Planet ini bisa juga merupakan sisa-sisa dari tabrakan besar purba yang menghancurkan lapisan batuan luarnya.
Mengacu pada data resmi NASA Science, Merkurius merupakan planet terkecil di Tata Surya ini tidak memiliki atmosfer, hanya sebuah lapisan atmosfer tipis yang terdiri dari oksigen, natrium, hidrogen, helium, dan kalium.
Tanpa atmosfer untuk menahan panas, suhu permukaannya berubah secara drastis: mencapai 430 derajat Celsius di siang hari dan anjlok hingga -180 derajat Celsius di malam hari.
Planet ini adalah yang tercepat di Tata Surya, mengelilingi Matahari hanya dalam waktu 88 hari Bumi. Namun, rotasinya sangat lambat. Merkurius membutuhkan 59 hari Bumi untuk satu kali putaran pada porosnya.
Uniknya, planet ini berputar tiga kali pada porosnya untuk setiap dua kali ia mengelilingi Matahari.Meskipun jaraknya paling dekat dengan Matahari, Merkurius bukanlah planet terpanas (gelar tersebut dipegang oleh Venus karena efek rumah kaca).
Sumber: BBC Future, The News International, NASA Science.
Eksperimen tersebut mendorong asteroid Dimorphos, yang merupakan bulan kecil, ke jalur yang lebih pendek dan lebih cepat mengelilingi saudaranya
James Webb Space Telescope (JWST) berhasil menangkap detail menakjubkan nebula PMR 1 yang menyerupai otak dalam tengkorak. Simak kecanggihan teknologinya.
Dalam misi ini, wahana antariksa Cygnus XL milik Northrop Grumman akan diangkut menggunakan roket Falcon 9 dari SpaceX melalui Space Launch Complex 40 di Cape Canaveral, Florida.
ILMUWAN dari Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA telah mengonfirmasi sebuah pencapaian luar biasa dalam pertahanan planet.
NASA memastikan asteroid 2024 YR4 tidak akan menghantam Bulan pada 2032 setelah pengamatan terbaru Teleskop James Webb. Simak detail lintasan amannya di sini.
Teleskop James Webb (JWST) menangkap detail menakjubkan galaksi spiral NGC 5134. Lihat bagaimana debu kosmik dan bintang muda membentuk siklus kehidupan di luar angkasa.
Temukan perbandingan usia Neptunus, Saturnus, dan Uranus. Benarkah raksasa gas terbentuk lebih dulu daripada raksasa es? Simak fakta astronomi terbaru.
Teleskop James Webb temukan jejak lubang hitam pelarian yang melesat 3.000 km/detik. Simak bagaimana fenomena kosmos ini mengubah pemahaman kita tentang galaksi.
Ilmuwan mengungkap asal-usul Titan Saturnus dari tabrakan bulan purba. Simak kaitan pembentukan Titan dengan usia cincin Saturnus dan misi Dragonfly 2026.
Teleskop SPHEREx milik NASA mendeteksi molekul organik seperti air dan karbon dioksida pada komet antarbintang 3I/ATLAS, membuka peluang riset asal-usul kehidupan.
Sempat diprediksi akan menghiasi langit malam tahun 2020, Komet C/2019 Y4 ATLAS justru hancur berkeping-keping. Kini, astronom menemukan bukti baru sisa fragmennya.
TELESKOP Luar Angkasa Hubble milik NASA kembali menghadirkan temuan penting dalam dunia astronomi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved