Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA ini ekor planet sering dikaitkan dengan benda langit tertentu. Namun, riset ilmiah menunjukkan bahwa bumi pun memiliki “ekor” sendiri yang terbentang jauh ke luar angkasa, tepatnya di sisi yang tidak menghadap matahari.
Panjang ekor tak kasatmata ini mencapai sedikitnya 2 juta kilometer. Berbeda dari ekor komet yang tersusun atas debu, ekor bumi terbentuk dari plasma—gas bermuatan listrik—yang terjebak dan diarahkan oleh medan magnet planet kita.
Fenomena serupa ternyata juga ditemukan pada Merkurius, meskipun karakteristiknya tidak sepenuhnya sama.
Sebelum menelusuri lebih jauh soal bumi, penting memahami bahwa Merkurius lebih dulu dikenal memiliki ekor bercahaya. Melansir dari situs IFL Science, planet terdekat dengan matahari itu memiliki atmosfer yang sangat tipis, namun mengandung unsur natrium dalam jumlah kecil.
Karena posisinya yang sangat dekat dengan matahari, tekanan radiasi mendorong atom natrium menjauh, menciptakan jejak cahaya panjang di belakang planet tersebut.
"Sinar matahari yang tersebar memberikan natrium pijaran oranye terang. Proses penyebaran ini juga memberikan dorongan pada atom natrium – 'tekanan radiasi' ini cukup kuat, selama bagian-bagian tahun Merkurius, untuk melucuti atmosfer dan memberikan Merkurius ekor bercahaya yang panjang," jelas National Aeronautics and Space Administration (NASA).
Dalam kondisi tertentu, seseorang yang berada di sisi gelap Merkurius dapat melihat cahaya oranye redup yang mengingatkan pada pantulan lampu kota di malam hari.
Berbeda dengan Merkurius, ekor bumi terbentuk karena medan magnet yang berasal dari pergerakan besi dan nikel cair di inti luar planet. Medan magnet ini menciptakan wilayah perlindungan yang dikenal sebagai magnetosfer.
NASA mengungkapkan wilayah yang dililit oleh medan magnet bumi, yang disebut magnetosfer, mendominasi perilaku partikel bermuatan listrik di ruang angkasa dekat bumi dan melindungi planet dari angin matahari.
Di dalam magnetosfer, plasma terperangkap dan bergerak mengikuti garis medan magnet. Ketika sebagian plasma terdorong menjauhi matahari, terbentuklah struktur ekor panjang yang disebut magnetotail.
Magnetotail ini muncul akibat interaksi langsung antara magnetosfer dan angin matahari—aliran partikel bermuatan yang terus-menerus dipancarkan matahari ke seluruh tata surya.
Bentuk magnetosfer bumi dapat dianalogikan seperti tetesan air yang jatuh di udara. Sisi yang menghadap matahari tertekan, sementara sisi belakang memanjang, membentuk ekor yang menjulur jauh ke belakang.
Walaupun magnetotail selalu ada, strukturnya tidak sepenuhnya stabil. Pada April 2023, sebuah lontaran massa koronal (coronal mass ejection/CME) yang sangat kuat menyebabkan ekor magnetik bumi terlepas sementara dan digantikan oleh fenomena yang dikenal sebagai “sayap Alfvén”.
Para peneliti memperkirakan bahwa angin matahari mampu menarik ekor magnetik bumi hingga mencapai jarak sekitar 1.000 kali radius Bumi. Dengan luas wilayah yang begitu ekstrem—setidaknya membentang sejauh 2 juta kilometer—banyak aspek magnetotail masih belum sepenuhnya dipahami.Badan Antariksa Eropa menegaskan bahwa penelitian masih terus berlanjut. "Meskipun ekor bumi telah dieksplorasi oleh banyak wahana antariksa selama beberapa dekade terakhir, banyak misteri yang masih tersisa," jelasnya. (Nas/M-3)
Apakah Bumi punya ekor seperti Merkurius? Jawabannya ya! Ekor Bumi atau 'magnetotail' membentang 2 juta km, terbentuk dari plasma dan angin matahari. Simak penjelasan lengkap NASA dan ESA.
Apakah Bumi punya ekor seperti Merkurius? Jawabannya ya! Ekor Bumi atau 'magnetotail' membentang 2 juta km, terbentuk dari plasma dan angin matahari. Simak penjelasan lengkap NASA dan ESA.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved