Headline

YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.

Polusi Udara Sudah Ada Sejak Romawi Kuno, Aktivitas Manusia Picu Emisi Timbal dan Metana

Abi Rama
10/2/2026 21:21
Polusi Udara Sudah Ada Sejak Romawi Kuno, Aktivitas Manusia Picu Emisi Timbal dan Metana
Koloseum.(Freepik)

ANGGAPAN bahwa polusi udara merupakan masalah modern yang baru muncul setelah Revolusi Industri kini mulai dipatahkan. Sejumlah penelitian ilmiah terbaru menunjukkan bahwa peradaban manusia telah menghasilkan pencemaran udara sejak ribuan tahun lalu, salah satunya pada masa Kekaisaran Romawi Kuno. Informasi ini dilansir dari laman The Starfish, yang merangkum berbagai temuan ilmiah berbasis analisis inti es di wilayah Arktik dan Greenland.

Inti es atau ice cores berfungsi layaknya arsip alami atmosfer bumi. Setiap lapisan es menyimpan jejak kimia dari udara pada masanya, sehingga para ilmuwan dapat menelusuri sejarah polusi udara jauh sebelum adanya pencatatan modern.

Pertambangan Timbal dan Perak Jadi Sumber Utama

Salah satu sumber utama polusi udara di era Romawi Kuno berasal dari aktivitas pertambangan dan peleburan logam, khususnya perak dan timbal. Pada periode Pax Romana (27 SM–180 M), Kekaisaran Romawi menjalankan produksi perak dalam skala besar untuk menopang perekonomian dan sistem mata uang.

Penelitian yang dipimpin Joseph McConnell dari Desert Research Institute menemukan bahwa kadar timbal di atmosfer meningkat signifikan selama masa tersebut. Dari analisis inti es Arktik, diperkirakan Romawi melepaskan sekitar tiga hingga empat kiloton timbal ke atmosfer setiap tahunnya. Polusi ini tidak hanya terpusat di wilayah tambang, tetapi menyebar luas dan berdampak pada penduduk pedesaan yang menjadi mayoritas populasi kala itu.

Aktivitas Metalurgi dan Pertanian Picu Emisi Metana

Selain timbal, polusi udara Romawi Kuno juga berasal dari gas metana. Studi lain yang dipimpin Celia Sapart dari Utrecht University mengungkap adanya peningkatan konsentrasi metana di atmosfer sekitar 100 SM, bertepatan dengan berkembangnya metalurgi dan pertanian skala besar.

Peningkatan metana ini dikaitkan dengan domestikasi hewan ruminansia, seperti sapi dan domba, yang menghasilkan gas metana dalam proses pencernaannya. Di sisi lain, penggunaan kayu sebagai bahan bakar oleh pandai besi untuk melebur logam juga turut menyumbang emisi gas rumah kaca, tidak hanya di Romawi, tetapi juga di Dinasti Han pada periode yang sama.

Meski jumlah metana yang dihasilkan belum cukup besar untuk memicu perubahan iklim global, temuan ini menunjukkan bahwa aktivitas manusia sejak era Romawi sudah mulai mengubah komposisi atmosfer bumi.

Kabut Asap dan Asap Hitam di Kota Roma

Polusi udara di Romawi Kuno tidak hanya tercatat secara ilmiah, tetapi juga terekam dalam catatan sejarah. Sekitar 2.000 tahun lalu, kota Roma kerap diselimuti asap hitam pekat akibat pembakaran kayu dan aktivitas industri perkotaan. Asap ini menggelapkan bangunan dan berdampak langsung pada kesehatan warga.

Filsuf Romawi, Seneca, bahkan pernah menulis bahwa kondisi kesehatannya membaik secara signifikan setelah meninggalkan Roma, sebuah kesaksian awal tentang dampak buruk polusi udara terhadap tubuh manusia.

Kesadaran Awal Akan Pentingnya Udara Bersih

Masalah pencemaran udara di Romawi Kuno akhirnya memicu respons dari penguasa. Senat Romawi sempat mengeluarkan aturan yang melarang pencemaran udara, sementara Kaisar Justinianus pada tahun 535 M menyatakan bahwa udara bersih merupakan hak sejak lahir bagi setiap manusia.

Langkah ini menunjukkan bahwa meski belum memiliki pemahaman ilmiah seperti saat ini, masyarakat Romawi telah menyadari hubungan antara kualitas udara dan kesehatan.

Dari pertambangan logam, pertanian, hingga aktivitas industri sederhana, polusi udara di zaman Romawi Kuno menjadi bukti bahwa pencemaran atmosfer bukanlah fenomena baru. Revolusi Industri memang mempercepat dan memperparah emisi buatan manusia, tetapi akar masalahnya telah muncul jauh lebih awal dalam sejarah peradaban.

Temuan-temuan ini menegaskan bahwa manusia telah lama menciptakan polusi, sekaligus harus menanggung konsekuensi kesehatannya, bahkan sejak ribuan tahun sebelum era modern. (The Starfish/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya