Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
\PARA astronom semakin mendekati jawaban atas misteri asal-usul komet antar bintang 3I/ATLAS, yang kini tengah melaju menuju pusat tata surya kita. Studi terbaru mengindikasikan objek ini mungkin berasal dari wilayah terpencil di galaksi Bima Sakti, yang menjadikannya sisa peninggalan dari masa awal pembentukan galaksi, bahkan lebih tua dari Matahari.
Pertama kali terdeteksi pada akhir Juni dan dikonfirmasi NASA pada awal Juli, 3I/ATLAS menjadi komet antar bintang ketiga yang pernah ditemukan, setelah 1I/‘Oumuamua dan 2I/Borisov. Menariknya, komet ini diperkirakan sebagai yang terbesar sejauh ini, dengan diameter antara 4,8 hingga 11,2 kilometer.
Menurut NASA, 3I/ATLAS kini tengah menjalani “tur galaksi” selama beberapa bulan. Komet ini baru saja melintasi orbit Mars pada 3 Oktober dan akan mendekati Matahari pada 30 Oktober 2025. Setelah itu, ia akan meninggalkan tata surya, melintasi orbit Jupiter pada Maret 2026 sebelum akhirnya kembali menuju ruang antarbintang. NASA menegaskan objek ini tidak menimbulkan ancaman bagi Bumi.
Bergerak dengan kecepatan luar biasa, sekitar 210.000 km/jam, komet ini telah berkelana selama jutaan hingga miliaran tahun di Bima Sakti. Perjalanan panjang tersebut membuat lintasannya dipengaruhi oleh banyak bintang yang dilaluinya, layaknya pesawat ruang angkasa yang menggunakan gravitasi planet untuk mempercepat lajunya.
Dalam penelitian yang diunggah ke arXiv, para ilmuwan menggunakan data dari teleskop ruang angkasa Gaia milik Badan Antariksa Eropa untuk melacak perjalanan komet ini sejauh 4,27 juta tahun ke belakang. Hasilnya, ditemukan 62 bintang terdekat yang mungkin pernah berinteraksi dengan 3I/ATLAS, namun tidak ada yang memengaruhi lintasannya secara signifikan.
“Kami menemukan bahwa tidak ada bintang di sekitar tata surya yang dapat menjelaskan kecepatan dan arah unik 3I/ATLAS,” ungkap Xabier Pérez-Couto, penulis utama studi dari Universidade da Coruña, Spanyol. Satu-satunya bintang yang sedikit memengaruhi lintasan komet memiliki massa sekitar 70% dari Matahari, namun dampaknya sangat kecil.
Para peneliti menduga bahwa 3I/ATLAS merupakan objek sangat tua yang mungkin berasal dari perbatasan antara cakram tipis dan tebal galaksi Bima Sakti. Cakram tipis berisi bintang-bintang muda yang kaya elemen berat, sementara cakram tebal menyimpan bintang-bintang purba yang miskin logam dan telah berhenti membentuk bintang baru.
Jika benar berasal dari wilayah tersebut, 3I/ATLAS bisa jadi berusia lebih dari 10 miliar tahun, menjadikannya lebih dari dua kali lipat usia Matahari. “Komet ini kemungkinan terlempar dari sistem planet purba dan menjadi kapsul waktu berharga dari masa awal galaksi,” tambah Pérez-Couto.
Meski asal pastinya belum bisa dipastikan, pengamatan lanjutan dari teleskop di Bumi, Mars, dan orbit Jupiter akan membantu mengungkap komposisi dan sejarah kosmik objek ini. Selain membuka jendela baru untuk memahami evolusi awal galaksi Bima Sakti. (Live Science/Z-2)
NASA merilis rangkaian foto terbaru komet antar bintang 3I/ATLAS yang diambil 15 misi luar angkasa. Data awal mengonfirmasi komposisi unik komet purba ini.
Komet antar bintang 3I/ATLAS menarik perhatian publik setelah disebut berubah warna secara misterius. Ilmuwan menjelaskan fenomena ini dan meluruskan kabar yang beredar.
Satelite JUICE dinilai punya peluang terbaik mengamati 3I/ATLAS, karena lintasannya memungkinkan pengamatan dekat saat perihelion.
Panduan lengkap cara mengirim nama ke Bulan melalui misi NASA Artemis 2. Pelajari prosedur, teknologi microchip, dan batas waktu pendaftaran 2026.
Penetapan tanggal ini menyusul penundaan sebelumnya akibat kendala teknis saat sesi latihan peluncuran (wet dress rehearsal), termasuk kebocoran bahan bakar hidrogen
Flare Matahari merupakan ledakan besar energi elektromagnetik yang terjadi akibat perubahan mendadak pada medan magnet di atmosfer Matahari.
Temuan terbaru mengenai ukuran Jupiter ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Astronomy pada Senin (2/2). Jurnal ini sekaligus disebut sebagai salah satu hasil penting
Meskipun peluang tersebut sempat mencapai 3,1%, perkiraan lintasan yang lebih rinci akhirnya meniadakan kemungkinan tabrakan dengan Bumi saat ia melintas dekat pada 22 Desember 2032.
Awak Ekspedisi 74 di ISS fokus pada studi CIPHER untuk kesehatan jangka panjang astronaut serta peluncuran CubeSat karya pelajar dari lima negara.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved