Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
RANSOMWARE adalah jenis malware yang mengunci atau mengenkripsi data korban, sehingga tidak dapat diakses, dan kemudian menuntut tebusan (ransom) dari korban untuk mengembalikan akses ke data tersebut.
Ini adalah salah satu jenis serangan siber yang paling merusak dan mengancam, dengan dampak yang signifikan pada individu, bisnis, dan organisasi.
Ransomware biasanya masuk ke sistem korban melalui email phishing, unduhan berbahaya, atau exploit kit. Setelah diunduh, ransomware akan dijalankan dan mulai menyebar di sistem.
Baca juga : Trellix Temukan Layanan Bisnis Jadi Target Utama Serangan Ransomware
Ransomware akan mengenkripsi file di komputer korban menggunakan algoritma enkripsi yang kuat. File yang terenkripsi tidak dapat dibuka tanpa kunci dekripsi, yang hanya diketahui oleh penyerang.
Setelah data dienkripsi, ransomware akan menampilkan pesan kepada korban yang menjelaskan bahwa data mereka telah dienkripsi dan meminta tebusan untuk mendapatkan kunci dekripsi. Pembayaran biasanya diminta dalam bentuk mata uang kripto seperti Bitcoin, yang sulit dilacak.
Beberapa ransomware juga dapat mengancam untuk menghapus data jika tebusan tidak dibayar dalam waktu tertentu, atau menyebar ke komputer lain di jaringan.
Baca juga : Menlo Security Tawarkan Keamanan Siber Tingkat Kualitas Tinggi
WannaCry: Serangan ransomware global pada Mei 2017 yang memanfaatkan kerentanan di sistem Windows. WannaCry menginfeksi lebih dari 230.000 komputer di 150 negara, menyebabkan kerugian finansial besar dan gangguan layanan penting.
Petya/NotPetya: Menyerang pada Juni 2017, ransomware ini mengenkripsi MFT (Master File Table) dari hard drive, membuat sistem tidak bisa diakses. NotPetya, varian yang lebih merusak, menyamar sebagai ransomware tetapi sebenarnya bertujuan untuk menyebabkan kerusakan.
Ryuk: Ransomware ini sering menargetkan bisnis besar dan organisasi, mengenkripsi data mereka, dan meminta tebusan dalam jumlah besar. Ryuk biasanya didistribusikan melalui kampanye phishing dan malware loader seperti TrickBot.
Baca juga : Wapres: Kejadian Serangan Siber Pusat Data Nasional Tengah Diinvestigasi
Maze: Selain mengenkripsi data, Maze juga mencuri data korban dan mengancam untuk mempublikasikannya jika tebusan tidak dibayar. Teknik ini disebut "doxware" atau "leakware".
Menyimpan salinan data penting di tempat yang aman, offline, dan terpisah dari jaringan utama. Backup yang baik memungkinkan pemulihan data tanpa membayar tebusan.
Pastikan semua perangkat lunak, termasuk sistem operasi dan aplikasi, selalu diperbarui dengan patch keamanan terbaru untuk menutup kerentanan yang bisa dieksploitasi oleh ransomware.
Baca juga : Safenet: Gangguan pada PDN Timbulkan Kerentanan Bocornya Data Publik
Antivirus dan antimalware yang up-to-date dapat membantu mendeteksi dan menghapus ransomware sebelum menyebar.
Edukasi pengguna tentang bahaya ransomware, cara mengenali email phishing, dan praktik keamanan yang baik untuk mengurangi risiko infeksi.
Batasi hak akses pengguna dan gunakan prinsip "least privilege" untuk mengurangi dampak potensial dari serangan ransomware.
Ransomware merupakan ancaman serius bagi keamanan data. Dengan pemahaman yang baik dan langkah-langkah pencegahan yang tepat, risiko infeksi dapat diminimalkan, dan dampak dari serangan dapat dikelola dengan lebih efektif. (Z-10)
Masyarakat perlu dijelaskan bahwa virus influenza yang saat ini banyak ditemukan di berbagai negara tidak selalu lebih berat, tetapi memang lebih mudah menular.
IDAI mengingatkan cacar air sangat menular. Satu anak bisa menularkan varicella ke 8–12 anak lain, terutama di sekolah dan lingkungan dengan kontak erat.
Pengurus Ikatan Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) sekaligus Ketua PDITT dr. Iqbal Mochtar, meminta masyarakat tidak panik dengan penyakit ini, apalagi dengan istilah super flu.
Superflu merupakan influenza tipe A virus H3N2 subclade K yang sudah ada dari dulu.
DIREKTUR Pascasarjana Universitas YARSI, Prof Tjandra Yoga Aditama, menjelaskan potensi influenza A (H3N2) subclade K atau Super Flu menjadi pandemi tergantung dari 3 faktor.
Hingga saat ini, telah dilaporkan 189.312 kasus flu positif di New York pada musim ini.
Kesadaran akan pentingnya kesiapan data mulai muncul di seluruh spektrum perusahaan, baik skala besar maupun menengah.
Pertumbuhan ini menempatkan BEI sebagai salah satu bursa dengan likuiditas tertinggi di kawasan Asia Tenggara.
Bawaslu harus memastikan setiap informasi yang disampaikan kepada publik bersumber dari data yang sahih, terintegrasi, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam SE2026, dua moda utama yang digunakan adalah Computer Assisted Personal Interviewing (CAPI) dan Computer Assisted Web Interviewing (CAWI).
ILMUWAN Tiongkok To Youyou dianugerahi Nobel dalam bidang sains kesehatan pada 2015 lantaran menemukan obat tradisional malaria, senyawa artemisinin
Berdasarkan studi terbaru, dari 1.080 anak muda kurang terjangkau di ASEAN, 72,2% tidak memiliki atau bahkan memiliki keterampilan digital yang rendah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved