Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
Komet antarbintang 3I/ATLAS kembali menarik perhatian setelah pengamatan terbaru menunjukkan adanya kemungkinan letusan gunung es atau kriovolkano di permukaannya. Fenomena langka ini terdeteksi ketika komet mendekati matahari dan mengalami pemanasan pada permukaannya.
Melansir dari laman Live Science, para peneliti menduga kriovolkanisme dipicu oleh material murni yang terkunci di dalam inti komet. Saat suhu meningkat, karbon dioksida padat mulai menyublim menjadi gas.
Perubahan ini memungkinkan cairan beroksidasi masuk ke bagian dalam komet, lalu bereaksi dengan butiran logam besi, nikel, dan sulfida. Reaksi kimia inilah yang menghasilkan semburan gas dan debu yang menyerupai letusan gunung es.
Temuan ini berasal dari serangkaian pengamatan menggunakan Teleskop Joan Oro di Observatori Montsec, Catalonia, Spanyol yang dikombinasikan dengan observatorium lain di wilayah tersebut. Pemantauan dilakukan saat komet mendekati titik terdekatnya dengan matahari (perihelion) pada 29 Oktober kemarin. Pada jarak sekitar 378 juta kilometer dari matahari, komet yang berumur lebih tua dari tata surya ini menunjukkan sublimasi lebih intens dan tampak jauh lebih terang.
Melalui citra beresolusi tinggi dari Teleskop Joan Oró, peneliti melihat semburan gas dan partikel debu yang keluar dari permukaan komet. Ini menjadi indikasi kuat bahwa aktivitas kriovolkanik benar-benar terjadi.
Para peneliti mencoba memastikan komposisi komet 3I/ATLAS dengan melakukan analisis spektroskopi, yaitu mempelajari bagaimana materi berinteraksi dengan cahaya. Mereka kemudian membandingkan hasil pengamatan komet ini dengan meteorit jenis kondrit karbonan yang sebelumnya dikumpulkan NASA dari wilayah Antarktika.
Meteorit kondrit karbonan dikenal sebagai batuan antik yang masih menyimpan material murni dari masa awal pembentukan tata surya. Menariknya, salah satu sampel meteorit yang diteliti diduga merupakan pecahan dari objek trans-Neptunus, yaitu benda langit yang terbentuk jauh di luar orbit Neptunus.
Setelah membandingkan spektrum cahaya keduanya, peneliti menemukan bahwa komet 3I/ATLAS memiliki karakteristik mirip dengan material purba tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa komet ini kemungkinan kaya akan logam alami dan menyimpan komposisi yang sangat tua, mungkin berasal dari masa paling awal pembentukan sistem bintang lain.
Walaupun menunjukkan kemiripan komposisi dengan objek es di tata surya kita, para astronom menegaskan bahwa 3I/ATLAS berasal dari luar sistem matahari. Hal ini terlihat dari lintasan hiperboliknya. Komet ini pertama kali diamati melaju dengan kecepatan sekitar 221.000 kilometer per jam, kecepatan ini terlalu tinggi untuk bisa terikat oleh gravitasi matahari.
Peneliti utama, Josep Trigo-Rodríguez, menekankan bahwa komet antarbintang perlu dipantau karena berpotensi menjadi ancaman tumbukan bagi Bumi. Namun, ia juga menyebut komet seperti 3I/ATLAS sebagai objek luar biasa karena menyimpan informasi kimia dari wilayah galaksi yang sangat jauh.
“Komet ini seperti kapsul ruang angkasa yang membawa pesan kimia dari tempat lain di galaksi,” ujarnya dikutip dari laman yang sama. (Live Science/Z-10)
Tidak ada alasan untuk meyakini bahwa jumlah ISO yang memasuki Tata Surya kita lebih sedikit daripada sebelumnya. Artinya, mereka menimbulkan risiko dampak bagi Bumi.
Astronom mendeteksi sinyal radio pertama dari komet antarbintang 3I/ATLAS. Meski sempat dikaitkan dengan teori alien, ternyata sinyal itu berasal dari proses alami di inti komet.
NASA menjelaskan perubahan warna tersebut disebabkan emisi gas dari inti komet yang memecah molekul karbon dan hidrogen saat terkena sinar Matahari.
Minat ilmuwan dan publik dunia tengah tertuju pada komet antarbintang 3I/ATLAS yang menunjukkan perilaku tidak biasa saat melintas di sekitar Tata Surya.
Profesor Harvard Avi Loeb memicu perdebatan setelah menyebut komet antarbintang 3I/ATLAS menunjukkan percepatan non-gravitasi misterius.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved