Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
SEJAK komet antar bintang 3I/ATLAS ditemukan awal tahun ini, para ilmuwan, termasuk tim NASA, terpukau oleh kemunculannya yang langka. Komet ini merupakan objek antarbintang ketiga yang pernah tercatat memasuki tata surya.
Untuk mempelajarinya, NASA mengerahkan sejumlah instrumen luar angkasa. Rabu (19/11), badan antariksa itu merilis foto-foto terbaru dari 15 misi berbeda, termasuk Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST), Mars Reconnaissance Orbiter (MRO), rover Perseverance, dan wahana Lucy.
“Kami bahkan mendorong instrumen ilmiah melampaui kapabilitas normalnya agar dapat menangkap momen langka dari pengelana antarbintang ini,” kata Nicky Fox, Associate Administrator NASA, dalam konferensi pers.
NASA menegaskan bahwa 3I/ATLAS adalah komet, bukan pesawat alien seperti spekulasi yang marak di internet. “Bentuk dan perilakunya seperti komet, dan semua bukti mengarah pada kesimpulan tersebut. Tapi komet ini berasal dari luar tata surya, membuatnya sangat menarik dan penting secara ilmiah,” ujar Amit Kshatriya.
Data inframerah dari JWST dan teleskop SPHEREx mengungkap komposisi dasar komet. Shawn Domagal-Goldman, Direktur Sementara Divisi Astrofisika NASA, menjelaskan instrumen itu mendeteksi kelimpahan gas karbon dioksida serta es air pada inti komet. Temuan ini menunjukkan bahwa 3I/ATLAS melepaskan CO2 dan air seperti komet pada umumnya, namun dengan proporsi CO2 yang jauh lebih besar.
Foto paling dekat dirilis oleh MRO yang menangkap komet dari jarak 31 juta kilometer pada 2 Oktober. “3I/ATLAS terlihat seperti bola putih kabur,” kata Kshatriya. “Itu adalah koma, awan debu dan es yang lepas saat komet mendekati matahari.”
Beberapa wahana lain, termasuk Psyche, Lucy, MAVEN, dan observatorium SOHO, juga mengamati komet dari sudut berbeda. Menurut ilmuwan NASA Tom Statler, sudut pandang yang bervariasi sangat penting karena “komet ini datang dari arah berlawanan sehingga posisi Bumi tidak ideal untuk mengamatinya, sementara Mars dan wahana lain berada di sisi yang tepat.”
Komet 3I/ATLAS juga menunjukkan fenomena yang mengejutkan, seperti peningkatan kecerahan yang sangat cepat saat mendekati matahari pada 29 Oktober. Selain itu, pengamatan sebelumnya mendeteksi kemungkinan uap nikel dalam gas di sekitar komet, hal yang tidak lazim pada jarak jauh dari matahari. “Komet memang mengeluarkan nikel dan besi, tapi 3I/ATLAS memproduksi nikel lebih banyak dari besi. Ini luar biasa dan perlu diteliti lebih lanjut,” kata Statler.
Para ilmuwan masih mempelajari ukuran komet yang diperkirakan antara ratusan meter hingga beberapa kilometer. Debu tebal membuat bentuk objek sulit dilihat. Mereka juga berharap dapat melacak asalnya, meski tidak mudah karena pergerakan bintang di galaksi.
“Kami tidak bisa memastikannya, tapi kemungkinan besar komet ini berasal dari sistem bintang yang lebih tua dari tata surya kita, dan itu membuat saya merinding,” kata Statler. (Space/Z-2)
Analisis terbaru data Voyager 2 mengungkap mengapa sabuk radiasi Uranus sangat kuat. Ternyata, ada peristiwa cuaca antariksa langka saat misi berlangsung.
Ilmuwan temukan cara melacak jalur jatuh sampah antariksa menggunakan sensor seismik monitor gempa. Metode ini diklaim lebih akurat dibanding radar tradisional.
Peneliti berhasil mengidentifikasi struktur mirip terowongan vulkanik di bawah permukaan Venus melalui data radar NASA. Apakah planet ini masih aktif secara geologi?
Elon Musk mengumumkan SpaceX beralih fokus ke Bulan sebelum Mars. Targetkan kota mandiri dalam 10 tahun demi selamatkan peradaban manusia.
SEBUAH kerja sama ilmiah antara Korea Selatan dan Amerika Serikat berhasil mencatat terobosan penting di bidang astronomi melalui teleskop luar angkasa SPHEREx.
Ilmuwan berhasil menyempurnakan metode penentuan usia permukaan Bulan dengan menggabungkan data sampel Chang’e-6.
Objek yang diamati merupakan wilayah padat yang berisi puluhan galaksi yang saling terikat oleh gaya gravitasi. Selain itu, para peneliti juga menemukan keberadaan gas panas bersuhu jutaan
Nebula Helix, juga disebut "Mata Tuhan" atau "Mata Sauron," adalah salah satu nebula planetarium terdekat, paling berwarna, dan paling banyak dipelajari di luar angkasa.
Teleskop James Webb (JWST) temukan titik merah misterius di luar angkasa. Benarkah ini bukti kelahiran lubang hitam supermasif dari awan gas purba?
Materi gelap masih belum terungkap. Dari James Webb hingga teknologi kuantum, ilmuwan menempuh jalur baru untuk membongkar misteri kosmik.
Van Dokkum mengatakan ini adalah konfirmasi pertama dari lubang hitam supermasif yang tak terkendali, setelah lima dekade teori dan penelitian tentang objek-objek ini.
Ilmuwan NASA melalui teleskop James Webb menemukan eksoplanet PSR J2322-2650b yang berbentuk unik seperti lemon dan memiliki atmosfer langka berisi hujan berlian.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved