Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA puluhan tahun, buku pelajaran dan pengetahuan populer membuat kita yakin bahwa Venus adalah planet terdekat dengan Bumi. Namun, sebuah penelitian ilmiah justru membongkar kesalahan besar tersebut. Faktanya, Merkurius-lah yang paling sering menjadi planet tetangga terdekat, bukan hanya bagi Bumi, tetapi hampir untuk seluruh planet di Tata Surya, bahkan Neptunus.
Penemuan ini berasal dari riset gabungan ilmuwan NASA, Los Alamos National Laboratory, dan US Army Engineer Research and Development Center. Menggunakan simulasi komputer selama 10.000 tahun, para peneliti menghitung jarak rata-rata antar delapan planet, bukan sekadar jarak terdekat sesaat.
Hasilnya mengejutkan: Merkurius lebih sering berada dekat dengan Bumi dibandingkan Venus atau Mars. Kesalahpahaman selama ini muncul karena cara lama menghitung jarak hanya berfokus pada momen tertentu ketika dua planet berada paling dekat. Padahal, dalam skala waktu panjang, posisi planet terus berubah.
Studi ini menggunakan pendekatan matematis bernama point-circle method (PCM), yang memperlakukan orbit planet sebagai lingkaran konsentris. Dari sini lahir konsep yang disebut “whirly-dirly corollary”: semakin kecil radius orbit sebuah planet, semakin kecil pula jarak rata-ratanya dengan planet lain.
Dengan radius orbit hanya 0,39 AU, Merkurius, planet terdalam dan tercepat, secara statistik “lebih sering lewat” dekat planet lain dibandingkan Venus (0,72 AU) atau Mars. Bahkan yang paling mencengangkan, Merkurius juga menjadi planet terdekat rata-rata bagi Neptunus, meskipun Neptunus berada di tepi Tata Surya.
Para peneliti menegaskan bahwa temuan ini tidak mengubah urutan planet atau jarak fisik sesungguhnya. Namun, penelitian ini menyoroti satu hal penting: cara kita mendefinisikan “planet terdekat” selama ini keliru secara matematis.
Artikel ini pertama kali terbit pada 2023 dan kembali viral setelah diperbarui pada Desember 2025. Banyak warganet terkejut mengetahui bahwa pemahaman mereka selama ini didasarkan pada asumsi sederhana, bukan perhitungan rata-rata jangka panjang.
Kesimpulannya jelas:
Selain memengaruhi medan magnet, struktur panas bawah tanah ini mungkin berdampak pada tata letak benua-benua di planet in
Fenomena Bulan yang disebut perlahan menjauh dari Bumi kembali ramai dibahas. Di media sosial, narasinya cepat melebar,
Adanya gaya pasang surut tersebut menyebabkan lautan bergelombang dan membentuk dua tonjolan, mengarah dan menjauhi Bulan.
Salah satu aspek paling penting dari penelitian ini adalah memastikan bahwa hidrogen yang ditemukan bukan hasil kontaminasi dari lingkungan Bumi.
Wahana Luar Angkasa yang Mendarat ke Bumi Berpotensi Rusak Lapisan Atmosfer? Begini Penjelasannya
Dari analisis terbaru, para peneliti melaporkan penemuan sebuah kandidat planet berbatu yang ukurannya sedikit lebih besar dari Bumi dan mengorbit sebuah bintang mirip Matahari.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved