Headline

RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.

Pakar Harvard University Sebut Butuh Pendidikan Berbasis Kompetensi untuk Siapkan Tenaga Kesehatan Berorientasi Pembangunan Manusia

Supardji Rasban
04/2/2026 21:00
Pakar Harvard University Sebut Butuh Pendidikan Berbasis Kompetensi untuk Siapkan Tenaga Kesehatan Berorientasi Pembangunan Manusia
Rektor Univeritas Harkat Negeri (UHN) Tegal, Sudirman Said (merah tua) dan pakar Harvard Medical School, Amerika Serikat (AS), David B. Duong (jas hitam).(MI/SUPARDJI RASBAN)

UNTUK bisa menyiapkan tenaga kesehatan yang berorientasi pada pembangunan manusia dibutuhkan pendidikan berbasis kompetensi (Competency-Based Education). Karena melalui pendidikan berbasis kompetensi ini bisa menghasilkan tenaga kesehatan yang mampu praktik secara kompeten sesuai kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat.

Hal itu disampaikan pakar Harvard University Medical School, Amerika Serikat (AS), David B. Duong, pada kuliah umum bertema "Menyiapkan Generasi Tenaga Kesehatan yang Berorientasi pada Pembangunan Manusia" yang digelar di kampus Universitas Harkat Negeri (UHN) Tegal, Jawa Tengah, Rabu (4/2/2026).

Duong menuturkan pendidikan berbasis kompetensi menekankan pada bukan sekedar waktu lulus, namun juga hasil lulusan (outcomes), kesesuaian kompetensi dengan kebutuhan pasien dan masyarakat, serta fleksibilitas, akuntabilitas, dan pembelajaran seumur hidup. Pendidikan berbasis kompetensi mampu menjawab beberapa tantangan pembangunan kesehatan.

"Seperti ketimpangan layanan kesehatan  berkualitas yang terkonsentrasi di wilayah tertentu dan fragmentasi disiplin ilmu lintas sektor alias melihat isu kesehatan hanya dari satu aspek saja," tutur Duong.

Duong menyebut tenaga kesehatan profesional yang berbasis kompetensi merupakan salah satu penguat pilar dari layanan kesehatan primer. Ada lima pilar utama layanan kesehatan primer. 

"Ada right diagnosis & treatment (diagnosis dan terapi yang tepat), right time (deteksi dan penanganan tepat waktu), right place (akses di fasilitas dan tingkat layanan yang sesuai), right provider (tenaga dan tim layanan primer yang kompeten), right experience (pengalaman pasien yang aman, nyaman, dan jelas)," terang Duong. 

Duong menekankan pentingnya memperbaiki model pendidikan tenaga kesehatan dan perawatan yang ada saat ini. Sebab, populasi penduduk lansia di dunia akan meningkat cukup pesat dalam beberapa tahun mendatang. Pada 2040, diperkirakan sebanyak 1,3 miliar penduduk di dunia berusia di atas 65 tahun. Sementara kekurangan tenaga kesehatan pada 2030 saja diprediksi mencapai 11,3 juta pekerja.

"Jika tidak diantisipasi sejak sekarang, keadaan ini berpotensi memicu peningkatan biaya perawatan kesehatan per kapita sebesar 73% pada 2040. Pengeluaran kesehatan tahunan juga bertambah sebesar US$8,6 triliun, melampaui pertumbuhan ekonomi di setiap wilayah di dunia," papar Duong, seraya menambahkan sistem PHC yang kuat berkorelasi dengan hasil kesehatan lebih baik, biaya lebih rendah, dan keadilan kesehatan.

Pendiri dan CEO CISDI, yang juga Dekan Fakultas Psikologi dan Pendidikan UHN Tegal, Diah S. Saminarsih, menyampaikan penguatan sistem kesehatan mesti bisa dibarengi dengan cara pikir pembangunan yang berorientasi pada manusia. Termasuk dengan menempatkan masyarakat sebagai arah pembangunan. 

"Kebijakan dan program kesehatan seharusnya mengupayakan kesetaraan dengan pendekatan afirmatif, contohnya penjangkauan-penjangkauan khusus untuk kelompok rentan. Pendekatan ini menuntut sistem yang inklusif, adil, partisipatif, dan responsif terhadap realitas kehidupan masyarakat luas," ujar Diah.

Diah menuturkan sebagai organisasi non-profit yang berfokus di bidang pembangunan kesehatan, CISDI menggagas kolaborasi ini untuk memperkuat pembangunan kesehatan di Indonesia secara umum, dan secara khusus di Kota Tegal. 

"Kuliah umum ini juga merupakan langkah lanjutan bagi kolaborasi penguatan layanan kesehatan tingkat pertama atau primer antara CISDI, Yayasan Pendidikan Harapan Bersama berserta Universitas Harkat Negeri, dan PT  Tamaris  Hydro yang pada pertengahan tahun lalu ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU)," tutur Diah.

Diah menyebut kolaborasi ini memiliki nilai strategis sebagai center of excellence Primary Health Care (layanan kesehatan primer) yang berangkat dari konteks Indonesia, sekaligus menjadi ruang pembelajaran, inovasi, dan kolaborasi lintas aktor. 

"Melalui pusat pembelajaran dan impact hub  yang berpusat di Tegal ini, praktik baik dan pengetahuan yang dikembangkan di Indonesia diharapkan dapat  memperkuat sistem kesehatan nasional serta berkontribusi terhadap penguatan layanan kesehatan primer di tingkat regional dan global," terang Diah.

Menurutnya layanan kesehatan primer, yang biasanya dikenal melalui puskesmas dan posyandu, merupakan sistem yang memenuhi kebutuhan kesehatan individu dan keluarga di tingkat komunitas dan masyarakat dari hulu ke hilir. "Layanan kesehatan primer menjadi kontak pertama masyarakat dengan layanan kesehatan berkualitas sehingga harus terjangkau dari sisi lokasi, akses, biaya, dan informasi," papar Diah.

Rektor UHN Tegal, Sudirman Said, menyampaikan ucapan selamat datang dan terima kasih kepada Harvard Medical School, CISDl serta Tamaris Hydro atas komitmen dan kolaborasi berkelanjutan dalam pengembangan bidang Kesehatan Masyarakat di UHN, yang merupakan kelanjutan dari rangkaian kerja sama internasional sebelumnya.

"Sebagai universitas yang relatif baru, kami membutuhkan bimbingan dan dukungan berkelanjutan dari pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan, sembari terus menata diri, memperkuat jejaring global, dan mengembangkan pusat-pusat keunggulan, termasuk peluncuran UHN Center for Sustainability Studies serta dukungan dari International Board of Advisory yang beranggotakan akademisi dan praktisi internasional," ujar Sudirman Said.

"Optimisme dan ajakan untuk melangkah bersama secara bertahap mewujudkan visi besar Universitas Harkat Negeri, dengan keyakinan bahwa perjalanan ini ditempuh bersama banyak sahabat dan mitra," tambah Sudirman Said, yang mantan Menteri ESDM.(H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya