Sabtu 19 Maret 2022, 07:00 WIB

Lima Tahun tanpa Gelar

Suryopratomo Pemerhati Sepak bola | Sepak Bola
Lima Tahun tanpa Gelar

MI/Seno
Suryopratomo Pemerhati Sepak bola

 

PAUL Scholes dan Rio Ferdinand tidak habis mengerti dengan prestasi klub yang pernah ikut mereka besarkan, Manchester United. Sepertinya 26 tahun kebesaran yang pernah dibangun Alex Ferguson tidak ada lagi bekasnya. Lima tahun 'Setan Merah' mengakhiri kompetisi tanpa satu pun gelar yang bisa diraih.

Kekalahan dari Atletico Madrid 0-1 di ajang Liga Champions, Rabu lalu, menjadi pamungkas perjalanan mereka di musim ini. Tertutup sudah harapan untuk bisa meraih gelar dan kembali menunjukkan diri sebagai klub yang pantas disegani.

Manchester United sekarang ini memang bukan lagi tim yang tampil dengan darah baru dan penuh semangat untuk memenangi pertandingan. Mereka bahkan berubah menjadi klub yang uzur dan seperti kehilangan pegangan untuk meraih kejayaan.

Bayangkan dalam keadaan harus mengejar ketertinggalan dari tamunya, Atletico Madrid, 'Setan Merah' justru memasukkan pemain gaek. Edinson Cavani, Nemanja Matic, dan Juan Mata yang menjadi pemain pengganti. Kalau digabungkan, usia mereka itu mencapai 101 tahun.

Padahal, Alex Ferguson pernah menjadi cemoohan mantan bintang Liverpool, Alan Hansen, ketika memainkan pemain-pemain usia muda, seperti David Beckham, Ryan Giggs, dan Scholes pada 1992. Namun, Hansen akhirnya menarik ucapannya ketika para pemain muda itu mampu membawa 'Setan Merah' menjadi juara dan bahkan mendominasi Liga Primer hampir dua dekade.

Tidak salah apabila Scholes dan Ferdinand mempertanyakan kebijakan yang ditempuh manajemen untuk membangun 'Setan Merah'. Sepertinya ada kesalahan yang ditempuh sehingga mereka kehilangan greget dan jati diri sebagai sebuah klub yang seharusnya dihormati.

Bahkan mereka mempertanyakan suasana yang terjadi di ruang ganti pemain. Bagaimana para pemain kehilangan kekompakan dan keinginan untuk saling mengoreksi agar terbangun tim yang solid di lapangan.

 

 

Titik nadir

Nama-nama besar yang ada di tim ‘Setan Merah’ nyaris tidak ada artinya bagi tim. Padahal, siapa yang tidak kenal Cristiano Ronaldo. Meski usianya sudah semakin senja, ia tetap seorang Ronaldo yang tahu bagaimana memberikan kemenangan kepada tim. Hattrick yang ia ciptakan ke gawang Tottenham Hotspur merupakan bukti dari semua itu.

Cavani merupakan salah satu penyerang paling produktif yang dimiliki Uruguay. Demikian pula Paul Pogba, pahlawan Prancis di Piala Dunia 2018 dan bintang yang pernah mengangkat Juventus ke jenjang tertinggi.

Setelah Fergie melepas jabatannya sebagai ‘bos’ di Manchester United, nama-nama pelatih besar juga pernah diminta menangani ‘Setan Merah’. Nama seperti Louis van Gaal, Jose Mourinho, merupakan pelatih terbaik yang ada di dunia.

Namun, mereka tidak mampu mengembalikan roh sesungguhnya dari Manchester United. Bahkan, di tangan Ralf Rangnick sekarang ini, ‘Setan Merah’ mencapai titik nadir. Mereka dengan mudah, misalnya, dipermainkan tetangganya, Manchester City, dan sama sekali tidak berdaya.

Pelatih Josep Guardiola benar-benar mempermalukan ‘Setan Merah’. Ia bisa memerintahkan tim asuhannya untuk menarik para pemain Manchester United masuk ke daerah pertahanan the Citizens tanpa mampu memotong operan dari kaki ke kaki yang bahkan dilakukan di depan gawang kiper Ederson.

Setelah memaksa para pemain ‘Setan Merah’ lari-lari seperti anak kecil yang mengejar bola, Kevin de Bruyne memindahkan dengan cepat bola ke daerah pertahanan Manchester United dan membuat Harry Maguire serta kawan-kawan kocar-kacir. Kalau bukan karena kehebatan kiper David de Gea, pasti akan lebih dari empat gol yang bersarang ke gawang ‘Setan Merah’.

Kesalahan-kesalahan elementer yang dilakukan para pemain Manchester United benar-benar membuat malu pencinta ‘Setan Merah’. Harry Maguire yang menjadi kapten kesebelasan bukan lagi pemain belakang yang pantas disegani seperti ketika ia masih bermain untuk Hull City atau Leicester City. Bahkan, sering kali ia membuat kesalahan fatal yang membuat gawang timnya mudah untuk kebobolan.

Bek kanan Aaron Wan-Bissaka yang ditarik dari Crystal Palace pada 2019, idem-ditto. Manchester City membombardir serangan dari sayap kiri. Karena itulah sektor pertahanan ‘Setan Merah’ yang paling mudah untuk bisa ditembus.

Tidak salah apabila Rangnick sekarang lebih sering membangkucadangkan Wan-Bissaka dan menggantinya dengan bek kanan asal Portugal, Diogo Dalot. Paling tidak pertahanan Manchester United tidak lagi menjadi pertahanan yang gampang diobrak-abrik pemain lawan.

 

 

Waktu konsolidasi

Dua pekan istirahat kompetisi merupakan momentum paling tepat bagi ‘Setan Merah’ melakukan konsolidasi. Rangnick perlu cepat berbenah diri kalau tidak mau musim depan timnya absen dari ajang bergengsi Liga Champions.

Sisa pertandingan yang harus dimainkan Manchester United di Liga Primer musim ini bukanlah partai yang mudah. Mereka masih harus bertemu tiga tim yang sekarang berada di atas mereka, yakni Arsenal, Chelsea, dan Liverpool.

Dengan kualitas tim seperti sekarang ini, sulit bagi Manchester United bisa menembus empat besar agar bisa mendapatkan tiket ke Liga Champions musim mendatang. Karakter permainan ‘Setan Merah’ yang harus bisa dikembalikan oleh para pemain.

Di tangan Alex Ferguson, karakter permainan ‘Setan Merah’ ialah kemampuan untuk memadukan antara teknik yang tinggi, permainan tanpa kompromi, dan sikap untuk tidak pernah mau kalah. Roy Keane menjadi simbol karakter Manchester United yang tidak pernah takut dan tidak pernah mengenal menyerah.

Ketika ’King’ Eric Cantona hadir, teknik sepak bola kelas tinggi dilengkapi. Cantona selalu mampu mengubah permainan. Baik kaki maupun kepala Cantona selalu menjadi ancaman bagi kiper lawan.

Dengan Peter Schmeichel yang menjadi andalan di bawah mistar serta twin tower seperti Ferdinand, Jaap Stam, dan Ronny Johnsen, pilar ‘Setan Merah’ benar-benar kukuh. Itulah yang membuat para pemain muda menjadi lebih percaya diri dan berkembang menjadi bintang bukan hanya untuk Manchester United, melainkan juga tim nasional Inggris.

Rangnick memang mencoba menerapkan gegen-pressing, tetapi tidak diikuti dengan permainan tanpa kompromi. Dua gelandang bertahan Scott McTominay dan Fred bukan tipikal breaker yang sesungguhnya. Kalaupun mencoba bermain keras, sering kali malah diganjar kartu karena tidak disertai teknik bermain yang memadai.

Di depan pemain, seperti Marcus Rashford, Jadon Sancho, atau Anthony Elanga, terlalu santun bermain. Berbeda dengan Giggs ataupun Beckham yang tampil gigih, tetapi cerdas dalam membaca permainan. Beckham menjadi bintang besar karena memiliki visi bermain yang jauh sehingga ia mampu mencetak gol dari setengah lapangan ke gawang Wimbledon.

Manchester United memiliki dua pilihan sekarang ini. Apakah mereka akan kembali ke era awal 1980-an yang mana mereka hanya menjadi klub papan tengah ataukah seperti di era 1990-an ketika mereka menjadi King of England. Hanya Rangnick dan seluruh pemain yang bisa menjawabnya.

Baca Juga

AFP

Juventus Tawarkan Chelsea Barter De Ligt Dengan Werner

👤Widhoroso 🕔Jumat 01 Juli 2022, 20:43 WIB
JUVENTUS dilaporkan meminta Timo Werner sebagai bagian dari kesepakatan barter dengan Chelsea yang ngebet mendatangkan Matthijs de...
AFP

Bruno Fernandes Yakin Ronaldo Tidak Akan Tinggalkan Old Trafford

👤Widhoroso 🕔Jumat 01 Juli 2022, 19:55 WIB
GELANDANG Manchester United, Bruno Fernandes meyakini kompatriotnya, Cristiano Ronaldo, akan bertahan di Old Trafford musim panas...
DOK MI

Abel Camara Lengkapi Kuota Pemain Asing Arema FC

👤Widhoroso 🕔Jumat 01 Juli 2022, 18:28 WIB
AREMA FC akhirnya mengumumkan pemain asing terakhir yang direkrut untuk Liga 1 2022-2023. Singo Edan mengontrak penyerang Bissau-Guinea,...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya