Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH pernyataan baru dari profesor Harvard kembali memicu perdebatan di kalangan ilmuwan. Abraham “Avi” Loeb, profesor sains sekaligus direktur Institute for Theory and Computation di Universitas Harvard, mengatakan komet antarbintang 3I/ATLAS mengalami percepatan “non-gravitasi” yang tidak biasa saat melintas di dekat Matahari. Menurutnya, hal ini bisa menjadi petunjuk objek tersebut bukan sekadar batuan angkasa biasa, melainkan berpotensi merupakan teknologi buatan.
Dalam tulisannya di platform Medium, Loeb menjelaskan komet berukuran sekitar seluas Manhattan itu tiba-tiba mempercepat laju orbitnya saat mencapai titik terdekat dengan Matahari. “3I/ATLAS menunjukkan bukti pertama dari percepatan non-gravitasi saat berada pada jarak perihelion sebesar 1,36 satuan astronomi, atau sekitar 203 juta kilometer dari Matahari,” tulis Loeb.
Ia memaparkan percepatan tersebut memiliki dua komponen di bidang orbit komet: “percepatan radial menjauh dari Matahari sebesar 135 kilometer (=9×10⁻⁷ au) per hari kuadrat, dan percepatan transversal relatif terhadap arah Matahari sebesar 60 kilometer (=4×10⁻⁷ au) per hari kuadrat.”
Menurut Loeb, jika percepatan itu diakibatkan oleh efek “roket” dari gas yang terlepas, maka berdasarkan hukum kekekalan momentum, “objek itu seharusnya kehilangan separuh massanya dalam rentang waktu yang sebanding dengan kecepatan gas yang keluar dibagi dengan percepatan non-gravitasi yang terukur.”
Sejak ditemukan pada 1 Juli 2025, 3I/ATLAS telah menjadi objek yang menarik perhatian lembaga antariksa dunia. NASA melalui misi SPHEREx (Spectro-Photometer for the History of the Universe, Epoch of Reionization and Ices Explorer) mengamati komet ini antara 7 -15 Agustus.
Loeb menjelaskan berdasarkan perhitungannya, 3I/ATLAS “harus kehilangan setidaknya 10% massanya agar dapat menghasilkan percepatan non-gravitasi akibat pelepasan gas.” Ia menambahkan, “Artinya, kita seharusnya melihat awan gas padat di sekeliling komet ini pada November dan Desember.”
Loeb juga memperkirakan pesawat antariksa JUICE milik Badan Antariksa Eropa (ESA) berpotensi mendeteksi pelepasan massa itu pada awal November, sementara teleskop di Bumi mungkin dapat melihatnya pada 19 Desember. Saat 3I/ATLAS berada paling dekat dengan Bumi.
Namun ia menekankan, “Jika kita tidak melihat awan gas padat di bulan Desember, maka penguapan komet bukanlah penyebab percepatan itu. Sebaliknya, hal itu bisa menjadi tanda adanya sistem pendorong buatan.”
Tidak semua ilmuwan sependapat dengan Loeb. Darryl Seligman, profesor fisika dan astronomi di Universitas Negeri Michigan, menilai fenomena ini tidak perlu dikaitkan dengan hal-hal luar biasa.
“Komet memang sering menunjukkan percepatan non-gravitasi,” ujar Seligman kepada Newsweek. “Bahkan hampir aneh kalau ada komet tanpa percepatan semacam itu, meski efeknya sangat kecil dan sulit diukur.”
Menurutnya, komet merupakan objek yang “secara aktif kehilangan material.” Ketika gas keluar dari permukaannya, hal itu menimbulkan dorongan seperti roket kecil yang menyebabkan percepatan. “Dengan demikian, percepatan non-gravitasi bisa digunakan untuk memperkirakan seberapa besar pelepasan gas atau kehilangan massa yang terjadi,” tambahnya.
Seligman juga mengingatkan bahwa objek antarbintang pertama yang pernah ditemukan, 1I/‘Oumuamua, menunjukkan percepatan non-gravitasi tanpa adanya ekor debu. Bahkan di sekitar orbit Bumi pun terdapat “komet gelap” yang tidak memiliki ekor, tetapi tetap menunjukkan perilaku fisik serupa.
Menanggapi kritik dari komunitas ilmiah, Loeb tetap berpegang pada pendiriannya. “Kebenaran ilmiah tidak ditentukan oleh otoritas atau popularitas, tetapi oleh perhatian terhadap data,” tegasnya.
Ia meyakini hanya dengan observasi lebih lanjut terhadap 3I/ATLAS di akhir tahun, barulah dapat dipastikan apakah percepatan non-gravitasi itu disebabkan proses alami seperti pelepasan gas, atau sesuatu yang lebih luar biasa.
Sementara itu, Megan Schwamb, profesor ilmu planet di Queen’s University Belfast, memberikan penjelasan yang lebih hati-hati. “Jika ada peningkatan laju penguapan es volatil di permukaan komet, maka komet tersebut akan tampak mempercepat gerakannya,” jelasnya.
“Kita sering melihat efek ini pada komet berperiode panjang maupun pendek. Hal serupa juga terjadi pada ‘Oumuamua.”
Schwamb menambahkan data dari berbagai observasi menunjukkan 3I/ATLAS sejauh ini konsisten dengan asal alami. “Ada banyak analisis dari astronom di seluruh dunia, dan sejauh pengetahuan kita, 3I/ATLAS masih sesuai dengan karakteristik komet alami,” katanya.
“Tidak ada bukti sejauh ini yang menunjukkan 3I/ATLAS merupakan pesawat luar angkasa alien. Objek ini kemungkinan besar terbentuk di sekitar bintang lain yang memiliki komposisi berbeda dari Matahari, sehingga menghasilkan sifat fisik yang agak berbeda pula.”
Baik pendukung maupun penentang teori Loeb sama-sama menantikan hasil pengamatan berikutnya. Jika awan gas padat benar muncul di sekitar 3I/ATLAS dalam beberapa bulan ke depan, hal itu akan memperkuat teori bahwa percepatan non-gravitasi berasal dari pelepasan gas alami. Namun jika tidak, maka misteri asal-usul komet antarbintang ini akan semakin dalam. (Newsweek/Z-2)
Studi Harvard mengungkap konsumsi makanan ultra-proses dapat meningkatkan risiko kanker usus pada wanita hingga 45%, terutama usia di bawah 50 tahun.
Reese Witherspoon kembali mengunjungi Harvard, tempat karakter legendarisnya Elle Woods menimba ilmu di film Legally Blonde.
Hakim federal memutuskan pembekuan dana riset Harvard US$2 miliar yang dilakukan pemerintahan Trump tidak sah.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan mahasiswa asal Tiongkok yang sedang menempuh pendidikan di AS tidak perlu khawatir terkait keberlangsungan masa depan mereka.
Hakim Federal mendukung sekaligus memperpanjang perintah pengadilan untuk menghentikan sementara kebijakan Donald Trump terkait pelarangan penerimaan mahasiswa internasional di Harvard
Sistem peringatan dini benturan benda langit Asteroid Terrestrial-impact Last Alert System (ATLAS) berhasil mendeteksi sebuah objek yang melintas melalui Tata Surya.
Meskipun 3I/ATLAS kini berada di tahap akhir penjelajahannya di tata surya, data yang dikumpulkan darinya kemungkinan akan terus memberikan informasi kepada para ilmuwan
Komet antarbintang 3I/ATLAS kembali menarik perhatian setelah pengamatan terbaru menunjukkan adanya kemungkinan letusan gunung es atau kriovolkano di permukaannya.
NASA merilis rangkaian foto terbaru komet antar bintang 3I/ATLAS yang diambil 15 misi luar angkasa. Data awal mengonfirmasi komposisi unik komet purba ini.
Komet raksasa seukuran Manhattan, 3I/ATLAS, objek antarbintang ketiga yang pernah memasuki tata surya kita, kembali menjadi sorotan dunia
Komet antar bintang 3I/ATLAS menarik perhatian publik setelah disebut berubah warna secara misterius. Ilmuwan menjelaskan fenomena ini dan meluruskan kabar yang beredar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved