Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
BULAN ternyata memiliki masa lalu yang jauh lebih kompleks daripada yang dibayangkan. Selama bertahun-tahun, ilmuwan mencoba menjawab pertanyaan sederhana tentang dari mana sebenarnya asal satelit alami ini? Namun, berdasarkan artikelnya yang diterbitkan pada Oktober 2022 lalu NASA mengungkap simulasi beresolusi tinggi yang memberi gambaran tentang bagaimana terbentuknya Bulan.
Sekitar 4,5 miliar tahun lalu, Bumi muda diduga keras dihantam sebuah protoplanet sebesar Mars yang dikenal sebagai Theia. Peristiwa tersebut melontarkan material dalam jumlah masif ke luar angkasa. Teori klasik menyebutkan bahwa serpihan-serpihan ini kemudian berkumpul sedikit demi sedikit hingga membentuk Bulan dalam waktu yang cukup panjang.
Namun, simulasi oleh NASA ini menunjukkan kemungkinan berbeda. Pembentukan Bulan mungkin tidak berlangsung lama, melainkan terjadi dalam satu proses cepat hanya beberapa jam setelah tumbukan.
Penelitian yang dipimpin oleh Jacob Kegerreis dari Pusat Penelitian Ames NASA menggunakan simulasi komputer paling detail yang pernah diterapkan untuk mempelajari asal-usul Bulan. Dengan resolusi yang jauh melampaui model sebelumnya, para peneliti menemukan bahwa pendekatan beresolusi rendah tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal.
Model baru ini memperlihatkan bahwa material dari Bumi dan Theia bisa langsung membentuk objek besar yang kemudian menetap di orbit, periode ini menciptakan embrio Bulan dengan waktu yang jauh lebih singkat dari yang diperkirakan sebelumnya.
Salah satu teka-teki besar dalam studi pembentukan Bulan adalah komposisinya. Analisis isotop batuan Bulan memperlihatkan bahwa materialnya sangat mirip dengan Bumi. Teori lama yang menyatakan bahwa Bulan terutama terbentuk dari material Theia sulit menjelaskan hal ini, kecuali jika Theia kebetulan memiliki komposisi yang hampir identik dengan Bumi.
Sementara itu, skenario pembentukan cepat justru memperlihatkan bahwa lebih banyak material dari Bumi dapat terangkat ke orbit dan menjadi bahan utama Bulan. Inilah penjelasan yang dianggap lebih masuk akal mengapa kedua benda langit tersebut tampak “seayah-seibu” secara geologi.
Studi ini menyoroti bahwa perjalanan Bumi dan Bulan tak bisa dipisahkan. Tabrakan raksasa yang melahirkan Bulan juga berperan dalam membentuk kondisi yang akhirnya memungkinkan Bumi menjadi planet layak huni. Penemuan baru tentang tumbukan kuno ini membuka pemahaman lebih luas tentang bagaimana planet-planet berkembang di seluruh penjuru tata surya.
Sumber: NASA.
Selain memengaruhi medan magnet, struktur panas bawah tanah ini mungkin berdampak pada tata letak benua-benua di planet in
Fenomena Bulan yang disebut perlahan menjauh dari Bumi kembali ramai dibahas. Di media sosial, narasinya cepat melebar,
Adanya gaya pasang surut tersebut menyebabkan lautan bergelombang dan membentuk dua tonjolan, mengarah dan menjauhi Bulan.
Salah satu aspek paling penting dari penelitian ini adalah memastikan bahwa hidrogen yang ditemukan bukan hasil kontaminasi dari lingkungan Bumi.
Wahana Luar Angkasa yang Mendarat ke Bumi Berpotensi Rusak Lapisan Atmosfer? Begini Penjelasannya
Dari analisis terbaru, para peneliti melaporkan penemuan sebuah kandidat planet berbatu yang ukurannya sedikit lebih besar dari Bumi dan mengorbit sebuah bintang mirip Matahari.
Ilmuwan berhasil menyempurnakan metode penentuan usia permukaan Bulan dengan menggabungkan data sampel Chang’e-6.
Adanya gaya pasang surut tersebut menyebabkan lautan bergelombang dan membentuk dua tonjolan, mengarah dan menjauhi Bulan.
Peneliti Tiongkok melalui misi Chang’e 6 mengungkap mengapa sisi jauh Bulan berbeda dengan sisi dekat. Temuan isotop kalium berikan bukti hantaman purba.
Kilatan cahaya singkat yang muncul di sisi gelap Bulan pada Desember 2025 bukan hanya peristiwa astronomi biasa.
Selama lebih dari satu dekade, Bulan terbesar milik planet Saturnus, Titan dikenal sebagai salah satu kandidat terkuat tempat adanya kehidupan di luar Bumi.
Sebagian partikel atmosfer Bumi ternyata “bocor” dan berpindah ke permukaan Bulan. Proses ini diduga telah berlangsung selama miliaran tahun.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved