Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
HINGGA saat ini, hanya sebagian kecil meteorit yang mendarat di Bumi yang memiliki kaitan erat dengan benda induknya di luar angkasa.
Namun, serangkaian penelitian baru-baru ini memberikan wawasan menarik mengenai asal-usul lebih dari 90 persen meteorit yang ada saat ini.
Analisis masa lalu terhadap meteorit yang menghantam planet kita menunjukkan adanya kesamaan asal-usul; meteorit-meteorit ini terbuat dari bahan yang sangat mirip dan telah terpapar radiasi kosmik dalam waktu yang sangat singkat.
Hal ini mengisyaratkan adanya pemisahan yang relatif baru dari benda induknya.
Para tim di balik tiga penelitian yang telah diterbitkan menggunakan kombinasi pengamatan teleskop yang sangat detail dan simulasi pemodelan komputer untuk membandingkan asteroid di luar angkasa dengan meteorit yang ditemukan di Bumi, mencocokkan jenis batuan dan jalur orbit di antara keduanya.
Dipimpin oleh para peneliti dari Pusat Penelitian Ilmiah Nasional Prancis, Observatorium Selatan Eropa, dan Universitas Charles di Republik Ceko, penelitian ini berfokus pada chondrite H (besi tinggi) dan L (besi rendah), yang merupakan jenis meteorit paling umum dan mencakup sekitar 70 persen dari total meteorit yang ada.
Chondrite dinamakan demikian karena terdiri dari partikel-partikel kecil yang disebut kondrit, yang terbentuk akibat pendinginan cepat batuan cair.
Meteorit chondrite H dan L ini tiba di Bumi dari tiga keluarga asteroid: Massalia, Karin, dan Koronis. Ketiga keluarga asteroid ini berada di sabuk asteroid utama antara Mars dan Jupiter.
Salah satu tim peneliti juga berhasil menentukan tanggal-tanggal penting untuk tabrakan dalam keluarga asteroid tersebut yang menyebabkan jatuhnya batuan baru ke Bumi.
Massalia mengalami tabrakan besar 466 juta tahun lalu dan 40 juta tahun lalu, sementara keluarga Karin dan Koronis mengalami tabrakan sekitar 5,8 dan 7,6 juta tahun lalu.
“Pekerjaan di masa depan harus fokus pada beberapa kelas yang tersisa—pada dasarnya, meteorit besi, pallasit, dan ureilit,” tulis para peneliti dalam makalah penelitian mereka yang telah diterbitkan. (Z-10)
Sumber
Bulan perlahan menjauh dari Bumi sekitar 3,8 cm per tahun. Fenomena ini membuat rotasi Bumi melambat dan panjang satu hari bertambah, meski perubahan terjadi sangat lambat.
Selain memengaruhi medan magnet, struktur panas bawah tanah ini mungkin berdampak pada tata letak benua-benua di planet in
Fenomena Bulan yang disebut perlahan menjauh dari Bumi kembali ramai dibahas. Di media sosial, narasinya cepat melebar,
Adanya gaya pasang surut tersebut menyebabkan lautan bergelombang dan membentuk dua tonjolan, mengarah dan menjauhi Bulan.
Salah satu aspek paling penting dari penelitian ini adalah memastikan bahwa hidrogen yang ditemukan bukan hasil kontaminasi dari lingkungan Bumi.
Wahana Luar Angkasa yang Mendarat ke Bumi Berpotensi Rusak Lapisan Atmosfer? Begini Penjelasannya
Seiring meningkatnya misi komersial ke luar angkasa, para ahli memperingatkan adanya risiko kesehatan reproduksi yang terabaikan. Apakah manusia siap bereproduksi di orbit?
Fakta mengejutkan datang dari dunia sains, Bumi juga memiliki sesuatu yang menyerupai “ekor” raksasa di luar angkasa.
NAMA seorang romo sekaligus ilmuwan asal Indonesia oleh International Astronomical Union menetapkan nama Bayurisanto sebagai nama resmi sebuah asteroid
NASA laksanakan evakuasi medis pertama dalam sejarah ISS.
NASA merilis foto luar biasa kolaborasi James Webb dan Chandra. Dua galaksi, IC 2163 dan NGC 2207, tertangkap sedang memulai proses tabrakan dahsyat.
Para astronom untuk pertama kalinya berhasil mendeteksi ledakan besar yang dilepaskan oleh sebuah bintang di luar tata surya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved