Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
KOMET 3I/ATLAS, pengunjung antar bintang ketiga yang pernah terdeteksi di tata surya, kembali mencuri perhatian dunia setelah disebut mengalami “perubahan warna” misterius. Namun, para ilmuwan menegaskan klaim tersebut tidak sepenuhnya benar.
Komet ini pertama kali ditemukan pada Juli 2025 dan melakukan pendekatan terdekatnya ke Matahari pada 30 Oktober. Tiga wahana antariksa yang menghadap Matahari berhasil merekam perlintasannya. Citra yang dikumpulkan menunjukkan bahwa 3I/ATLAS mengalami “pencerahan cepat”, lebih terang dari kebanyakan komet lain pada jarak serupa dari Matahari.
Dalam studi prapublikasi di situs arXiv, para peneliti menulis bahwa komet ini tampak “lebih biru dari Matahari”, berbeda dengan pengamatan awal yang menunjukkan warnanya lebih kemerahan. Media internasional pun ramai memberitakan komet ini “berubah warna” beberapa kali karena alasan misterius.
Namun, Qicheng Zhang, peneliti pascadoktoral di Lowell Observatory, Arizona, yang juga penulis studi tersebut, membantah anggapan itu.
“Kami tidak memiliki bukti gas koma komet berubah warna,” jelas Zhang melalui email kepada Space.com. “Hasil kami hanya menunjukkan gas koma masih ada dan berkontribusi besar terhadap kecerahan keseluruhan komet.”
Komet sendiri sering dijuluki sebagai “bola salju kotor” karena intinya terdiri dari campuran es, batu, dan debu. Ketika mendekati Matahari, gas beku tersebut menguap dan membentuk lapisan gas terang bernama koma, yang sering kali disertai ekor panjang akibat dorongan angin matahari.
Zhang menambahkan 3I/ATLAS hanya tampak berubah warna sekali, saat komanya menjadi terang karena pemanasan Matahari pada awal tahun ini. “Sejauh yang kami tahu, komet hanya ‘berubah warna’ satu kali ketika gas koma pertama kali tampak cerah, dan tetap seperti itu hingga kini,” katanya.
Menurutnya, fenomena ini sudah mulai terlihat sejak awal September, jauh sebelum komet mendekati Matahari. Foto-foto astronom amatir pada periode itu sudah memperlihatkan warna biru kehijauan pada gas komanya.
Meski komet ini sempat jadi bahan teori konspirasi, termasuk tudingan 3I/ATLAS adalah pesawat alien yang disembunyikan pemerintah AS selama masa penutupan lembaga federal, para ilmuwan menilai, tidak ada bukti yang mendukung klaim tersebut.
Komet antar bintang ini sendiri tetap menarik perhatian para astronom karena memberi kesempatan langka untuk mempelajari kondisi di luar tata surya. Sejumlah teleskop di Bumi dan luar angkasa, seperti Hubble Space Telescope, ExoMars Trace Gas Orbiter milik Eropa, dan Tianwen-1 milik Tiongkok, berhasil merekam pergerakannya.
Komet 3I/ATLAS akan mencapai jarak terdekatnya dengan Bumi pada 19 Desember, sekitar 270 juta kilometer dari planet kita. Cukup jauh untuk aman, tetapi cukup dekat untuk terus diamati oleh para ilmuwan dan penggemar astronomi di seluruh dunia. (Space/Z-2)
NASA merilis rangkaian foto terbaru komet antar bintang 3I/ATLAS yang diambil 15 misi luar angkasa. Data awal mengonfirmasi komposisi unik komet purba ini.
Studi terbaru mengungkap asal usul 3I/ATLAS mungkin berasal dari perbatasan galaksi Bima Sakti, menjadikannya peninggalan purba.
Satelite JUICE dinilai punya peluang terbaik mengamati 3I/ATLAS, karena lintasannya memungkinkan pengamatan dekat saat perihelion.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved