Selasa 17 November 2020, 22:30 WIB

Inovasi Teknologi Kemenperin Tekan Polusi Udara Industri

Haryanto | Teknologi
Inovasi Teknologi Kemenperin Tekan Polusi Udara Industri

Istimewa
BBTPPI Semarang berhasil membuat cerobong asap atasi pencemaran udara dan debu di pabrik PT SAF di Magelang

SEKTOR industri selain berdampak positif terhadap perekonomian nasional dan penyerapan tenaga kerja, namun berdampak negatif terhadap lingkungan. Untuk itu perlu penguasaan teknologi dan manajemen penanggulangan pencemaran industri.

Hal ini sejalan dengan arahan Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita, dimana industri harus mengimplementasikan standard sustainability yang dapat dicapai dengan penerapan industri hijau. Industri hijau mengedepankan upaya efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya secara berkelanjutan, sehingga mampu menyelaraskan pembangunan industri dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Menjawab tantangan tersebut, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin, Doddy Rahadi, kepada wartawan, Selasa (17/11) menyampaikan bahwa seluruh satker di bawah BPPI harus aktif mengembangkan inovasi teknologi dalam penyelesaian problem di industri untuk meningkatkan daya saing.

"Masalah lingkungan yang dihadapi industri, seperti pencemaran udara yang dihadapi oleh PT. Sidoagung Farm (SAF) yang berlokasi di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah," ungkap Doddy mencontohkan.

PT. SAF adalah perusahaan yang bergerak di bidang pakan ternak dan merupakan salah satu PMDN ditengah banyaknya PMA dibidang industri pakan ternak. Asrokh Nawawi, Direktur PT. Sidoagung Farm, sedikit menjelaskan terkait perusahaannya.

"PT. Sidoagung Farm memiliki kapasitas produksi 300.000 ton per tahun, mampu mensuplai ketersediaan pakan bagi ayam Broiler sejumlah 2,5 juta ekor per bulan, dan akan menghasilkan 4.250 ton daging perbulan. Kami juga mensuplai kebutuhan pakan untuk 7 juta ayam petelur per bulan, dimana menghasilkan 11,156 ton telur per bulan. Oleh karena itu, PT. SAF memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan terutama di masa pandemi COVID-19 dan resesi ekonomi saat ini,” jelas Asrokh.

Terkait permasalahan yang dihadapi PT. SAF, Asrokh menyampaikan kondisi dan status yang dihadapi perusahaannya.

"Saat ini kami sedang dalam tahap commisioning, yaitu ada protes dari lingkungan masyarakat sekitar yang mengeluhkan pencemaran udara dan debu. Pada awalnya kami mencoba mengatasi sendiri, tetapi belum berhasil. Kemudian kami berkonsultansi ke BBTPPI Semarang, selanjutnya ditindaklanjuti dengan survei, dianalisa, serta dibuatkan desain dan peralatannya," papar Asrokh.

Sebelumnya PT. SAF menggunakan wet scrubber tetapi mengalami masalah dan tidak efektif. Akhirnya setelah berkonsultansi dengan BBTPPI dapat berhasil dengan menggunakan inovasi teknologi dry filter. PT. SAF memiliki 2 (dua) cerobong setinggi 68 meter, dimana dry filter tersebut berfungsi untuk menyaring udara dan uap yang keluar dari mesin press pakan ternak.

Parameter dominan yang keluar sehingga menimbulkan kebauan antara lain H2S (Hidrogen sulfida), NH3 (Amoniak), kadar air, dan partikulat. Parameter tersebut jika terpapar oleh manusia dapat menimbulkan masalah kesehatan terutama gangguan ISPA. Emisi kebauan ini tidak dapat dihindarkan, tetapi bisa
dikendalikan dengan alat pengendali emisi.

Asrokh menambahkan, bahwa perusahaannya sempat berhenti beroperasi karena ada surat pemberhentian sementara dari Bupati Magelang. "Saat ini PT. SAF telah beroperasi kembali karena sudah memenuhi semua hal-hal yang mungkin menjadi hambatan kami sebelumnya. Untuk itu kami sampaikan terima kasih kepada BBTPPI atas bantuan dan dukungannya," tambahnya.

Menanggapi permasalahan yang dialami PT. SAF, Kepala BBTPPI Semarang, Ali Murtopo Simbolon, menyampaikan upaya BBTPPI dalam menyelesaikan permasalahan industri.

"BBTPPI menciptakan mesin dry filter dan mendesain cerobong asap milik PT. SAF yang semula hanya setinggi 32 meter menjadi 68 meter yang bertujuan untuk mengurai bau di udara," ujar Ali.

Banyak jenis alat pengendali emisi kebauan yang bisa diterapkan pada industri, tetapi perlu disesuaikan dengan kondisi industri masing-masing. Beberapa hal yang menjadi pertimbangan pemilihan alat antara lain jenis emisi, jenis parameter, letak penempatan, dan biaya. Dengan pertimbangan tersebut, adsorber dengan media karbon aktif sangat tepat untuk mengurangi dampak kebauan yang teremisikan dari unit proses produksi.

"Adsorber ini dibuat dengan 3 tingkat dengan pembatas perforated tray yang di dalamnya berisi karbon aktif yang dihamparkan. Tujuan dibuat 3 tingkat agar gas emisi kebauan dapat ter-adsorp sempurna, sehingga keluar cerobong sudah tidak berbau lagi,” jelas Ali.

Ali menyampaikan kesiapan BBTPPI dalam mendukung terciptanya inovasi teknologi pencegahan pencemaran industri, "Teknologi Balai Kemenperin menyelesaikan permasalahan pencemaran industri pakan ternak untuk mendukung daya tahan pangan,” pungkasnya. (OL-13)

Baca Juga: Ada 11 Kategori di Ajang Indonesian Esports Awards 2020

Baca Juga

YouTube.com

YouTube Uji Coba Fitur Baru untuk Belanja

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 17 Januari 2021, 20:00 WIB
YouTube dilaporkan sedang menguji fitur baru yang memungkinkan pengguna membeli produk yang mereka lihat di video secara langsung dari...
Ist/Baznas

Aplikasi Cari Temu Baznas Bantu Temukan Keluarga yang Hilang

👤mediaindonesia.com 🕔Minggu 17 Januari 2021, 08:45 WIB
Aplikasi Cari Temu ditujukan untuk membantu menemukan kerabat yang hilang atau sulit dihubungi akibat...
AFP/Lionel BONAVENTURE

Whatsapp Perpanjang Masa Peninjauan Pembaruan Hingga 15 Mei

👤Basuki Eka Purnama 🕔Sabtu 16 Januari 2021, 11:49 WIB
Whatsapp kemudian memastikan tidak akan ada akun pengguna yang dihapus pada 8 Februari...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya